Aku harus berpuas hati Arvel hanya mengajakku berjalan-jalan di GI sampai sore lalu mengantarku pulang ke kontrakan. Dia butuh waktunya sendiri bersama keluarga. Aku menghempas badanku pada kasur, meneliti ulang coretan-coretan pada telapak tangan hingga pergelangan tangan kiri. Arvel, pria itu sukar dimengerti. Menjadi perempuan berusia dan menjalani hubungan dengan pria yang berbeda enam tahun darimu, rasa-rasanya aku ingin menyerah. Kurangkah perubahan yang aku usahakan sejak bersamanya? Burukkah aku jika berharap dinikahi? Kembali, satu kalimat paling aku hindari menyusup. Haruskah aku mengakhiri permainan ini? Karena aku semakin tidak yakin ada masa depan bagi kami. Aku terhenyak oleh suara ketukan pintu. Segera aku bangkit menuju satu-satunya pintu masuk kontrakan. “Arvel,” katak

