Kubikel karyawan satu per satu mulai kosong. Jarum jam dinding bergeser pelan ke angka sembilan. Pukul sembilan malam. Tidak banyak yang betah duduk di balik meja sampai jam segini. Aku? Aku masih betah bukan karena pekerjaan yang masih bertumpuk melainkan aku belum kerasan menghabiskan malam di kontrakan baru. Tempatnya nyaman hanya saja aku bukan seseorang yang mudah beradaptasi pada lingkungan baru. Itu saja. Koper-koper sudah rapi aku isi pakaian. Sesuai janjiku pada Raihan, aku menemani Diara selama dia pergi ke luar kota. Lima hari yang aku habiskan dengan belanja dan ke salon, ya kadang kami masak bersama dan menikmatinya sambil menonton drama Korea yang dibawakan bocah konyol. Aku sangsi bocah itu sungguh pemilik DVD ini atau milik sahabat tercintanya. Ah, lupakan! Apa peduliku,

