Kedua pundak Tiara menurun. Agak kecewa karena Farhan tidak tahu siapa nama mantan kekasih Alya yang belum bisa dilupakan. Apa mungkin Jimmy?
"Ya udah, Ti. Buat apa juga kamu pengen tau tentang kehidupan wanita itu," ucap Jasmine. Lalu pandanganya beralih pada Kevin.
"Hm, Sayang, kita pulang sekarang yuk? Kasihan papa, nanti di rumah sendirian," ujar Jasmine mengalihkan pembicaraan Tiara dengan Farhan. Jasmine hanya tidak ingin, perilaku Tiara menyinggung perasaan Jimmy. Semua orang punya masa lalu. Lebih baik fokus pada masa depan.
"Oh ya udah. Kami pulang duluan."
"Farhan, aku pulang duluan. Nitip salam buat kedua orang tuamu."
"Iya, nanti aku sampaikan."
Jasmine tidak ingin terlihat tidak sopan. Biar bagaimana pun, Farhan salah satu temannya waktu masih kuliah dulu.
"Ya udah, Han. Aku juga mau pulang. Terima kasih ya informasinya."
"Iya, Ti."
Akhirnya Tiara memutuskan menyudahi pembicaraannya dengan Farhan tentang Alya. Meskipun hati Tiara masih penasaran, siapa mantan pacar Alya yang tidak bisa dilupakannya?
***
Keempat manusia yang usianya sebaya duduk di salah satu cafe yang terletak tak jauh dari hotel tempat acara pernikahan Leona dan Kenzie. Ternyata sewaktu mereka keluar kamar, Yusuf menahan Melisa agar tidak menyusul pasangan pengantin baru. Namun, di saat itu pula, Leona dan suaminya datang. Mereka bertemu dekat area parkir hotel. Setelahnya, Kenzie mengajak Melisa berbicara di cafe yang terletak tak jauh dari hotel.
"Aku senang banget bisa ketemu kamu lagi, Ken."
Melisa membuka percakapan ketika mereka berempat baru saja menghempaskan b****g di kursi. Leona tersenyum sinis, mendengar ucapan mantan kekasih suaminya.
"Maksud lu, seneng banget bisa ketemu suami orang?" seloroh Leona tak suka dengan pengakuan yang terucap dari bibir wanita berpakaian glamour.
Melisa melirik, raut wajahnya berubah masam. Sedangkan Yusuf dan Kenzie hanya terdiam.
"Kok diem? Mendadak sariawan lu?" sambung Leona membuat hati Melisa tersinggung. Wanita itu berusaha mengabaikan ucapan Leona, dia justru semakin sengaja menatap lekat lelaki yang duduk berhadapan dengannya.
"Ken, sebelumnya aku minta maaf. Dulu, aku gak bermaksud meninggalkanmu begitu aja. Tapi, aku ... aku punya masalah besar."
Ternyata Melisa benar-benar tidak mempedulikan keberadaan Leona. Yusuf tak nyaman melihat situasi seperti ini. Kalau bukan atas permintaan Leona, rasanya ia ingin sekali pergi. Tapi, sebelum masuk cafe, Leona minta pada Yusuf agar tidak boleh meninggalkan mereka bertiga apalagi berdua. Akhirnya mau tidak mau, Yusuf mengikuti perintah Leona.
"Masalah besar apa?" tanya Kenzie membuat Leona menoleh, menatap suaminya dari samping.
Yusuf garuk-garuk kepala tak gatal. Ia benar-benar tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka. Tapi, sebagai sahabat yang baik, ia harus mau menuruti kemauan sahabatnya.
Mungkin kalau Leona belum sah menjadi istri Kenzie, gadis itu tidak akan keberatan jika Kenzie menemui Melisa berdua saja. Tapi, sekarang Kenzie telah sah menjadi suaminya, meski diantara mereka belum ada benih cinta. Oleh karenanya, Leona akan mati-matian mempertahankan rumah tangganya agar tidak dihancurkan wanita lain.
Melisa menoleh pada Leona dan Yusuf, kemudian ia menghela napas berat.
"Maaf, Ken. Aku gak bisa cerita di depan mereka," jawab Melisa merunduk, seolah mencari simpati dari Kenzie.
"Mereka siapa, Mel? Gue sama si Yusuf?" tanya Leona, raut wajahnya benar-benar kesal pada wanita yang sok mencari perhatian pada Kenzie.
Lagi, Melisa tak menjawab pertanyaan Leona. Telinganya seolah tuli, tidak ingin mendengar suara lain selain suara Kenzie.
"Tapi, perasaanku masih sama, Ken. Perasaanku ke kamu gak pernah berubah. Meskipun kita berpisah selama tiga tahun. Semuanya masih sama, Ken. Aku masih sayang kamu, masih cinta kamu, Ken."
Tak tahan, Leona berdiri dan menyiram wajah Melisa dengan jus Jeruk yang berada di depannya. Melisa dan yang lainnya terkejut akan reaksi Leona yang diluar dugaan.
"Najis. Wanita gak tau malu. Lu berani bilang cinta ke suami orang di depan istrinya. Bener-bener gak punya otak. Gak punya urat malu," maki Leona, suaranya sengaja ia keraskan. Para pengunjung cafe menoleh ke arah mereka. Wajah Melisa berantakan. Yusuf langsung memberikan beberapa lembar tissue, membantu Melisa membersihkan tumpahan jus Jeruk di pakaiannya. Leona tidak peduli jika jadi tontonan gratis. Sebagai istri Kenzie, ia merasa Melisa sama sekali tidak menghargainya.
"Leo, tenang dulu. Apa-apaan sih lu?"
Leona melotot pada Kenzie. Ia menggelengkan kepala.
"Apa-apaan? Oh, lu seneng dia bilang masih cinta sama lu? Lu seneng dia bilang masih sayang sama lu? Iya? Dasar peak. Punya otak tuh dipake. Woy, dia udah pergi ninggalin lu selama tiga tahun tanpa kabar berita. Apa lu gak mikir, kalau perginya dia dari dulu, bisa jadi karena dia lagi bunting sama laki lain? Bisa jadi dia nikah diam-diam sama laki lain? Pake otak lu, Ken. Jangan mau dibegoin sama nih cewek. Dia emang cantik, tapi licik. Itu yang perlu lu tau." Jari telunjuk Leona mendorong d**a Kenzie hingga lelaki itu mundur selangkah. Kenzie merunduk, merenungi ucapan istrinya.
Leona semakin geram akan sikap Kenzie yang seperti membela Melisa. Dia tidak akan pernah membiarkan wanita lain berusaha menggoda suaminya.
"Ken, omongan dia gak bener. Aku gak pernah hamil. Apalagi dihamili lelaki lain. Aku juga gak pernah nikah. Ken, aku beneran masih cinta sama kamu. Masih sayang sama kamu. Harusnya kamu nikah sama aku, bukan sama dia! Cewek setengah cowok."
Plak.
Kini, Leona menampar Melisa cukup keras.
"Leona!" pekik Kenzie, kedua matanya melotot, tampak tidak suka dengan perilaku istrinya. Yusuf sendiri terkejut melihat reaksi yang ditunjukkan sahabatnya itu.
"Mulut lu kayak comberan. Lu denger baik-baik, gue bisa ngelakuin lebih dari ini kalau lu masih berusaha bilang kayak gitu di depan gue. Lu sekarang kan tau, kalau gue sama Ken udah nikah. Nih, lu pelototin cincin kita." Leona mengangkat jari Kenzie yang terdapat cincin pernikahan.
"Gue sama Kenzie udah resmi menikah, udah resmi menjadi pasangan suami istri. Dan lu, cuma masa lalu dia. Lu cuma pacarnya. Posisi lu di bawah gue. Jadi, gue sebagai istrinya Kenzie Ivander Khaled, gak akan pernah ngebiarin cewek gatel macem lu buat deketin dia. Gak bakal diem kalau ada wanita lain bilang sayang atau cinta sama dia di depan gue. Kalau lu tetep nekat deketin suami gue, siap-siap masuk penjara atau kalau perlu, lu cuma tinggal nama. Ngerti?"
Sorot mata Leona begitu tajam, memberi ancaman pada wanita yang penampilannya semraut. Melisa menelan saliva, ada rasa takut dalam dirinya. Selama ini Melisa paling takut mendengar kata 'penjara'. Dia takut bernasib sama dengan ibunya, pernah mendekam di dalam bui.
"Sup, lu beresin nih cewek. Gue ama Ken mau honeymoon dulu," ujar Leona menarik tangan suaminya agar keluar dari cafe. Kenzie tak berkutik. Ia memikirkan ucapan Leona. Memang kata-kata yang keluar dari Leona tak sepenuhnya salah, ada benarnya. Untuk apa ia mencari tahu tentang alasan kepergiaan Melisa dulu? Kalau memang Melisa mencintainya, harusnya wanita itu memberi kabar. Apa selama tiga tahun Melisa tidak rindu padanya? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam kepala Kenzie.
"Leo?" panggil Kenzie saat mereka baru saja memasuki halama hotel. Leona berhenti, menghadap Kenzie.
"Apa?"
Leona menatap tajam lelaki yang kini berdiri di depannya.
"Kita mau honeymoon kemana?"
Leona menghela napas, memejamkan mata sejenak, lalu melipat kedua tangan di depan d**a.
"Lu gak perlu tau. Kalau gue kasih tau, nanti lu malah kasih tau si p***k itu."
"Enggak, Le ... gue kan pernah bilang ke lu, gak akan kembali lagi ke dia waktu di depan ruangan ICU. Waktu opa Ben dirawat karena kritis. Gue gak akan pernah kembali lagi ke dia meskipun dia udah kembali. Gue pengen ketemu dia cuma pengen tau alasannya doang. Alasan dia ninggalin gue apa? Ya tapi, dia gak mau kasih tau gue, ya udah."
Leona terdiam. Kedua tangannya diturunkan. Tentu saja ia ingat. Sebelum memutuskan menikah dengan Kenzie, Leona sudah mengajukan beberapa pertanyaan terkait Melisa, yang tak lain mantan kekasih Kenzie.
"Lu yakin gak akan pernah kembali lagi ke dia?"
Kenzie meraih kedua telapak tangan Leona, menggenggamnya seraya menganggukkan kepala.
"Yakin."
"Kenapa?" tantang Leona, tatapannya semakin menusuk.
"Karena udah ada lu. Karena lu udah jadi istri gue."
Leona merunduk, hatinya sedikit terharu mendengar jawaban Kenzie meski tidak sepenuhnya yakin.
"Kita ngobrol di kamar."
"Sambil main-mainan?" Kening Leona mengkerut. "Main-mainan apa?"
Kenzie merangkul pinggang Leona agar lebih dekat dengannya. Mereka pun melanjutkan langkah. Namun, Leona masih menatap wajah suaminya dari samping, menunggu jawaban.
"Ya ... main-mainan. Main kuda-kudaan, main bola, main latto-latto, atau main naik-naik ke puncak gunung," jawab Kenzie tersenyum m***m, mengangkat sebelah alis tebalnya dan mengerlingkan mata. Selang beberapa detik, Leona baru paham.
"Peak, pikiran lu tuh, ya? Gak jauh-jauh dari begituan," ujar Leona menekan kening Kenzie. Kemudian, berjalan lebih dulu meninggalkan pria yang tengah tersenyum m***m.
"Leona, tungguin woy!"