EPILOG

773 Kata

“Kau ada di mana?” Tiago berusaha memilah rerimbunan semak berry liar—berharap segera menemukan hal yang dicarinya. “Baiklah,” katanya pasrah, “aku akan pergi.” “Curang!” seru seorang bocah. Ia memiliki manik mata biru, sementara rambutnya berwarna cokelat gelap. Pipi bocah itu terlihat seranum apel. Keluar dari semak-semak, tampak beberapa helai daun menempel di kepala sang bocah. “Ibu berkata bahwa Ayah akan menemaniku seharian!” “Ylan,” tutur Tiago. Ia mulai menarik satu per satu daun yang tersemat di antara helaian rambut Ylan. “Ayah sudah menepati janji. Jadi, kau pun harus berlaku adil. Bukan begitu?” Kesal, Ylan mengembungkan pipi. “Ayah, aku bosan. Seharian ini aku harus membaca bertumpuk buku,” tekannya, “buku! Dan tak ada satu bahasan pun yang aku sukai.” Tiago tak kuasa mena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN