Aula kebaktian, tempat yang seharusnya digunakan untuk menyucikan penobatan raja baru kerajaan musim dingin. Hari di mana kelopak mawar ditabur, genderang ditabuh dengan sukacita, lalu setiap orang memanjatkan syukur pada Luma, sang dewa kebijaksanaan. Ana duduk bersimpuh, tubuhnya terpaku saat teror mencengkeram. Wanita itu menatap nanar lautan darah yang membaur dengan helaian bulu sehitam jelaga. Teriakan memenuhi ruang dengar; riuh, dipenuhi rasa sakit, dan sengsara. Amarah, ketakutan, kesedihan, serta ketidakberdayaan. Aneka emosi menyatu dan mungkin tiada satu pun yang mampu memilah perasaan yang kini dirasakan. Gagak-gagak bersahutan, seolah mereka mengumandangkan lagu kematian. Gigilan dingin membuat Ana tak mampu memfokuskan diri. Terkadang raungan kematian membuatnya tersadar b

