DUA PULUH

1100 Kata

Tiago menatap lesu Rose yang terbaring di ranjang. Tabib berkata, tak perlu mencemaskan keadaan Rose, kecuali memar di pinggul serta luka gores. Sayang, hal tersebut—penjelasan tabib—sama sekali tak mengurangi kerisauan Tiago. Baginya, melihat Rose tak kunjung membuka mata merupakan siksaan terberat. Pangeran itu berlutut di samping ranjang, mengelus puncak kepala Rose; berharap, kedua manik hijau itu bersedia membalas tatapan Tiago. “Makhluk macam apa yang kaujumpai di sana?” tanya Tiago. Hanya suara napas Rose yang menjawab. Seharusnya Tiago tidak meninggalkan Rose. Andai saja ia bisa bersikap sedikit lebih dewasa, mungkin saat ini Rose akan mencibir kekalahan Tiago; tersenyum masam, berkata bahwa tak ada hal yang bagus dari berburu, dan mungkin Rose akan memuji kehebatan Sacha—mem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN