Tiago ingin menghabiskan malam berbincang bersama Bella. Apa mau dikata, sang tuan putri memiliki jadwalnya sendiri. Tak terbayangkan, Bella berlatih tarian ritual penyambutan Agnis, lalu setelahnya ia diwajibkan menyimak pelajaran tambahan mengenai budaya kaum musim hangat.
Sang pangeran merasa bosan berdiam diri di balkon istana, kedua mata birunya menatap hamparan bintang yang terbentang di angkasa.
Di dunia yang luas ini Tiago berharap saat festival Agnis memilih Bella, bukan yang lain. Tak terbayangkan harus menghabiskan waktu bersama orang asing. Tiago hanya akan menikahi satu wanita sekali seumur hidup. Ia tak ingin meminang selir sebagaimana yang dilakukan Baginda Liam. Mencintai satu wanita sudah lebih dari cukup, tak perlu membagi hati kepada wanita lain. Pernikahan yang didasari rasa memiliki hanya mendatangkan rasa sakit, berbeda dengan hubungan yang diawali dengan rasa saling memberi.
Segalanya butuh proses. Tiago yakin, ia akan bahagia dengan calon pendampingnya.
Angin berembus, menggoyang dahan dan menciptakan bunyi gemerisik.
“Besok,” kata Tiago pada dirinya sendiri. “Segalanya akan dimulai.”
***
Rose ingin pulang.
Alun-alun Helios semarak dengan aneka warna; merah terang, kuning matahari, hijau cerah, dan berbagai warna khas musim hangat. Di sepanjang jalan dihias bunga-bunga matahari, tak lupa warga musim hangat pun menyelipkan untaian bunga aster di depan pintu dan jendela sebagai tolak bala. Denting musik menambah ramai aura kebahagian.
Terima kasih pada Agatha, Rose terpaksa menerima ajakan Noa menikmati festival musim hangat. Bahkan pemuda itu tampak antusias. Noa mengenakan pakaian yang didominasi warna cokelat dan hitam. Senyum secerah cuaca musim hangat tak lekang dari wajah Noa.
Agatha memaksa Rose mengenakan gaun merah muda, warna yang bertolak belakang dengan suasana hati Rose. Rambut cokelatnya dihiasi jepit kupu-kupu biru. Secara keseluruhan Rose terlihat cantik. Beberapa kali Noa merengut mendapati beberapa pemuda menatap Rose dengan pandangan yang bisa diartikan, aku ingin berjalan di samping gadis itu.
Menatap ke langit, Rose dan Noa melihat kerlip aneka warna yang tercipta dari lampion yang disusun berjajar di sepanjang alun-alun. Semua orang saling mengucap syukur dan selamat Hari Agnis. Beberapa wanita dengan keranjang berisi mawar mulai membagi-bagikan bunga tersebut kepada setiap pengunjung. Ketika seorang wanita hendak menawarkan setangkai mawar ungu kepada Rose, ia hanya mengernyitkan kening, tidak suka. Beruntung, Noa mengambil alih mawar tersebut dan mengucapkan terima kasih pada sang wanita.
“Rose,” keluh Noa. “Tak bisakah kau tersenyum di hari yang baik ini?”
Rose melangkah pelan, berhati-hati agar tidak menubruk pejalan lain. “Aku ingin pulang.”
“Kau boleh pulang setelah aku ikut adu bakat.”
Mendengus, Rose mencemooh, “Kau hanya akan membakar panggung.”
Noa tertawa, tidak tertarik mendebat ucapan Rose.
Mereka berdua tak banyak bicara setelah itu, terus melangkah sembari menikmati pemandangan sekitar. Pernak-pernik kaca yang menghias pepohonan oak. Taburan kelopak bunga yang ditebarkan di sepanjang kolam, tawa anak-anak saat beberapa naturalist—manusia dengan bakat alam—memekarkan bunga di permukaan dinding dan patung-patung. Seorang aquatik, manusia pengendali air, mulai menciptakan gelembung. Anak-anak berusaha meraih gelembung yang melayang-layang di udara, sebelum akhirnya gelembung meletus ketika tersentuh kulit manusia.
Pemandangan yang membuat Rose kesal.
Hari ini Luma tengah menguji kesabaran Rose. Tak masalah, Rose akan membuktikan kepada dewa itu bahwa Rose termasuk manusia berjiwa besar. Ia tak akan mengeluh mengenai berkat, untuk saat ini.
Noa mengajak Rose menuju panggung utama. Di sana beberapa orang tengah memamerkan berkat. Artinya, Rose akan menyaksikan manusia-manusia berilmu dewa selama beberapa menit dengan wajah cemberut. Bahkan anak kecil berumur sepuluh tahun saja mampu memunculkan pohon apel dari kehampaan.
Argh, Rose ingin hengkang.
Tak jauh dari panggung, Rose melihat balkon yang kini diisi oleh anggota kerajaan. Raja dan ratu musim hangat tengah menertawakan lelaki yang secara tak sengaja membakar baju kawannya ketika akan melakukan adu bakat. Tak jauh dari raja dan ratu musim hangat, Rose melihat kehadiran sosok asing. Tak perlu indra keenam, sosok-sosok baru tersebut pastilah anggota kerajaan musim dingin. Terlihat dari mahkota yang dikenakan pria dan dua wanita tersebut; mahkota sebening es berbentuk uliran gelombang. Di samping para wanita itu, ada dua orang pemuda berambut perak. Keduanya sangat menawan. Rose tak pernah menjumpai manusia seanggun itu, seolah mereka adalah titisan dewa dengan segala keagungan mereka. Wajah yang terpahat sempurna, tanpa cela, dan tampan.
“Rose,” panggil Noa. “Dilarang selingkuh.”
“Aku?”
“Aku tahu, pangeran musim dingin itu luar biasa tampan. Lihat saja, semua wanita mulai meneteskan air liur. Rose, lap ilermu.”
Rose menyikut Noa, kesal. “Aku tidak ngiler.”
“Oh, ya?”canda Noa, tidak percaya.
Mereka berdua mulai membaur, Noa berniat memasuki panggung dan menantang sang pemenang. Rose hendak menghentikan Noa, namun pemuda itu terlanjur naik ke atas panggung.
Kekurangan Noa: gemar berkelahi.
Harusnya Rose membawa tali untuk menghentikan kegilaan Noa. Telanjur basah, Rose berdoa agar Noa tidak terluka, walau itu mustahil. Masalahnya, pria yang ditantang Noa ukuran tubuhnya dua kali dari Noa. Bahkan kemungkinan Noa tak akan cedera itu pun sepertinya mustahil. Catat, wajah pria itu mirip banteng.
Oh Noa, ratap Rose dalam hati, semoga ia tak mematahkan kedua kakimu.
Kedua orang itu—Noa dan sang pemenang—mulai saling menatap. Noa menerjang maju, sang pria pun memasang kuda-kuda; dadanya membusung, perutnya mengempis, dan ia meniupkan napas api. Para penonton terkesiap, takjub ketika lidah api membungkus Noa. Seorang koordinator acara mulai memanggil petugas penyelamat, berharap bisa menyelamatkan si penantang.
Rose diam tak berkutik, mati rasa.
“Fiuh, lumayan.”
Hening.
Noa selamat. Pemuda itu tak terpengaruh lidah api yang mulai mengelilingi bahu dan pundaknya. Noa merentangkan tangan, seolah api-api tersebut adalah bagian dari dirinya. Api merah mulai meredup, kemudian muncul kembali dengan nyala biru.
Pria tersebut menatap pias pemuda yang kini mengendalikan api.
Menyeringai, Noa bergerak gesit dan langsung menghantam perut lawannya menggunakan sikut. Pria itu melenguh, sakit. Tidak sampai di situ, Noa juga mengarahkan pukulan tepat di bagian belakang leher si pria. Terdengar suara brukk, saat tubuh pria itu membentur lantai panggung.
Noa mengacungkan kedua tangan, senyum kemenangan menghias wajahnya.
Para penonton bersorak, memberikan selamat.
Dalam hati Rose mendengus, “Tukang pamer.”
***
Ini kali pertama Tiago menyaksikan pertarungan yang mencengangkan. Pemuda berambut hitam dengan sorot membara, pangeran itu akan mengingat wajah si penantang.
Duduk dan menonton hiburan, Tiago tak habis pikir dengan kaum musim hangat. Mereka ini—kaum musim hangat—menyenangi adu fisik. Berbeda dengan kaum musim dingin, mereka lebih menyukai pertempuran menggunakan senjata, adu otak menggunakan permainan catur, atau hanya sekadar pamer berkat. Anggun, berkelas, dan tak perlu menumpahkan darah.
Sacha duduk di samping Tiago. Ia pun tak menaruh minat pada pertandingan.
Entah apa yang dipikirkan sang adik tiri, Tiago berharap Sacha tidak merencanakan membekukan seluruh panggung. Setidaknya Tiago akan membiarkan Sacha membekukan panggung setelah Putri Bella melakukan tarian musim hangat; sebuah upacara untuk menyambut kehadiran Agnis dalam wujud burung api.
Panggung telah dibersihkan, tak ada lagi bekas gosong akibat api si pemuda penantang, dan ritual Agnis siap dipentaskan. Berdiri di atas panggung, Putri Bella dalam gaun ritual—gaun dengan potongan yang memamerkan kedua lengan Bella; pita-pita merah mengelilingi pinggang, dan batu rubi menghias bagian d**a serta pinggul—terlihat sangat cantik. Rambut pirangnya dihias jalinan anggrek bulan. Tiago tak bisa mengalihkan pandang. Ia ingin menarik Putri Bella dan memboyongnya ke negeri musim dingin.
Tentu saja, itu bisa terjadi setelah Agnis memilih Putri Bella.
Kembali, senyum menawan tersungging di bibir Tiago.
Sacha mengembuskan napas. Ia benar-benar bosan. Tiago terlalu bodoh untuk menyadari kenyataan bahwa putri musim hangat itu sama sekali tak memiliki ketertarikan terhadap pangeran musim dingin. Andai Luma bersedia menghancurkan fantasi Tiago perihal Putri Bella, mungkin Sacha akan menjadi orang pertama yang menyoraki penderitaan Tiago.
Kembali ke panggung, tampak iring-iringan musik siap memainkan partiturnya. Perlahan, Bella mulai menari diiringi suara harpa dan gendang. Semua hadirin tampak hikmat. Tak seorang pun berbicara ketika Putri Bella menari bagai peri hutan. Cahaya matahari memantul saat menyentuh permukaan batu rubi yang menempel di gaun sang putri. Semua orang terhipnotis, menikmati magis yang ada.
Musik terhenti.
Diam, Putri Bella merentangkan tangan dan mulai berdoa.
Inilah momen yang ditunggu: saat burung-burung api berdatangan dan mengelilingi sang putri.
Hampirilah gadisku, pinta Tiago dalam hati, bawalah ia padaku.
Semilir angin berembus membawa aroma hangat. Aneh, Tiago seolah mengecap manisnya apel dan ia bahkan mencium wangi persik. Seluruh indra perasa Tiago seolah dihidupkan secara bersamaan.
Musim hangat telah tiba … musim dingin menanti.
Tiago mendongak. Terperanjat.
Entah dari mana burung-burung seukuran pipit berdatangan dari berbagai penjuru. Mereka terbang mengelilingi panggung, namun tak jua mendatangi Putri Bella. Percik-percik api berwarna oranye meretas ketika sayap-sayap mungil mengepak.
Semua orang bertanya-tanya, “Mengapa jelmaan Agnis tak mau mendekati Putri Bella?”
Kesal, Tiago ingin membekukan makhluk tersebut karena tak segera menghampiri Putri Bella.
Lalu, burung-burung tersebut melaju dalam kesatuan, mengabaikan Putri Bella dan terbang berputar-putar di sekeliling penonton. Hingga akhirnya mereka menyerbu seorang gadis bermahkotakan iris.
***
Rose bersungut-sungut saat Noa memasangkan mahkota iris, bukti bahwa Noa telah memenangkan adu bakat. Mengesalkan, demi mahkota yang bahkan bisa Rose buat sendiri, para manusia itu saling melukai.
Sadar dengan perengutan Rose, Noa pun berujar, “Kau tahu, ‘kan, sejarah dari mahkota iris?”
Mengangguk, Rose menjelaskan, “Dahulu kala, ada seorang kesatria yang berhasil mengusir kegelapan dari Lumios. Maka Luma pun menumbuhkan iris di sepanjang bentang Lumios sebagai simbol kesucian dan pengabdian.” Jemari Rose mengetuk batang iris. “Entah mengapa, pada akhirnya kalian saling melukai demi mahkota ini?”
“Aku melakukannya demi dirimu.”
Menelan ludah, Rose berpura-pura tak mendengarkan. Pandangannya terfokus ke panggung. Putri Bella mulai menari. Gadis itu terlihat seperti seorang dewi. Lemah gemulai mengikuti aliran musik, tiada cela yang tampak. Putri Bella terlalu jelita jika disebut sebagai manusia sebab tiada manusia secantik Bella.
Rose mengembuskan napas, berharap acara segera selesai dan dia bisa pulang.
Bergelung dalam selimut terasa menggiurkan daripada berdiri di antara kerumunan manusia. Luma, ucap Rose dalam hati, segera selesaikan acara ini. Saat menatap Putri Bella yang kini dalam posisi menengadah, Rose tak sabar menunggu kehadiran burung-burung api yang akan mengentaskan ritual.
Setelah beberapa detik, burung-burung api mulai menampakkan diri. Mereka terbang dan menari-nari, seolah menyambut para manusia yang ada di sana. Semuanya terlihat wajar, hingga burung-burung tersebut tak segera menghampiri Putri Bella.
Resah, orang-orang mulai berbisik memperbincangkan kejanggalan.
Rose hanya menyebik, tidak peduli.
Terdengar suara terkesiap. Rose tak sempat bereaksi ketika puluhan burung terbang menembus kerumunan dan mengahampiri….
Rose?
Respons alami Rose adalah menepis burung-burung tersebut. Ia bahkan tak peduli pada hujatan yang diarahkan padanya. Rose tak menyukai keganjilan ini dan ia pun berjuang mengusir burung-burung api yang kian marak menghampirinya. Manusia yang berada di sekitar Rose mulai menyingkir, memberikan ruang bagi burung-burung tersebut.
“Pergi!” teriak Rose. Tangan Rose berusaha mengusir burung-burung yang ingin hinggap di bahunya.
“Rose,” Noa melarang, “jangan!”
Bukannya mengindahkan saran Noa, Rose panik dan mulai berlari menjauh. Berlari sembari memekik. Rose bingung dengan jumlah burung yang semakin bertambah seolah mereka meneriaki Rose, “Percuma! Kami akan menemukanmu!”
Persetan dengan delusi yang mulai tercipta, Rose berniat menghampiri kolam dan membenamkan diri. Terserah jika burung-burung tersebut berniat ikut serta berendam, dengan catatan mereka akan mati. Belum sampai Rose memasukkan kaki, burung-burung tersebut mulai mencengkeram kerah dan bahu Rose. Makhluk sekecil itu, dalam jumlah banyak, mampu melemahkan Rose.
Tersungkur, Rose menutup wajah dengan tangan. “Pergi!”
Hening.
Rose memberanikan diri membuka mata dan mendapati burung-burung api menunduk padanya.
Pias, Rose menatap satu per satu makhluk menakjubkan milik Agnis. Beberapa ekor burung api yang bertengger di bahu Rose pun mulai bersenandung. Suaranya bagai deru angin yang memerangkap malam-malam kelam di Lumios. Semua burung api menghormat, seolah Rose-lah junjungan mereka, bukan Putri Bella.
Terdengar suara derap langkah kaki. Di hadapan Rose, Raja Alan dan anggota kerajaan menghampiri Rose.
“Nak,” kata Raja Alan. “Terbekatilah dirimu.”