SEMBILAN

1369 Kata
Wintersnow, istana musim dingin. Menara-menara runcing tampak tinggi menjulang dengan panji-panji biru berlambang sayap dan pedang. Istana Wintersnow berdiri gagah dengan bentang alam yang menjadi latar belakang bangunan tersebut. Para penjaga berbaju zirah menjaga tiap sudut, sementara para pelayan mulai mempersiapkan kepulangan keluarga kerajaan. Rose menatap takjub pepohonan dengan bunga-bunga kuning. Tak ada satu daun pun yang menghias pohon tersebut, semua tangkai semarak dengan kuntum-kuntum mungil berwarna kuning. Rose juga melihat keberadaan patung Ise dalam wujud pemuda berbaju perang, terdapat seekor serigala putih yang melingkari salah satu kaki Ise; seolah Ise menyambut kehadiran Rose dan berkata, “Selamat datang di negeri musim dingin, Anakku.” “Indah, bukan?” tanya Tiago yang kini berdiri di samping Rose. Rose tak menjawab, ia hanya mengangguk. “Nah, Nak,” ucap Baginda Liam. “Kau akan menyukai tempat ini.” Di samping kanan dan kiri pria itu ada Permaisuri Amelia dan Selir Ana. Lalu, tak jauh dari sang Selir, berdirilah Sacha. Pangeran itu memiliki paras rupawan yang tak kalah indah dari milik Tiago. Beberapa kali Rose menyadari bahwa Sacha tengah menatap Rose. “Segera,” lanjut sang baginda. “Kita akan mengadakan pesta penyambutan untukmu, calon ibu kerajaan.” Rasa dingin merayapi tenggorokkan Rose. Ibu kerajaan? Jelas, Rose tak memiliki kualifikasi untuk mandat tersebut. Dia hanya seorang gadis biasa yang tak memiliki berkat. Bahkan Baginda Liam mengernyitkan hidung saat Rose berkata ia tak memiliki kemampuan sihir apa pun. Permaisuri Amelia menambahkan, “Pesta meriah. Para bangsawan akan menghadiri acara tersebut. Kuharap, kau tidak akan mengecewakan kami.” Sedari awal Rose sadar: ia memasuki wilayah yang tak diperuntukkan baginya. Andai Rose bisa memutar roda waktu, maka ia akan memilih tak menghadiri festival Agnis. *** Rose sampai di Wintersnow bersamaan dengan sang surya yang mulai menyembunyikan diri di antara keliman langit oranye. Dengan bantuan para pelayan, Rose menanggalkan gaun pengantinnya. Kini Rose mengenakan gaun tidur dari sutra dengan warna bunga pheony yang tampak cerah di kulitnya. Lagi-lagi, Rose terpana menatap ranjang semerah darah dan hiasan yang ada di ruangan tersebut; cermin bersepuh emas, kursi dari kayu oak, lampu kristal yang menggantung di langit-langit, dan segala hal yang ada di sana begitu menakjubkan. Telapak kaki Rose terasa lembut menyentuh hamparan permadani. Hal yang bertolak belakang dengan segala yang Rose miliki di tempat asalnya. Berbagai kenyamanan, kebahagian, dan kemewahan yang terlukis di luar, aslinya hanyalah sebuah kepalsuan yang ditata secara apik. Sesak, Rose tak mungkin kembali pada mereka yang ia sayangi. Tidak pula pada Noa. “Selamat tinggal,” ujar Rose pada dirinya sendiri. *** Langit biru menaungi hamparan bunga yang ada di bawahnya. Bermacam bunga berkumpul dalam satu sapuan keindahan. Rose menghirup aroma lilac dan iris. Membentangkan tangan, Rose mulai berlari mengejar kupu-kupu biru yang menari di sekitar Rose. Rose tertawa, seolah tiada kepedihan yang menyentuh wajah dunia. Di sini, di taman surga, Rose merasakan hangatnya sinar surya. Telapak kakinya menapak karpet rumput yang terbentang di bawahnya, sementara telinga Rose dibuai oleh nyanyian burung bulbul. Tiada apa pun. Hanya Rose…. Seorang diri…. Mendongak, Rose memejamkan mata. Rose membiarkan hujan kelopak mawar menyentuh wajahnya. Helaian kelopak mawar terasa lembut, mengecup wajah Rose dengan rahmat dan berkat. Hingga Rose merasa seseorang tengah merengkuhnya dari belakang. Rose meronta namun ia tak memiliki daya. Tubuh Rose diselimuti oleh kuasa hitam. Perlahan-lahan, Rose pun tenggelam. *** Sentuhan itu membangunkan Rose. Ia merasa seseorang tengah memeluknya dan memberikan kecupan singkat di bahu dan leher Rose. Takut, Rose membalikkan badan dan mendapati pangeran itu menatap Rose. Ia ingin berteriak meminta tolong, namun Tiago langsung membekap mulut Rose—menggagalkan usaha Rose. “Jangan coba,” Tiago mengancam. Nanar, Rose merasakan panas yang menyengat kedua matanya. Setelah yakin Rose tidak akan berteriak, Tiago menarik tangan. “Ka-kau,” ucap Rose terbata. “Apa yang kaulakukan di sini?” Wajah mereka hanya terpisah dalam hitungan senti, Rose bahkan bisa menghidu aroma tubuh Tiago. “Kenapa kau—” “Kau istriku,” potong Tiago. “Lagi pula, ini kamarku.” “Istri yang tak kauharapkan,” koreksi Rose. “Enyah.” “Kau lupa?” Jemari Tiago mulai menyusuri pelipis Rose, merasakan desir panas di bawah permukaan kulit Rose. “Jika aku membiarkanmu bertemu dengan si bocah api, maka kau akan menyerahkan dirimu padaku?” Kau boleh menyuruhku. Kau boleh menyakitiku. Kau bahkan boleh membunuhku. Silakan, aku tidak peduli. Tapi sebelum itu, izinkan aku menemuinya. Hawa dingin menyergap, Rose menatap horor manik mata Tiago. “Iblis,” desis Rose. Terkekeh, Tiago berkata, “Dan kau peri bunga yang terperangkap di penjara sang iblis.” Tiago menunduk, mengurangi jarak di antara mereka. “Kau yang berjanji, maka kau pun harus menepatinya.” “Tidak,” tolak Rose. “Kau tahu siapa yang ada di hatiku. Tak seharusnya kau memaksakan kehendakmu padaku.” Tiago membenamkan wajah di lekuk leher Rose. “Kau tahu.” Embusan napas Tiago terasa hangat. Rose berjengit, mencoba membebaskan diri walau mustahil. Jemari Rose mencengkeram bagian depan baju Tiago, berharap pangeran itu segera menjauh. “Aku berubah pikiran.” Menarik diri, Tiago melihat keterkejutan di wajah Rose. “Aku mulai menyukaimu,” kata Tiago. “Bohong.” “Yah, aku bisa belajar mencintai. Jika itu bisa membuatmu senang.” Menggeleng, Rose menolak, “Tak seorang pun bisa menggantikan Noa. Terlebih kau.” Menyeringai, Tiago merasa tertantang. “Bagaimana jika aku bisa menggeser si bocah api?” Diam. Rose tidak mengerti. “Segala hal berubah,” tutur Tiago sehalus beledu. Ujung jemarinya mulai menyusuri leher dan garis selangka Rose. “Kau milikku. Tubuhmu. Benakmu. Jiwamu.” Tiago menunjuk jantung Rose. “Termasuk hatimu.” Menggigit bibir, Rose menampik, “Salah. Meski tubuh dan jiwa ini bisa kaugelapkan; mengambil kasih yang menjadi milikku dan menggantinya dengan hal yang keji. Ketahuilah, kau tak bisa memiliki hatiku.” “Benarkah?” “Untuk apa aku berdusta? Sekarang, menyingkirlah.” Tak peduli pada makian yang Rose lontarkan, Tiago memilih untuk berlama-lama memandang raut jengkel istrinya. Siapa yang mengira bahwa gadis itu terlihat manis ketika marah? “Jika ia mencintaimu,” Tiago bertanya, “lalu, mengapa ia menyerahkanmu kepadaku?” Seolah ada belati yang menikam Rose, sakit. Ia kembali diingatkan pada bayangan Noa; saat pemuda itu menolak permintaan Rose, saat Noa hanya berdiri tanpa mampu menghapus derai air mata Rose, hingga saat terakhir ketika Rose memutuskan melepaskan Noa. “Lihat, kau pun tak bisa menjawabnya.” “Pergi,” erang Rose. Ia mencoba mendorong Tiago, namun pria itu tetap bergeming bagai benteng kokoh—Rose tak berdaya di bawah rengkuhan sang pangeran. “Jangan menyentuhku.” Panik, Rose berusaha mencakar wajah Tiago. “Jangan coba.” Tiago mencengkeram pergelangan tangan Rose. Ia mengecup pergelangan tangan Rose, lengan, selangka, lalu berakhir di telinga Rose. “Kau lemah,” bisiknya. “Terlalu lemah.” Tidak. Rose tak boleh menyerah. Ia harus melakukan sesuatu. Tiago menarik dagu Rose, ia berniat mencium dan merasakan manisnya bibir sang pengantin. Akan tetapi…. Rose meletakkan tangan tepat di depan bibirnya—menutup rapat dengan jemari dan tak membiarkan bibir Tiago mendekat barang sesenti pun. Terkekeh, Tiago merasa terhibur. “Kau benar-benar keras kepala.” “Pergi,” perintah Rose. Beruntung, setidaknya tangan kanannya menyelamatkan ciuman pertama Rose. Tak terbayangkan jika Rose harus kehilangan momen berharga itu. Oh, tentu saja Rose akan melindungi dirinya walau harus menggigit pangeran itu sampai mati. Rose tidak peduli. “Jika aku menolak?” “Aku akan mengutukmu,” umpat Rose. “Demi Luma, aku bersunguh-sungguh. Aku bahkan tidak peduli jika mereka akan me—” Ucapan Rose terhenti saat bibir Tiago mengecup permukaan tangan Rose, tepat di depan wajahnya. Mata biru itu menatap tajam, siap mengoyak jiwa dan benak Rose. Rasa panas pun menjalar, Rose merasa sesak. Tidak, ia tak boleh lengah. Tiago menarik diri, membiarkan Rose beringsut menjauh. “Nah, aku hanya bercanda.” Bercanda? Pangeran itu benar-benar … Rose ingin melempar sesuatu. “Kau?” pekiknya. “Apa maksudmu?” Mengedikkan bahu, Tiago beralasan, “Main-main.” Kemudian pangeran itu merebahkan diri tepat di samping Rose, seolah tidak terjadi insiden apa pun di antara mereka berdua. “Omong-omong, kau harus membiasakan diri tidur seranjang denganku. Atau kalau kau jengkel, kau bisa tidur di luar.” Memejamkan mata, Tiago mengabaikan keluhan Rose. Pangeran itu memilih melarikan diri ke alam mimpi, sementara Rose hanya bisa menggeram jengkel. Sangat menyebalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN