Bab 6 – Rahasia yang Tersembunyi

1118 Kata
Langit sore mulai berubah jingga ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong belakang rumah keluarga Arsenio. Gadis itu, yang selama ini dikenal hanya sebagai pelayan baru, tampak terburu-buru berjalan menuju dapur sambil membawa nampan kosong. Namun siapa sangka, langkah cepatnya tak hanya sekadar karena tugas. Ada sesuatu yang sedang dia hindari. “Hey, kamu!” suara tajam menghentikan langkahnya. Tuan muda Arsenio berdiri di ambang pintu perpustakaan, dengan kemeja yang dilonggarkan dan rambut sedikit berantakan seolah baru saja melepaskan diri dari ketegangan. Gadis itu menunduk refleks. “Maaf, Tuan…” “Berhenti memanggilku seperti itu,” gumamnya, mendekat. “Aku tahu kamu bukan sekadar pelayan biasa.” Tatapan mata mereka bertemu. Hangat tapi penuh teka-teki. Gadis itu menggigit bibirnya. “Saya… tidak mengerti maksud Anda.” “Oh, jangan pura-pura. Aku melihatmu kemarin di ruang kerja Ayahku. Kau membuka berkas yang bahkan sekretaris pribadi beliau pun tak boleh sentuh.” Tubuh sang gadis menegang. Wajahnya pucat. Sejenak dia tampak kehilangan kata. “Aku hanya membersihkan,” jawabnya akhirnya. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. “Dengan mengenakan sarung tangan kulit dan membuka berkas rahasia?” Tuan muda mendekat. “Kamu kira aku tidak memperhatikan?” Keheningan menggantung di antara mereka. “Aku tak tahu apa yang kamu cari,” lanjutnya. “Tapi jika kamu menyembunyikan sesuatu… aku ingin tahu.” Sang gadis mundur satu langkah. “Saya tidak akan mengganggu urusan Anda. Saya hanya ingin bekerja dan pergi…” “Kau tidak bisa begitu saja pergi setelah mencuri informasi keluarga Arsenio.” Kata-katanya menusuk. Mata sang gadis berkaca. Tapi kemudian, dia mendongak. Wajah lembutnya kini berubah tegas. “Kalau begitu… bunuh saya sekarang. Karena saya tidak bisa menyerahkan rahasia itu pada siapa pun.” Tuan muda terkejut. Nafasnya tercekat. “Apa maksudmu…?” Gadis itu membalikkan badan, bersiap pergi. Tapi sebelum sempat melangkah, tangan Arsenio menangkap lengannya. “Siapa kamu sebenarnya?” “Bukan siapa-siapa,” balas gadis itu, lirih. Malam tiba dengan cepat. Di dalam kamarnya, Arsenio duduk di depan meja kerja, tatapan kosong menatap layar laptop. Bayangan wajah pelayan itu terus menghantuinya. Ucapan terakhirnya, ekspresi putus asa namun penuh tekad semuanya membuatnya gelisah. Ia menekan tombol play pada rekaman CCTV rahasia di ruang kerja ayahnya. Matanya menyipit saat mendapati sosok gadis itu membuka brankas dengan kombinasi angka yang bahkan dia sendiri tak tahu. “Mustahil…” gumamnya. “Bagaimana dia tahu angka itu?” Ia mengetik cepat, melacak riwayat data keluarga. Tapi nama gadis itu, yang terdaftar sebagai 'Alena', ternyata tidak memiliki identitas lengkap. Tidak ada akta lahir, tidak ada catatan sekolah, bahkan tak terdata dalam sistem resmi. “Orang bayangan…” bisiknya. Keesokan harinya, Alena sedang menyiram tanaman di taman belakang saat Tuan muda muncul diam-diam. Ia berdiri di balik pohon, memperhatikannya beberapa saat. Rambut coklatnya berkibar tertiup angin, dan matanya yang sendu seperti menyimpan kisah puluhan tahun. “Alena,” panggilnya. Gadis itu menoleh, lalu buru-buru menunduk. “Tenang saja. Aku tidak akan marah,” ujarnya sambil mendekat. Alena menggenggam selang air di tangannya erat-erat. “Apa yang Anda inginkan?” “Aku ingin membantu,” jawabnya jujur. “Kenapa?” tanyanya, tak percaya. “Karena aku tahu, kamu terjebak dalam sesuatu yang lebih besar dari ini. Dan aku bisa merasakannya… kamu bukan gadis jahat.” Alena menggigit bibirnya, lalu perlahan berkata, “Saya tidak bisa bicara banyak. Tapi… jika kamu benar-benar ingin tahu siapa saya, kamu harus berani menyelam lebih dalam ke dunia yang bahkan ayahmu pun tak berani sentuh.” Arsenio terpaku. “Apa hubungan semua ini dengan ayahku?” Alena menatapnya. Dalam. “Lebih dekat dari yang kamu kira.” Malam itu, rahasia pun mulai terbuka. Di balik lemari tua di ruang kerja tua Arsenio Senior, Alena menunjukkan sebuah laci tersembunyi. Di dalamnya terdapat setumpuk surat, peta, dan satu foto tua—seorang wanita muda yang sangat mirip Alena… tapi mengenakan gaun formal khas tahun 90-an. “Itu… ibumu?” tanya Arsenio. “Bukan,” jawab Alena. “Itu… ibuku.” Wajah Arsenio berubah. “Tunggu. Jadi… kau…” “Ya. Aku anak dari wanita yang pernah dihancurkan oleh keluarga Arsenio.” Jantungnya berdegup kencang. “Ayahku… menghancurkan hidupmu?” tanyanya pelan. Alena mengangguk. “Tapi aku tidak ke sini untuk balas dendam. Aku ke sini untuk mencari kebenaran.” Arsenio menatapnya dalam diam. Ada bagian dari dirinya yang ingin menyangkal semuanya. Tapi ada juga bagian lain… yang mulai memahami. “Aku akan membantumu,” bisiknya akhirnya. “Apa pun yang terjadi.” Mereka tak tahu, dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikan. Dan dalam bayang-bayang rumah besar keluarga Arsenio, sebuah rencana gelap mulai berjalan. Alena menutup laci rahasia itu perlahan, seolah menyembunyikan masa lalu yang begitu rapuh. Cahaya lampu gantung menerpa wajahnya yang dipenuhi perasaan campur aduk—takut, lega, sekaligus cemas. Arsenio masih menatap foto wanita itu, wanita yang begitu mirip dengan Alena. “Dia… ibumu. Dan kau datang untuk mencari kebenaran. Tapi kenapa menyamar sebagai pelayan?” Alena duduk di kursi tua yang terletak di sudut ruangan. “Karena aku tahu, tak ada cara lain untuk bisa masuk ke rumah ini tanpa mencurigakan siapa pun. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari petunjuk. Dan satu-satunya jalan adalah masuk ke dalam, melihat langsung dari dekat.” “Tapi kau tahu ini berbahaya. Kalau Ayah tahu…” “Aku tidak peduli,” potong Alena cepat, suaranya terdengar bergetar. “Aku tidak bisa terus hidup tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku. Dia menghilang saat aku kecil. Satu-satunya jejaknya adalah surat terakhir yang dikirimkan dari kota ini. Dan di dalam surat itu… dia menyebut nama keluarga Arsenio.” Arsenio menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Hatinya bergejolak—antara rasa bersalah, kebingungan, dan simpati yang makin mendalam pada gadis di depannya. “Aku tidak percaya ayahku sanggup melakukan hal seperti itu,” katanya, nyaris berbisik. “Percaya atau tidak, aku juga tidak ingin semua ini benar,” ucap Alena lirih. “Tapi kenyataannya terlalu nyata untuk diabaikan.” Arsenio berjalan pelan ke jendela, menatap ke luar. Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar samar dari kejauhan, seperti nyanyian alam yang menambah ketegangan suasana. “Tapi kenapa sekarang? Kenapa tidak dari dulu?” tanyanya. “Aku butuh waktu. Butuh keberanian. Dan juga bukti,” jawab Alena. “Sekarang, setelah aku tahu letak berkas itu, aku hampir menyusunnya utuh. Tapi aku butuh bantuan.” Tatapan mereka bertemu lagi. “Aku akan membantumu,” kata Arsenio dengan mantap. “Tak peduli seburuk apa pun kebenarannya… aku ingin tahu juga. Aku ingin tahu siapa sebenarnya keluargaku.” Untuk pertama kalinya malam itu, Alena menatapnya tanpa rasa takut. “Terima kasih.” Dan dalam keheningan ruangan tua itu, untuk sesaat, dua hati yang selama ini bertentangan mulai berdetak seirama. Bukan karena latar belakang mereka, melainkan karena keinginan yang sama mencari kebenaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN