BAB 2 – Luka yang Tak Terlihat

1414 Kata
Ayla berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya polos tanpa riasan, namun sorot matanya menyimpan cerita yang lebih dalam dari yang terlihat. Ia mengelus liontin yang tergantung di lehernya. Hari ini, ia berencana membuka langkah pertama dari misinya. Tapi tidak sebagai gadis biasa. Tidak sebagai pelayan. Sebagai seseorang yang ingin tahu kebenaran. Sementara itu, Leonard sedang duduk di ruang kerjanya, menatap layar tablet dengan raut serius. Laporan dari Aryo, asistennya, belum datang. Itu membuatnya gelisah. "Kenapa data tentang gadis itu begitu sulit ditemukan?" gumamnya. "Seolah dia bukan siapa-siapa… atau terlalu pandai bersembunyi." Ia memejamkan mata sejenak, mengingat kembali percakapan terakhir mereka di taman. "Saya suka mengingat hal-hal yang tak bisa saya sentuh." "Seperti mimpi?" "Seperti rumah." Jawaban itu terus terngiang. Ada luka di balik suara lembut Ayla. Luka yang belum sembuh. Luka yang tak terlihat. Hari itu, Leonard mendapat tamu penting: rekan bisnis dari luar negeri. Ia memutuskan untuk menggelar makan malam tertutup di kediamannya. "Pastikan semua staf siap. Khusus pelayan bagian dalam, kau tugaskan Ayla," perintah Leonard pada kepala pelayan. "Baik, Tuan. Tapi dia masih baru" "Aku percaya dia bisa." Malamnya, ruang makan utama diterangi lampu kristal yang menggantung megah. Para tamu berdatangan, mengenakan jas dan gaun mahal. Ayla berdiri tenang di sudut ruangan, membawa nampan dengan anggun. Saat matanya menatap Leonard yang sedang berbicara dengan tamu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Kenapa pria itu bisa bersikap begitu percaya diri di tengah segalanya, sementara keluarganya… menghancurkan hidup orang lain? Tiba-tiba, salah satu tamu seorang pria paruh baya menjatuhkan gelasnya ke lantai. Ayla segera mendekat, memunguti pecahan kaca tanpa mengganggu jalannya acara. Namun saat ia bangkit, matanya bertemu dengan tatapan tajam pria itu. “Nama kamu siapa?” tanya pria itu. Ayla sedikit gugup. “Ayla, Tuan.” Pria itu menatapnya lebih lama, lalu mendekat sedikit. “Kau mirip seseorang yang kukenal. Tapi mungkin hanya perasaanku.” Leonard memperhatikan dari jauh. Sorot matanya berubah tajam. Setelah makan malam selesai, Leonard memanggil Ayla ke ruang kerjanya. “Kau kenal pria yang tadi menjatuhkan gelas?” Ayla menggeleng. “Tidak, Tuan.” “Dia menatapmu seperti mengenalmu. Apa kau yakin tidak pernah bertemu dengannya?” “Yakin,” jawab Ayla, tenang. Leonard mendekat, berdiri hanya satu langkah dari wajahnya. “Kalau begitu kenapa kau tampak gugup?” Ayla menelan ludah. “Karena saya tidak suka diperhatikan.” Diam. Leonard menatapnya dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangan. “Mulai besok, kau tak perlu melayani tamu lagi. Aku tidak ingin siapa pun memandangmu seperti itu.” “Kenapa?” Leonard menoleh. “Karena kau sekarang tanggung jawabku.” Ayla tercekat. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena nada suaranya. Untuk pertama kalinya, Leonard bicara seolah bukan sebagai majikan. Tapi sebagai pria. Malam itu, Ayla menulis di buku catatan kecil miliknya: Hari ke-15 di rumah Adinegara. Aku makin dekat. Tapi… aku juga mulai takut. Tidak pada mereka. Tapi pada diriku sendiri. Aku mulai melihat dia… sebagai manusia. Dan itu berbahaya. Beberapa hari kemudian, Ayla diundang menghadiri jamuan makan kecil keluarga Adinegara karena kinerja baiknya. Leonard yang meminta langsung. Itu mengejutkan semua pelayan tak ada pelayan yang pernah ikut jamuan keluarga sebelumnya. Saat Ayla masuk ke ruang makan pribadi, ia merasa gugup. Ia mengenakan dress hitam sederhana, rambut dikuncir setengah. “Silakan duduk,” kata Leonard, menarik kursi untuknya. “Kau tamu hari ini.” Ayla ragu, tapi duduk. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya masuk. Anggun, berwibawa, dan… sinis. “Dia pelayan?” tanya wanita itu, yang ternyata adalah Madam Prananda, ibu Leonard. “Dia tamuku,” jawab Leonard. Madam Prananda menatap Ayla sejenak. “Kau mirip seseorang yang ayahmu kenal dulu.” Jantung Ayla mencelos. Tapi ia tetap tersenyum sopan. “Saya sering dikira mirip orang lain, Madam.” Madam Prananda tertawa kecil. “Mungkin.” Tapi Ayla tahu, wanita itu tidak berbicara sembarangan. Dan jika dugaannya benar… maka ia sudah tidak punya waktu lama. Malam hari, Leonard mendapati Ayla sedang duduk sendirian di taman belakang lagi. Seperti biasa. “Apa kau selalu ke sini saat gelisah?” tanyanya sambil duduk di sampingnya. Ayla mengangguk. “Saya suka malam. Karena semua terlihat sama.” “Maksudmu?” “Tidak ada yang tahu siapa yang kaya, siapa yang miskin. Semua hanya bayangan.” Leonard tersenyum tipis. “Itu pemikiran menarik.” Ayla menatapnya. “Tuan Leonard.” “Ya?” “Apa kau pernah… kehilangan sesuatu yang tak bisa dikembalikan?” Leonard terdiam lama, lalu berkata pelan, “Pernah. Ibuku. Dan kepercayaan.” “Maaf…” “Tidak perlu. Tapi kau tahu? Aku merasa, jika seseorang cukup sabar, luka pun bisa sembuh. Meski butuh waktu.” Ayla menatap matanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat lelaki itu tidak sedang menjadi CEO, tidak sedang menyembunyikan perintah, tidak sedang menjaga gengsi. Ia sedang menjadi seseorang yang juga terluka. Dan di saat yang sama… ia merasa bersalah. Karena dia datang ke rumah ini bukan untuk menyembuhkan luka. Tapi untuk membuka kembali luka lama keluarga ini dan menghancurkannya dari dalam. Ayla belum bergerak dari tempat duduknya bahkan setelah Leonard kembali ke dalam rumah. Matanya menatap langit malam yang tertutup awan, seolah mencari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Kepercayaan. Satu kata yang diucapkan Leonard tadi terus terngiang di kepalanya. Ia datang ke rumah ini dengan satu tujuan: membalas dendam. Tapi perlahan, tujuan itu kabur tenggelam di balik kebingungan dan perasaan yang tak semestinya tumbuh. Bahkan lebih buruk, kini ia mulai mempercayai pria itu. Dan itu… berbahaya. Keesokan paginya, Ayla bangun lebih awal dari biasanya. Ia memandangi wajahnya di cermin. Matanya tampak lelah, tapi tekadnya tetap menyala. Tidak. Jangan goyah. Jangan biarkan perasaan merusak tujuan. Ia membuka kembali map merah tua yang selama ini ia sembunyikan di bawah laci kamarnya. Di dalamnya, terdapat dokumen lama: salinan surat perjanjian tanah, foto hitam putih ayahnya bersama seorang pria lain—yang tak lain adalah Raditya Adinegara, ayah Leonard. Dulu, ayah Ayla adalah rekan bisnis kecil yang ditipu habis-habisan oleh keluarga Adinegara. Rumahnya disita, ibunya jatuh sakit, dan Ayla... kehilangan masa kecilnya. Semua dimulai dari keluarga itu. Dan kini dia berada di tengah-tengah mereka. Hari itu, Leonard memanggil Ayla ke ruang kerja untuk membantunya menyusun dokumen investasi. “Duduk di sini,” katanya sambil menunjuk kursi di sebelah meja. Ayla duduk dengan tenang. Tangannya terampil menyusun berkas demi berkas. Leonard memperhatikannya sesekali. “Dari mana kau belajar semua ini?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen. “Saya dulu suka membantu ayah saya menghitung laporan bengkel kecil kami,” jawab Ayla, setengah jujur. “Bengkel? Tapi cara kerjamu seperti asisten eksekutif.” Ayla hanya tersenyum. “Mungkin saya hanya cepat belajar.” Leonard terdiam sejenak. “Aku pernah kehilangan kepercayaan karena terlalu percaya orang yang salah.” Ayla menoleh. “Dan sekarang?” Leonard menatap langsung ke matanya. “Sekarang... aku mulai percaya lagi. Tapi kali ini, pada seseorang yang bahkan tak mau menyebut nama aslinya.” Deg. Jantung Ayla bergetar. Leonard berdiri, berjalan ke sisi meja. Ia menyandarkan diri pada tepi meja, menyilangkan tangan. “Aku tidak akan memaksamu bicara. Tapi aku ingin tahu satu hal,” katanya pelan. “Apakah kau datang ke rumah ini karena sesuatu yang lebih dari sekadar mencari pekerjaan?” Ayla membeku. Kalimat itu… hampir seperti tuduhan. Tapi nadanya lembut. Seperti permohonan. Ia menunduk. “Saya tidak tahu harus menjawab apa, Tuan.” Leonard mendekat satu langkah. “Kalau begitu, cukup jawab ini: kau akan tetap di sini, kan?” Ayla mengangkat wajahnya perlahan. “Ya, saya akan tetap di sini.” Jawaban itu setengah jujur. Karena kebenarannya, ia akan tetap tinggal… sampai kebenaran terungkap. Malam itu, Ayla tak bisa tidur. Ia memutuskan berjalan ke ruang kerja untuk mengambil buku catatannya yang tertinggal. Namun saat ia membuka pintu, ia terkejut. Leonard ada di sana. “Maaf, saya kira ruangan ini kosong,” katanya gugup. Leonard menoleh. “Kau boleh masuk. Aku juga tidak bisa tidur.” Ayla ragu sejenak, lalu masuk. Ia mengambil buku catatannya, hendak pergi, tapi Leonard menahan langkahnya. “Kau tahu kenapa aku tidak bisa tidur?” tanyanya pelan. Ayla menatapnya. “Kenapa?” “Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya kumiliki.” Ayla terdiam. “Kau,” lanjut Leonard. “Kau datang tanpa nama. Tapi justru membuatku merasa paling dikenali.” Diam. “Kalau kau ingin pergi suatu saat nanti, beritahu aku dulu. Jangan menghilang seperti malam itu di tengah hujan.” Ayla hampir menangis. Tapi ia tahan. Ia hanya berkata pelan, “Saya tidak akan pergi… belum.” Dan Leonard tak tahu, bahwa satu kata itu mengandung dua makna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN