BAB 20 - Hantu Kenangan di Dinding Kos Tua

1295 Kata
Yiven terbaring kaku. Sudah berjam-jam ia memandangi langit-langit kamarnya yang mewah. Wajah Maria dan Nayla terus berputar di seluruh sudut otaknya, dan begitu mengaburkan logikanya, meremukkan kewarasannya, dan membuatnya gelisah. Yiven memejamkan mata, lagi-lagi wajah itu muncul. Kali ini bukan wajah Nayla yang penuh ketakutan memandangnya di rumah sakit, melainkan wajah Maria yang putus asa, dari potongan kenangan sembilan tahun silam. Yiven akhirnya bangkit, berjalan ke jendela, dan menyingkap tirai tebal. Ia tidak mencari pemandangan pagi; ia mencari bayangan masa lalu yang menempel di retinanya. Ingatan itu membawanya kembali ke tahun tahun ketiga kuliahnya, saat arogansi dan keangkuhan adalah mantel yang paling sering ia kenakan. Yiven ingat, ia berdiri di rooftop Fakultas Teknik, sendirian. Siang itu, ia baru saja menerima taruhan dari Andre. Taruhan untuk meniduri Maria Christie dalam sebulan. Sebuah taruhan kotor. Yiven menerima taruhan itu, bukan untuk kepuasan pribadi, melainkan sebagai tameng. Ia tidak ingin melihat teman-temannya yang b******n itu menyentuh Maria. Yiven memilih menjadi pemangsa tunggal, menanggung dosa itu sendiri. Dan malam itu, secara kebetulan, seperti ada benang takdir yang menuntunnya, ia melihat Maria. Ia berdiri di ambang maut. Maria yang berdiri di tepi pembatas gedung, terlihat ringkih, seperti sehelai kertas tipis yang siap dirobek oleh angin malam yang dingin, bisa dihempas puluhan meter ke bawah dengan mudahnya. Rambutnya yang panjang bergerak liar, tetapi tubuhnya berdiri kaku, menolak untuk melawan udara yang mencoba mendorongnya. Matanya seolah dua sumur yang mengering, sudah tak mampu lagi mengeluarkan air mata, hanya menyisakan pantulan dingin dari lampu-lampu kota yang seolah tak peduli. Sosoknya adalah perwujudan dari kekecewaan, keputusasaan dan kerelaan untuk menerima nasib. Detik itu, di detik ia melihat jiwa yang sudah memutuskan untuk menyerah, itu... Yiven tidak bisa menemukan urgensi lain, selain menyelamatkan Maria! Yiven menerjangnya. Saat ia menangkap pinggang Maria dan menariknya, terasa seperti ia sedang menarik jangkar terakhir yang mencoba menahan kapal karam. Tubuh Maria yang kaku, seperti ranting yang siap patah, roboh begitu saja ke arah Yiven. Kehangatan d**a Yiven, melepaskan gelombang kejut saat tiba-tiba berbenturan dengan tubuh Maria yang dingin. Mereka jatuh ke lantai semen dengan suara nyaring. Saat menyadari kehangatan dua lengan asing yang mendekapnya, Maria berteriak histeris. Sebuah teriakan yang keluar dari keputusasaan yang sudah mencapai ambang batas. Ia melawan dengan sisa tenaga yang ia miliki, mencoba kembali ke bibir gedung. Tepi gedung yang terasa seperti satu-satunya realitas, dan hal yang paling benar untuk dilakukannya sekarang. Yiven mendekapnya semakin erat. Peluknya itu kemudian memecahkan tangis, mengalirkan luapan air mata di mata Maria. Namun tangis itu tak terasa meringankan, karena setiap isak lirih memberi perih yang baru untuk luka-luka Maria. Tak bisa dihambat. Tak bisa dihentikan. Yiven dapat merasakan keberadaan gadis ini yang seperti meluruh dan semakin jauh dalam pelukannya. Yiven, mengabaikan tangisan dan tubuh Maria yang memberontak, berujar pelan di puncak kepala gadis itu. "Nyawa yang mau kau buang ini... akan kuambil alih. Aku yang akan menjaganya. Kau tidak berhak mengakhiri apa pun tanpa izinku..." Sejak detik itu, Yiven tahu, taruhan itu tidak lagi tentang kemenangan di mata teman-temannya. Itu telah menjadi obsesi pribadi yang gelap dan posesif. Setelah malam di atap itu, Yiven tidak bisa lagi mengabaikan Maria. Ia tak lagi melihatnya sebagai target taruhan, melainkan sebagai sebuah kotak Pandora yang telah ia selamatkan, dan kini hanya ia yang berhak atas isinya. Langkah pertama Yiven sangat terencana, dan jauh dari logis. Ia, pewaris grup Mahendra yang tinggal di rumah mewah bak istana, diam-diam menyewa kamar kos di sebuah bangunan kos tua, jauh dari kampus. Itu adalah kamar yang kumuh, berdebu, dan sangat kontras dengan hidupnya. Itu adalah kamar kos yang tepat bersebelahan dengan kamar kos Maria. Dengan tembok tipis sebagai satu-satunya pemisah, Yiven memulai perburuannya. Ia mendengarkan suara isak tangis Maria di malam hari, mencium aroma sabun murah yang Maria gunakan, dan mengamati setiap langkahnya dari balik pintu. Ia tidak mendekatinya secara langsung; ia menjadi bayangan, penjaga, dan penyuruk yang selalu ada di balik dinding. Setelah tiga minggu mengamati, Yiven akhirnya sadar betul mengapa Maria memilih ujung gedung sebagai solusi. Yiven yang beberapa kali menyusup ke kelas Maria dengan dalih mencari teman sefakultas, melihat bagaimana gadis itu diabaikan, dicemooh, dan dimaki. Bukan karena kesalahannya sendiri, melainkan karena keburukan yang dilekatkan pada dirinya. Yiven mendengar bisik-bisik kejam yang tersebar di seluruh kampus: bahwa ibu Maria seorang p*****r. Maria dihukum oleh aib yang bukan miliknya. Setiap langkahnya dipenuhi tatapan sinis, seolah ia membawa wabah. Bahkan pernah, Yiven menyelamatkan Maria yang basah kuyup di kamar mandi umum fakultas setelah dipermainkan dan dikunci oleh geng cewek jahat. Keadaan tubuh Maria yang menggigil, dipenuhi air kotor, dan gemetar ketakutan masih terbayang jelas di retinanya, sebuah sketsa penderitaan yang tak terhapuskan. Yiven bahkan tidak ingat siapa cewek-cewek jahat itu—wajah mereka tidak penting. Yiven hanya ingat ia buru-buru membuka jaketnya yang mahal, menyelimuti Maria yang ringkih itu, dan melemparkan pandangan sinis yang otomatis membuat para wanita itu ketakutan dan kabur. Otoritas seorang Mahendra selalu bekerja, walaupun Maria masihlah Maria. Wanita yang hanya diam seribu kata walaupun Yiven telah beberapa Minggu mengikutinya kemana-mana. Yiven ingat beberapa hari kemudian, suatu malam, ​Maria menangis begitu keras. Yiven tidak tahan hanya mendengarkan; hal itu membuatnya merasa seperti dihalangi dari harta miliknya. Didorong oleh kebutuhan yang mendesak untuk mengetahui, Yiven keluar dari kamarnya dan duduk di lantai koridor, menyender di pintu kamar Maria, membiarkan punggungnya menjadi penyangga diam bagi kesedihan gadis itu. Ia menahan napas, mencoba menangkap setiap kata, setiap tarikan napas Maria yang tersendat, seolah pintu itu hanyalah lapisan tipis kaca. Ia berdiri di sana, menguping, mencuri kesedihan Maria sebagai miliknya sendiri. Yiven duduk di sana sampai lewat tengah malam, sampai suara tangis itu mereda dan hanya menyisakan keheningan kos yang dingin. ​Setelah suara tangis itu berhenti, Yiven bangkit. Ia pergi ke dapur kos umum, membuat segelas teh manis panas, lalu meletakkannya di depan pintu kamar Maria. Ia mengetuk pintu itu dua kali, ringan, lalu buru-buru masuk ke dalam kamarnya sendiri. ​Yiven menunggu di balik pintu, jantungnya berdetak tidak karuan, sampai beberapa detik kemudian, ia mendengar kenop pintu Maria diputar pelan. Ia mengintip dari celah gorden di sebelah pintu kamarnya. Lantai yang tadi dihiasi gelas teh itu sudah kosong. Gelas itu sudah tiada. Yiven tersenyum kecil melihatnya. Obsesi posesifnya lahir dari kedekatan yang menakutkan itu. Yiven ingin memahami kerentanan Maria, memetakan setiap retakan di jiwanya. Ia merasa menjadi satu-satunya yang berhak atas kesedihan Maria, atas napas Maria, atas keberadaan Maria. Itu adalah cinta yang didominasi oleh obsesi dan rasa ingin memiliki, bukan rasa sayang yang tulus. Saat itu, Yiven tidak ingin Maria bahagia; Yiven ingin Maria bergantung sepenuhnya padanya, agar ia tidak pernah lagi berpikir untuk melompat dari tepi gedung, karena Maria adalah objek utama taruhannya, karena Maria adalah miliknya. Namun, ketika Maria kemudian mulai berubah, mulai berbicara dengannya, mulai memandangnya dengan mata berbinar, mulai membuka hati untuknya, Yiven sadar, ia lebih menginginkan wanita itu tersenyum dibandingkan menangis. Haahh.... Yiven menghela napas berat. Kilasan ingatan tentang kamar kos yang bersebelahan itu tiba-tiba terputus, seperti film yang putus di tengah adegan puncak. Yiven kembali ke kenyataan. Ia melihat ke luar jendela, masih berdiri di balik tirai kamarnya yang luas. Garis cahaya keemasan menyentuh cakrawala, menandakan hari sudah pagi. Yiven mengerjap, matanya terasa perih karena kurang tidur. Ia sudah mencapai batasnya, dengan berjuang semalaman... Berperang dengan kenangan Maria, dan Fakta tentang Nayla, yang tiada akhir memenuhi otaknya. Perutnya berbunyi, jeritan yang tulus dan jujur, menuntut di tengah kekacauan emosi. Yiven tersadar, ia harus makan. Ia mengenakan bathrobe panjang dan berjalan turun ke lantai bawah. Saat menuruni tangga spiral marmer yang megah, Yiven menarik napas dalam. Kontras antara kamar kos yang kumuh, tempat lahirnya obsesi gilanya, dengan rumah mewah yang ia tinggali sekarang terasa menyakitkan. Ia akan bergabung dengan keluarganya untuk sarapan, menampilkan sosok Dokter Jantung yang dibanggakan keluarganya. Untuk sementara, ia harus meninggalkan Nayla/Maria dan obsesinya sejenak di balik pintu kamar yang tertutup rapat. .....................................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN