“Minum air saja Nayla. Daritadi kenapa kamu cuma menenggak alkohol saja, sih?”
Nayla mengerjap sebentar, lalu menerima uluran air mineral dari tangan Vina.
Karena tidak berselera, Steak tadi memang hampir tidak ada yang masuk ke mulutnya.
Ia hanya sesekali menyesap wine yang disediakan di meja, untuk menghindari interaksi dengan orang lain.
Akibatnya, perutnya yang kosong dan terus-menerus diisi alkohol, kini melilit. Rasa sakit itu terus menekan ulu hatinya dengan perasaan mual yang tidak bisa ditahan.
“Aku… Mau ke toilet sebentar.” Nayla buru-buru bangkit dan berjalan keluar ruangan, sambil membekap mulutnya.
Satu kesalahan kecil saja, ia yakin bisa memuntahkan hampir seluruh isi perutnya.
Tak lama, setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Nayla terdiam sebentar di depan pintu toilet sambil memegang keningnya yang agak pusing.
Jam berapa ini? Sepertinya aku sudah harus pulang…
Niat awal, kakinya hendak melangkah kembali ke ruangan tadi, tapi saat Nayla mendapati ada pintu kayu kecil yang sepertinya adalah pintu menuju beranda balkon lantai dua gedung ini, ia malah melangkah kesana.
Nayla mendorong pintu kayu itu dan keluar ke teras untuk menghirup udara malam yang segar. Ia butuh udara segar untuk memfokuskan lagi kepalanya yang mulai pening karena efek minuman keras.
Nayla memandang ke sekitar beranda sambil berjalan menuju bibir balkon. Beranda balkon ini tidak terlalu luas, sepertinya hanya tiga puluh meter persegi.
Tetapi pemilik restoran ini mendekorasinya begitu indah, dengan menanami bunga warna-warni yang cantik di beberapa pot kecil.
Nayla tersenyum saat melihat bunga baby breath favoritnya tumbuh lebat di salah satu pot.
Cukup beberapa menit, setelah merasa tubuhnya cukup segar, Nayla berbalik dan hendak kembali ke bagian dalam gedung.
Saat tangannya sudah menempel di pintu kayu, dari jendela kaca kecil di pintu, terlihat ada seorang lelaki yang berjarak sekitar tiga meter dari pintu, sedang membelakangi pintu kayu sambil mengeluarkan rokok dari saku celananya.
Nayla menghentikan gerakannya saat merasa familiar dengan punggung itu. Sebuah lonceng alarm berdentang keras di tengkoraknya.
Punggung itu—kekar, tinggi, dengan cara berdiri yang sombong—ia merasa mengenalinya lebih baik dari dirinya sendiri.
Saat Nayla sedang sibuk mengira-ngira siapa orang tersebut, mendadak pintu berayun terbuka dengan satu gerakan cepat, membuat tubuhnya yang masih menempel di daun pintu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk ke depan.
Nayla sempat memekik sebelum terjatuh di lantai marmer yang dingin. Seketika ia mematung.
Sampai dua-tiga detik kemudian Nayla tersadar kembali, dan langsung mendongak. Matanya membelalak kaget. Terpaku pada sosok jangkung yang berdiri tegap di hadapannya.
Sial. Yiven?!
........................................……
Senin malam. Seperti yang dijanjikan Yiven dengan ibunya, malam ini ia terpaksa memenuhi janji makan malam dengan salah satu wanita yang dipilih ibunya.
Tidak ada yang berkesan, sejak Yiven memasuki restoran ini, bertemu wanita itu, sampai makan malam bersamanya.
Merasa bosan, Yiven ijin ke toilet sebentar, walaupun niatnya adalah memantik rokoknya di dekat toilet, lalu masuk kembali setelah habis sebatang atau dua batang rokok.
Di dekat toilet, Yiven mengeluarkan rokok dari saku celananya.
Namun sial, korek api gas yang selalu ia bawa tidak bisa ia temukan di mana pun. Saku celana, saku jas. Semua saku sudah ia cari dan hasilnya nihil.
Merasa jengkel, Yiven mengusap wajah dengan kedua tangan. Ia kini harus memaksa dirinya untuk kembali ke ruang makan yang telah ia reservasi tadi. Namun, Yiven menghentikan langkahnya saat melihat pintu teras.
Awalnya Yiven hanya tertarik untuk mampir melihat-lihat sebentar, tetapi saat melihat sesosok wanita yang berdiri di balik jendela kaca pintu teras, membuat Yiven mematung.
Yiven mengunci sosok yang sedang melamun menatap lantai itu, dalam fokusnya. Tidak ada yang terlewat. Jarak sependek itu bukan tandingan untuk ketajaman kedua manik matanya.
Yiven menarik napas panjang. Mengisi paru–parunya yang seperti tak sanggup bekerja karena sesaknya rasa penasaran yang menghimpit.
Demi Tuhan sebenarnya bagaimana bisa? Bagaimana bisa wanita itu terlihat sama persis dengan wajah kekasihnya yang telah lama tiada?
Ketika akhirnya Yiven memberanikan diri menarik gagang pintu, pintu itu memunculkan bunyi keras seolah membentur sesuatu, disusul pekikan seorang wanita. Kemudian ia melihat wanita itu, wanita dengan rambut coklat sepunggung yang begitu mirip dengan orang yang ia rindukan, tersungkur di lantai di hadapannya sambil merintih pelan.
“Astaga, maaf! Mari saya bantu berdiri.” Yiven buru-buru menunduk dan mengulurkan tangan, mencoba membantu wanita itu berdiri.
Namun wanita itu hanya diam membeku. Belum sadar dari keterkejutannya.
“Ehm. Boleh saya bantu berdiri?” Yiven bertanya lagi sambil mengibaskan satu tangannya di hadapan wajah wanita itu.
Wanita itu mengerjap, kemudian buru-buru berdiri tanpa menerima uluran tangan Yiven.
Setelah berdiri pun, wanita itu hanya menunduk ke bawah.
Entah apa yang ia lihat di bawah sana, karena pandangannya menerawang. Tidak pada fokusnya.
“Maaf.. Sepertinya anda terjatuh karena saya.”
Wanita itu, Nayla Jeneva, menggeleng cepat dan menggoyangkan tangannya.
“Tidak-tidak, saya yang salah sudah berdiri di pintu.” Nayla tersenyum kaku sambil mengangguk lalu buru-buru berjalan melewati celah sempit yang tersisa di sebelah kanan Yiven untuk kembali ke bagian dalam gedung.
“Bagaimana kabar anak anda? Fiona kan, namanya?” Yiven tiba-tiba membuka percakapan. Padahal Nayla sudah berjalan pergi.
Nayla terdiam kaget sedetik, lalu membalikan tubuhnya menghadap Yiven, sambil menatap panik.
“Kabar anak saya?!” tanyanya cepat. Terlalu cepat dan terlalu keras sampai Yiven mengangkat alisnya, heran.
Ia bahkan dapat melihat kecepatan denyar panik di mata Nayla, yang coba disembunyikan wanita itu. Tidak ada orang normal yang bereaksi begitu dahsyat hanya karena satu pertanyaan kecil dan lumrah seperti ini.
“Di-dia... ba-baik,” Ujar Nayla gugup, sambil menunjukan senyum bengkok di bibirnya.
Yiven hampir saja tidak bisa menahan bibirnya yang ingin tersenyum geli. Ekspresi panik dan gugup wanita itu, membuat Yiven ingin berbincang lebih lama.
“Kebetulan sudah bertemu, saya ingin minta maaf atas kejadian sebelumnya. Sepertinya saya salah mengenali orang. Maaf kalau membuat anda tidak nyaman.” Ujar Yiven pelan sambil menunjukkan senyum paling menawannya.
Wanita itu menggoyangkan tangannya lagi.
“Tidak apa-apa, Dokter. Saya juga sudah dibantu dokter agar tidak jatuh, waktu itu.” Katanya cepat. Lalu ketika ia melihat Yiven membuka mulut seolah hendak mengatakan sesuatu lagi, Nayla cepat–cepat membungkuk sopan, membalikan tubuhnya, kemudian masuk ke salah satu ruang makan.
Astaga. Bila mata Yiven tak salah menangkap, wanita itu bahkan hampir setengah berlari! Yiven mengatupkan mulutnya. Menahan tawa geli. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang mengancurkannya, karena mengingat Maria. Satu sensasi baru yang menggelitik, muncul dari dalam dirinya saat ia berbincang dengan wanita itu barusan.
Yiven membuang puntung rokok yang kini hancur karena diremasnya dengan gugup tadi, ke lantai. Matanya masih belum beralih dari pintu yang sudah menelan Nayla masuk.
Yiven mengusap tengkuknya.
Ia menyadari sudah membuat suasana aneh diantara mereka, karena pertemuan pertama mereka di rumah sakit waktu itu, yang berakhir canggung.
Namun aneh. Baik saat itu, atau pun barusan, ia merasa wanita itu tak menyukainya.
Atau… malah takut?
Yiven tersenyum kecil mengingat blouse atasan putih yang dipakai Nayla barusan.
Blouse bertangan panjang yang dipadukan dengan rok panjang sampai bawah lutut begitu cocok dipakai olehnya.
Dulu, Maria juga selalu memakai baju-baju panjang sepanjang yang ia ingat. Maria selalu memakai pakaian tertutup, karena tidak ingin dianggap murahan sebab banyak rumor buruk terkait asal usulnya.
Saat itu Yiven sangat menyukai Maria yang seperti itu.
Karena berarti, kulit putih bersih di balik baju-baju panjang itu, hanya diperlihatkan kepada dirinya.
Yiven menutup matanya yang mengelam sejenak, saat mengingat Maria.
Oh iya. Anak wanita itu pasien dokter Heri, kan?
Yiven terdiam saat tiba–tiba tubuhnya terasa menggigil. Sekarang wanita yang mengingatkan pada Maria, yang selama ini mati-matian berusaha ia lupakan untuk melanjutkan hidup itu, pasti akan sering ditemuinya di rumah sakit, kan?
Lampu-lampu gantung kecil, berwarna kuning cerah yang ditempel di atas plafon tempatnya berdiri, tiba–tiba berwarna hitam, dan seakan runtuh satu per satu menimpanya mengingat sosok Nayla.
Apakah ia bisa hidup tenang, jika terus-menerus bertemu dan memandang wajah Nayla?
................................