"Untuk apa kau ke rumah sakit?" tanya Glen saat Akiko baru saja sampai di depan gedung apartemen. Ternyata pria itu sudah menunggunya karena dia paham bahwa gadis itu pasti tidak tau password apartemen, sementara Akiko berpikir pasti Glen habis memata-matai sehingga bisa tau dia habis menemui laki-laki.
"Kau yang menyakiti aku, kenapa malah bertanya?" sahutan ketus dari Akiko membuat Glen terkekeh pelan, ia tersenyum menyeringai sambil melingkarkan tangannya di pinggul Akiko agar berjalan mengikutinya.
"Angkuh juga kau ternyata," gumam Glen berpikir mungkin semua keluarga Eloise memiliki sifat angkuh seperti Akiko, dia bahkan tidak bergeming sedikitpun ketika tangan kekar itu mengusap pinggulnya secara sensual.
"Kau bertemu kekasihmu, iya, 'kan?" Glen merasa curiga pada Vian, dokter yang Akiko temui beberapa saat lalu.
"Bukan," jawab Akiko seadanya.
"Lalu siapa dia? Kenapa kalian terlihat sangat dekat?" tanya Glen lagi.
"Dokter biasa," jawab Akiko lagi kali ini sambil mencuci tangan, sementara pria di sampingnya hanya mengangguk paham walau masih belum puas dengan jawaban dari gadis itu. Namun, mau bagaimana lagi? Gadis itu bahkan sangat acuh dalam menjawab berbagai pertanyaannya.
"Aku lapar, masaklah sesuatu," titah Glen sembari duduk di sofa ruang utama. Karena apartemen Glen bertema open space jadi dia bisa melihat ke dapur, ruang tamu, mini bar, dan juga beberapa ruang lain kecuali kamar karena tentunya kamar memiliki pintu sebagai privasi.
"Tunggu, lepaskan ini," pintanya saat Akiko ingin pergi ke dapur sambil menunjuk dasi. Akhirnya, Akiko beranjak ke sofa dan melepaskan dasi Glen terlebih dahulu. Pria berambut gelap itu menatap bingung, apakah Akiko tidak punya rasa gugup sama sekali saat melakukan tugas? Karena biasanya para wanita akan tersipu malu jika berdekatan dengannya.
Cantik, pikirnya saat diam-diam mengamati Akiko. Rugi sekali Mr. Eloise melepaskan anak gadisnya yang cantik ini hanya demi menutupi hutang. Pasti Akiko bisa membuat perusahaan Mr. Eloise naik jika dijaga dengan benar karena pesona dan prestasinya yang tak kalah tinggi.
Glen sendiri bisa atau kalau Akiko bukan tipe gadis yang banyak mau atau pun pemilih, hanya saja gadis itu terlihat sendu dengan pandangannya yang selalu kosong seolah tidak peduli pada sekitar. Sungguh, Mr. Eloise sangat bodoh karena sudah melepaskan harta berharga miliknya.
"Makan yang banyak, aku tidak suka tubuhmu kurus seperti itu," tekan Glen sehingga disambut dengan anggukan pasrah dari Akiko. Namun, dia tidak melihat adanya bahan masakan tersedia di kulkas yang hanya berisi alkohol dan minuman kaleng dengan berbagai macam merk.
"Aku lupa belanja, ambil ini dan segera kembali," Glen memberikan sejumlah uang pada Akiko. Akhirnya, gadis itu segera melenggang pergi daripada membuang waktu.
"Password apartemen, 12345678." Begitulah pesan yang masuk dari Glen. Karena punya kesempatan keluar, Akiko memutuskan untuk sekalian belanja saja untuk kebutuhan pribadi. Dia tidak makan banyak, jadi hanya membeli kopi dan s**u untuk sarapan. Yang paling penting dia harus membeli stok makanan Kouma karena dia tidak tahu kapan lagi bisa keluar dari apartemen Glen dengan bebas.
Sebenarnya, Glen memberikan uang dengan jumlah banyak. Namun, Akiko merasa tidak punya hak untuk menggunakan uang itu demi keperluan pribadinya. Alhasil dia hanya belanja bahan makanan pokok dengan uang Glen, sementara keperluan miliknya beda lagi.
Akiko segera pulang setelah selesai belanja, kedatangannya disambut oleh Glen yang sedang minum alkohol sambil merokok dengan santai. Pria itu mendekati Akiko, mengamati belanjaan lumayan banyak yang tergeletak di meja.
"Kemari," pinta Glen sehingga Akiko berjalan mendekat. "Untuk siapa ini?"
Pria itu menunjukkan sebungkus permen yang Akiko beli. "Aku membelinya dengan uangku sendiri," jelas Akiko khawatir Glen marah karena salah paham.
Akiko berniat mengambil permen itu dari tangan Glen, tapi pria bertubuh kekar itu justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi seolah mempermainkannya. Tiba-tiba Glen mencium bibirnya singkat, lalu tersenyum.
"Entah kenapa … aku suka sekali menciummu."
"Karena kau m***m," sahut Akiko tegas, ia langsung menyerah karena tidak bisa mengambil permen itu karena perbedaan tubuh mereka cukup besar. Glen langsung menarik kembali pinggul gadis itu ketika ingin pergi.
"Diam," tegas Glen, lalu mengangkat tubuh Akiko dengan mudahnya untuk duduk di sandaran sofa. "Buka mulutmu."
Akiko yang tidak peduli, dia langsung mengikuti perintah Glen sampai akhirnya tubuh Akiko membeku saat Glen memberikan permen lewat mulut, lalu melumat permen dan bibir Akiko secara bersamaan. Setelah puas Glen justru terkekeh pelan melihat wajah polos Akiko , bahkan menggigit pipi Akiko karena gemas.
"Ini," Akiko bereaksi normal sambil memberikan sisa uang belanja.
"Simpan saja," ujar Glen karena dia tidak suka membawa pecahan uang. Melihat Akiko yang melenggang pergi dengan acuh untuk masak, Glen jadi semakin penasaran. Apakah Akiko benar-benar tidak merasakan gugup saat berada di dekatnya? Bahkan dengan ciuman tadi Akiko tidak bereaksi apapun.
"Nanti malam ikut aku untuk menemui tamu penting, berdandanlah agar lawan bicaramu terkesan," ujar Glen di sela-sela kesibukan Akiko di dapur.
"Kenapa aku? Tamu itu datang untuk menemuimu," bingung Akiko bertanya-tanya siapakah orang yang akan mereka temui sampai dia harus berdandan rapi. Dia baru saja tinggal bersama Glen jadi tidak tahu apa saja kegiatan pria itu.
"Kenapa? Karena kau harus menuruti perintahku. Bukan begitu, Aiko?" tanya Glen dengan senyuman miring khas.
"Oke," jawab Akiko singkat, sifat acuh itu membuat Glen kembali merasa marah dan aneh secara bersamaan.
"Aku tidak suka sifat angkuhmu itu, Aiko…," desis Glen sambil meneguk alkohol, lalu berjalan mendekati Akiko di dapur.
"Sorry," ucap Akiko pelan.
"Minum," Glen memberikan gelas alkohol miliknya.
"No, aku tidak minum alkohol," tegas Akiko.
"Oh … sepertinya kau gadis polos, hah? Aku jadi ingin memakanmu," bisik Glen sensual, kemudian membiarkan Akiko menyelesaikan tugas masaknya terlebih dahulu karena selama ini Akiko makan seadanya jadi dia tidak begitu pandai masak, hanya bergantung beberapa skill basic saja.
"Itu kamarmu, anjing kesayanganmu juga ada di sana." Akhirnya, Akiko bisa punya waktu sendiri di kamar dingin dengan kasur tipis di ujung ruangan, bahkan Kouma juga nampak tidak menyukainya kamar itu.
"Kouma," lirih Akiko, kemudian memberikan makan dan minum seperti biasa.
Baru saja duduk, Akiko langsung terdiam karena mimisan kembali muncul. Darah itu menetes dengan bebaskan ke pakaian sehingga dia harus cepat-cepat mandi. Saat sedang menata pakaian, Akiko menemukan sebuah surat dari Dokter beberapa waktu lalu.
"Leukemia Myeloid akut."
Itulah penyakit yang diderita Akiko selama ini, tapi baru diketahui beberapa bulan akhir-akhir ini karena dia adalah gadis yang sangat acuh, bahkan pada kesehatannya sendiri. Penyakit yang biasa disebut kanker darah itu kini semakin membuat tubuhnya melemah, apalagi kanker yang dideritanya sudah masuk tahap akut, alias parah. Walau masih ada kesempatan sembuh, tapi jika didiamkan saja tentunya akan lebih cepat menggerogoti tubuhnya.
Padahal Vian sebagai Dokter spesialis kanker sudah berusaha sebaik mungkin untuk membantu Akiko, tapi kembali lagi pada kepribadian Akiko yang sudah tidak mau berusaha. Dia tidak mau hidup lama dengan merasakan sakit tiada henti. Sejak dulu dia disiksa oleh papa dan mamanya, bergelut dengan penyakit mematikan, dan kini harus menjadi tawanan seorang pria kejam.
Namun, hebatnya Akiko masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik. Sebelumnya memang dia ingin ikut pengobatan, tapi sekarang dia sudah pasrah karena hidupnya ada di tangan Glen. Vian sudah menawarkan diri ingin membiayai pengobatan Akiko dan tentunya dia tolak. Setidaknya dia tidak mau menjadi beban untuk orang lain di waktu-waktu terakhir hidup.
"Aiko," panggil Glen sembari membuka pintu kamar Akiko begitu saja. Gadis berambut pendek itu menyimpan kembali surat dari dokter dengan tenang, menata pakaian lalu berdiri menghampiri Glen.
"What?" sahut Akiko yang sebenarnya merasa kesal dengan panggilan 'Aiko'. Mungkin Glen tidak tau kalau Aiko itu berarti ‘Orang yang dicintai’ dalam bahasa Jepang. Sementara Akiko merasa sangat jauh dari makna tersebut.
Glen mengamati Akiko dari atas sampai bawah, gadis itu nampak mempesona dalam balutan dress panjang warna hitam yang membuatnya merasa puas dengan keputusan dress pilihan Akiko.
"Ayo, kita berangkat. Tunjukkan sifat angkuhmu itu nanti, okay?" ujar Glen membuat Akiko penasaran siapakah orang yang akan mereka temui?