Menikmati Malam

1053 Kata
"Kamu makan ya, Tik." Jujung sudah seperti orang tua yang menyuruh anaknya makan saja. Ia terus memaksaku untuk makan di kafe ini. Mana bisa? Nafsu makanku hilang walau perutku masih terus terasa lapar karena memang sedari siang aku belum makan apa-apa. "Aku panggilin mbaknya, ya. Kamu mau pesan apa?" "Nggak usah. Aku bisa makan sendiri nanti pas di kost. Nggak perlu makan di sini," jawabku dengan ketus. Sementara Jujung hanya menghela napasnya. Beberapa detik setelahnya, Jujung memulai obrolan baru, yang justru membuatku merasa tidak berselera untuk menanggapinya. "Tugas Pak Seno, kamu udah selesai, Tik?" tanyanya. Memang di beberapa kelas yang sama, jika ada tugas, seringnya kami bekerja dan berdiskusi bersama. Tetapi rasanya sangat tidak pas membahas tugas kuliah malam-malam begini. "Aku nggak mau bahas tugas Pak Seno atau tugas kuliah apapun itu, Jung." Jujung menghirup napas. Ia terlihat pasrah karena serba salah sejak tadi. Ya salah siapa, Jujung lama-lama memang menyebalkan walau sampai sekarang aku masih sayang. "Della gimana, kenapa dia hari ini nggak masuk?" tanyaku kemudian yang langsung membahas Della. Karena pembahasan malam ini juga tidak jauh-jauh dari perjodohan Jujung dan Della. Sepertinya memang setiap aku bertemu dengan Jujung, yang dibahas memang tentang perjodohan ini. "Katanya nggak enak badan," jawab Jujung singkat. Aku tidak terkejut. Entah kenapa aku jadi tidak peduli kepada Della. Padahal, dahulu jika perempuan itu tidak masuk, aku adalah orang pertama yang akan menelfon dirinya dan khawatir padanya. Tetapi, sekarang ini kekhawatiranku telah hilang. "Oh," kataku singkat. Kutengok jam yang ada di ponselku dan sekarang sudah hampir pukul sembilan, padahal minuman yang dipesan Jujung belum datang. Sebenarnya aku sudah tidak ingin mengobrolkan apapun lagi dengan Jujung. Aku sudah terlalu lelah dengan perdebatan kecil yang sempat terjadi di antara kami berdua. Padahal, rencananya aku ingin membicarakan tentang bagaimana kami akan memperjuangkan hubungan ini. Tetapi, mau bagaimana lagi, aku rasa malam ini cukup sampai di sini. Mungkin bisa dilanjut besok lagi. "Kayaknya aku mau pulang duluan ya, Jung," kataku kemudian. "Loh kenapa? Bahkan kita belum ngobrol, Tik." "Ya karena sedari tadi yang ada kamu sama aku cuma berdebat aja. Nggak ada habisnya, Jung." Jujung menghela napas. Tangannya kembali meraba dan menggengam tanganku. "Aku antar ya," katanya. Ia menatapku penuh harap agar aku tidak menolaknya. Mengapa dia harus mengantarku pulang ketika dia tidak mau menjemputku? Aku menggeleng. "Enggak usah. Bahkan kafe ini nggak jauh dari rumah kost aku. Aku bisa jalan pulang sendirian, Jung," kataku yang menolak tawarannya. Sebenarnya aku sedang menyindir dirinya karena memang setiap hari ketika kami ingin ke kafe, Jujung lah yang selalu menjemputku. "Tapi udah malam, Tik." Senyumku sedikit tersungging. "Baru juga jam sembilan." "Aku antar ya." Jujung masih memaksa. Aku menggeleng lagi. "Buat apa?" Jujung terdiam. "Buat apa kamu mau antar aku pulang?" Aku pun mengulangi pertanyaanku dan terbukti Jujung tidak bisa menjawab. "Tik ...." "Jung, bahkan lebih baik kalau kamu nggak usah antar aku pulang, nggak usah nawarin buat antar aku pulang. Tahu kenapa?" Nada bicaraku cukup tinggi. Mungkin orang-orang sudah mengalihkan perhatiannya pada kami berdua. Jujung yang ada di sampingku itu masih diam saja. "Kalau kamu mau tahu, aku pengennya dijemput sama kamu buat datang ke sini. Tapi tadi, kamu malah minta langsung ketemuan aja di sana. Ini bukan kamu banget, Jung." "Aku cuma pengen kita paham-" Ucapan Jujung terpotong olehku. "Paham kalau kita sudah enggak ada hubungan jadi kamu udah nggak mau jemput aku?" "Tik." "Apa selama ini aku selalu manja minta kamu buat jemput aku ya, Jung? Bukannya selama ini kamu yang sering nawarin buat jemput dan antar aku pulang?" Aku sudah kehilangan kata-kata. Aku diam sembari menyeruput sisa es tehku sampai benar-benar habis. Sementara Jujung hanya menatapku tanpa tahu apa yang akan laki-laki itu lakukan selanjutnya. Setelah kuseruput es tehku, aku juga masih diam. Kami diam. Hening di antara kami berdua walau ada suara lagu yang didendangkan oleh sang penyanyi di atas panggung live musik. Tak berselang lama, tiba-tiba saja bibirku terasa hangat. Aku yang tadinya diam untuk mengontrol emosiku, kini dibuat membulatkan mata sebab benda empuk yang hangat telah mengecup bibirku. Jujung menciumku. Aku membeku. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain menatap Jujung dengan penuh tanda tanya. Jujung juga masih diam, tidak memberikan penjelasan atas apa yang baru saja ia lakukan. Butuh beberapa detik atau bahkan sampai satu menit sampai akhirnya Jujung kembali mendekatkan wajahnya kepadaku. Bukan, dia bukan ingin menciumku untuk yang kedua kalinya. Tetapi, ia ingin menegaskan sesuatu kepadaku. Sebelum ia mengucapkan kata-katanya, Jujung kembali menggenggam kedua tanganku. "Titik. Kalau itu mau kamu, ayo kita berjuang bareng-bareng buat batalin pertunangan ini. Kalau kamu mau berjuang, aku bisa temani kamu. Asal kamu jangan berjuang sendirian. Aku tahu aku salah karena aku udah minta kita berjuang buat jalan sendiri-sendiri aja. Tetapi aku tetap nggak bisa kalau nggak sama kamu, Tik. Kalau mau berjuang, ayo kita mulai, Tik," kata Jujung yang cukup panjang. Laki-laki itu menatapku dengan penuh keyakinan. Selain jantungku yang bergetar, pikiraku pun bergejolak. Aku tidak siap dengan ucapan ini. Entah mengapa aku yang sejak awal ingin kami berjuang, tetapi sekarang malah merasa seperti ini menghancurkam pertunangan seseorang. "Maksud kamu, kamu mau batalin pertunangan kamu yang tinggal minggu depan?" tanyaku. Jujung mengangguk. "Iya, Tik." "Tapi gimana sama keluarga kamu? Keluarga Della?" Baru kali ini aku menanyakan perihal itu. "Kamu mau bantu aku bilang sama keluarga aku?" tanyanya. Aku memang sudah pernah pergi ke rumah Jujung. Tetapi untuk bertemu keluarganya aku belum pernah mengobrol dengan intens. Apalagi untuk kali ini, apakah aku harus datang dengan tiba-tiba dan meminta mereka membatalkan acara pertunangan itu? "Tik, kamu ragu?" tanya Jujung. Aku menggeleng. "Enggak." Walau sebenarnya aku tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi untuk memperjuangkan cinta kami, sebenarnya aku tidak pernah ragu, hanya tidak mengerti saja harus dimulai dari mana. Hal itu lah yang membuatku sedikit bingung. Jujung pun tersenyum. Senyuman yang lebar walau aku tahu itu bukan senyumannya yang biasanya. Tetapi aku sudah bersyukur jika Jujung bisa melebarkan senyumnya untukku. "Mau keliling kota sama aku sekarang? Sambil habisin malam ini berdua aja, aku sama kamu." Dan setelah hampir dua pekan aku di berada di ambang kegalauan, malam ini untuk pertama kalinya aku bisa memeluk Jujung dari belakang sembari menikmati angin malam yang sejuk menerpa permukaan kulitku. Malam ini cukup berat. Dimulai dengan perdebatanku dengan Jujung, lalu diakhiri dengan kami yang seperti kembali merasakan sensasi jatuh cinta, berkeliling kota bersama, hanya berdua saja. Walau rasanya, tak akan pernah sama seperti sebelum-sebelumnya. Tapi aku tetap menikmatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN