"Sayang, kita sudah empat bulan menikah?" ujar Sonya tengah sibuk membuat buritto sebagai kudapan malam untuk Nevan. Nevan yang menghabiskan minggu sorenya di ruang kerja, berhenti sejenak ketika akan mengambil air minum. "Ya, kenapa? Kau merasa tidak enak badan? Mual? Pusing?" Sonya mendengkus mendengarnya. Seolah gejala-gejala yang diucapkan Nevan mengarah pada sesuatu yang lain. "Katamu dulu, setelah kita menikah, Mas Nevan berjanji akan membawaku mengunjungi tujuh keajaiban dunia." Mana yang akan menolak jika akan diajak memgunjungi Tembok Besar di China, Taj Mahal di India, sampai Colosseum di Itali. Nevan mengulum senyuman. Ia meletakkan gelasnya, beralih memeluk Sonya dari belakang. "Ternyata ingatan istriku sangat tajam, jika menyangkut janji ya." Sonya berdecak. Tangannya ma

