Chapter 5

1421 Kata
''Hari ini cuma pembacaan naskah bukan?'' tanya Sonya yang duduk di atas mobil van menuju salah satu gedung studio pembuatan film. Di sana ia akan bertemu dengan para pemeran film lain, produser, sutradara hingga kru produksi film lainnya. Farah berbalik badan. ''Ya, kau ada janji?'' Sonya mengangkat alis. ''Tidak, tidak. Hanya saja aku sedikit lelah,'' ujarnya memberi alasan. Padahal ia saat ini sedang gelisah dengan rencana kedatangan Nevan nanti. Sonya takut akan kesalahan yang bisa dilakukan oleh Nevan, misalnya tidak tersenyum bahagia kepadanya atau melakukan gerakan kaku yang memancing rasa curiga orang-orang di studio film nanti. Namun sepertinya Sonya sedikit tenang begitu keluar dari van dan melihat sosok Erlangga yang sudah berdiri di depan pintu masuk studio. Sonya dengan langkah pelan mendekati Erlangga yang tampak berbincang dengan asisten sutradara yang dikenalnya juga. ''Selamat pagi,'' sapa Sonya dengan suara rendah. Erlangga menoleh dan memandang outfit yang dikenakan Sonya mulai dari topi baret merah, baju blouse lengan panjang yang dipadupadankan dengan sebuah rok di bawah lutut yang mana kaki wanita itu ditutupi oleh stoking berwarna gelap dan sebuah sepatu hak tinggi. Benar-benar penampilan yang kurang cocok untuk hanya duduk di dalam ruangan selama beberapa jam ke depan. ''Pagi,'' sapa balik asisten sutradara bernama Benuja. ''Pagi Sonya,'' sapa Erlangga menyadari Benuja memandangnya sekilas, karena tidak menyapa wanita yang juga akan menjadi lawan mainnya dalam film nanti. Namun bukan karena dirinya tidak sopan atau mengabaikan Sonya, hanya saja menurut Erlangga, ia sudah tahu bahwa Sonya akan datang hari ini. Begitu pula dengan kakak laki-lakinya, Nevan nantinya. ''Aku Benuja, asisten sutradara dalam film ini,'' ujar Benuja mengulurkan tangannya kepada Sonya. Sonya menjabat tangan Benuja dengan ramah. Ia jelas mengenal siapa Benuja, setelah melihat pria itu beberapa kali dalam acara penghargaan atau festival pemutaran film. ''Senang bisa bekerja sama dengan anda,'' ujar Sonya sambil tersenyum lebar. ''Lebih senang bekerja sama dengan aktris pemeran utama wanita terbaik tahun lalu,'' balas Benuja yang juga memuji Sonya. Erlangga hanya tersenyum kikuk tatkala Benuja memandang ke arahnya sambil tersenyum simpul. Ia hanya ingin terlihat profesional ketika berada di sekitar Sonya, bukan sebagai adik dari kekasih palsu Sonya. Namun hal tersebut tidak mudah, sebab Sonya sellau melirik dingin ke arah Erlangga. Sonya takut bahwa rencana akan gagal, karena Nevan yang tidak mau berpartisipasi dalam sandiwara hari ini. Ketika seluruh pemeran dan kru produksi sudah berada dalam sebuah ruangan yang mirip aula, pembahasan akan film romantis yang akan digarap oleh salah satu rumah produksi dimulai. Naskah yang telah dibagi kepada para pelakon film tersebut, utamanya pada pemeran utama membuat sesi cepat berlanjut, hingga ke pembacaan naskah. Namun Sonya mengernyitkan dahinya, begitu melihat salah satu adegan yang mengharuskannya ditampar oleh Erlangga, karena mengganggu pemeran utama wanita yang diperakan oleh aktris Kania. ''Oh pada scene ke dua puluh tujuh, itu sudah pas?'' Sonya mengeluarkan suara, setelah pembahasan beberapa scene yang dirinya tidak mempunyai masalah. ''Benar, scene itu penting untuk menunjukkan bagaimana kesungguhan Erlangga sebagai Delvin untuk melindungi Kania sebagai Sarah,'' jawab Benuja selaku sutradara sekaligus terlibat dalam penulisan naskah film. ''Tenanglah Sonya, Erlangga tidak akan berani menamparmu dengan keras,'' ucap salah satu kru produksi yang membuat orang-orang yang berada dalam ruangan tersebut menjadi menahan tawanya. ''Tentu saja, mau Erlangga ditampar kembali oleh kakaknya.'' Kali ini sang produser yang langsung memberikan komentar akan adegan tersebut. Sedangkan Sonya hanya tersipu mendengarnya, seolah Erlangga tidak bisa berbuat sesukanya, karena adanya Nevan. Namun ketika wanita itu tidak sengaja menoleh menatap Erlangga, pria tersebut malah tersenyum miring kepadanya. Sonya sangat paham apa maksud senyuman Erlangga tersebut, mengingat bagaimana hubungannya dengan Nevan yang sebenarnya. Sesi pembacaan naskah terus berlangsung, hingga pada pemaparan lokasi tempat diadakannya syuting film. Kegiatan hari itu selesai dua jam lebih cepat, sehingga seluruh pemeran serta kru produksi bisa pulang pada waktu hari masih petang. Jika yang lainnya senang dengan bisa pulang cepat, maka tidak dengan Sonya. Ia memikirkan rencana yang telah disusunnya sejak pertemuannya dengan Nevan di apartemen Erlangga. ''Berhentilah menghela napas seperti itu. Kak Nevan sudah dalam perjalanan,'' tukas Erlangga masih berada di ruangan dan berjalan mendekat ke arah Sonya. Mata Sonya terbelalak. ''Bagaimana bisa? Bukankah kau bilang kepadanya akan selesai pada pukul delapan malam?'' Bibir Erlangga langsung menyunggingkan senyum tipis, namun terlihat jelas aura kebanggaan dalam senyum tersebut. ''Kami memIliki group chat bersama Ayah kami dan dia menanyakan posisi kami tadinya.'' Mendengar hal tersebut membuat mata Sonya menjadi sayup. Wanita itu bisa merasakan bagaimana kehangatan hubungan antara Erlangga, Nevan dan ayah kedua pria itu. ''Lalu Kak Nevan berkata berada di parkiran untuk bersiap untuk pulang,'' lanjut Erlangga bercerita. ''Baiklah, kuharap Mas Nevan cepat sampai, sebelum semua orang pulang.'' ''Oh? Dia sudah menelepon, pasti sudah berada di depan,'' tukas Erlangga memperlihatkan nama Nevan di dalam layar ponselnya. Telapak tangan Sonya bertepuk sekali dengan girang. ''Ayo kita keluar.'' Benar saja, mobil Nevan sudah terlihat terparkir di depan lobi. Pria tersebut lalu keluar setelah melihat sosok Sonya keluar disusul oleh Erlangga. Masih banyaknya artis maupun kru produksi film yang berdiri di depan lobi membuat perhatian orang-orang tersebut tertuju kepada Nevan yang hanya memakai kemeja putih dengan bagian telah disampirkan ke atas. Sonya yang awalnya ingin berakting seolah menyambut Nevan dengan penuh perasaan berbunga-bunga, menjadi terdiam ketika pria itu kini berdiri langsung di hadapannya. Nevan benar-benar seperti kekasih yang baru saja pulang kantor dan siap menjemput wanita pujaannya. Tatapan Nevan yang dalam kepada Sonya menjadi perhatian bagian orang-orang di sana. Apalagi kaum wanita yang seolah tersihir akan tubuh proporsional dan wajah tampan Nevan. Banyak dari mereka berbisik dan berkomentar tentang bagaimana Nevan bisa menjadi aktor seperti Erlangga. ''Kau sudah selesai?'' tanya Nevan sambil menyungging senyuman tipis. Sonya hanya bisa mengangguk besar, lalu melirik ke arah rekan kerjanya yang lain dalam film yang dibintanginya. ''Selamat malam semua,'' ucapnya dengan senyuman lebar dan berniat untuk pamit. ''Wah sampai jauh-jauh datang jemput Sonya,'' komentar salah satu kru produksi wanita kepada Nevan. Nevan hanya tersenyum, lalu beralih kepada Erlangga. ''Ayah menunggumu di rumah untuk bermain catur.'' ''Tentu saja.'' Orang-orang di sana kembali berbisik. Bukan karena Sonya dan Nevan lagi, melainkan fakta bahwa ayah Erlangga dan Nevan yang seorang menteri serta melihat bagaimana jalinan keluarga tersebut yang terlihat santai dan hangat. ''Ayo Sayang,'' ucap Nevan beralih kepada Sonya serta mengulurkan tangannya kepada wanita itu. Sonya tertegun untuk sesaat mendengar panggilan sayang yang terlontar dari bibir seorang Nevan, tetapi kepalanya hanya mengangguk pelan dan menerima uluran tangan tersebut. Bukan sekadar sentuhan antar telapak tangan, melainkan Sonya bisa merasakan bagaimana Nevan menggenggam erat tangannya menuju mobil. Sonya kembali terkejut ketika Nevan membukakan pintu untuknya. Namun ketika telah masuk dan duduk, kepalanya malah dicium lembut, sebelum Nevan menutup kembali pintu mobil. Sonya seolah membeku pada tempatnya saat ini. Terlalu tiba-tiba dan mendebarkan untuk menjadi nyata. Sonya terlalu malu untuk menatap keluar orang-orang yang masih berada pada tempatnya tadi, termausk Erlangga saat ini. Perlakuan Nevan kepadanya, melampaui ekspektasinya. ''Bagaimana kau puas hari ini?'' Satu pertanyaan dai Nevan yang sudah berada di sebelah Sonya, menjadikan wanita itu langsung tersadar oleh kenyataan bahwa apa yang mereka lakukan saat ini, tak lebih dari sebuah sandiwara. Sebelum Nevan menjalankan mobil, Sonya menoleh kepada lelaki itu dan memandangnya. ''Tentu saya, Sayang.'' Nevan terkejut sesaat, tetapi tidka membalas apapun. Ia malah kembali menjalankan mobilnya dengan tenang. ''Oh, ini bukan jalanan menuju apartemenku,'' ujar Sonya melirik keluar jendela. ''Aku belum makan malam.'' Senyum terukir pada bibir Sonya. ''Jadi kau mengajakku makan malam saat ini?'' Nevan mendengkus pelan. ''Aku bilang, aku yang belum makan malam. Tidak ada kata-kata mengajakmu, tapi jika kau juga mau ya ... silakan.'' ''Mas Nevan ini sangat tidak ... sopan.'' ''Apa?'' Nevan yang tidak terima langsung menoleh kembali. ''Jika Mas Nevan lapar dan sedang bersama seorang wanita, bukankah lebih bijak menanyakan padanya, Sonya, apa kau lapar?'' Sonya memperagakan dirinya seperti motivator. ''Aku hanya tidak ingin terdengar canggung. Lagipula ... tujuannya tetap sama,'' balas Nevan beralasan. "Kau juga tetap akan makan." ''Apa yang sama? Seolah-olah Mas Nevan nantinya akan makan sendiri, lalu aku hanya akan tinggal di mobil,'' ujar Sonya belum terima. Nevan hanya bisa menghela napas. ''Baiklah. Sonya, maukah kau makan malam denganku?'' Pertanyaan Nevan malah membuat Sonya kaget. Wanita tidak menyangka akan mendengar kalimat yang cenderung terdengar formal. Ajakan makan malam klasik dan kaku. ''Mas Nevan pasti jarang mengajak wanita makan malam,'' balas Sonya menilai dari ucapan kakak laki-laki Erlangga tersebut. ''Ya, kau adalah pertama kalinya dalam ... enam tahun terakhir ini.'' Mata Sonya membulat mendengarnya. Bukan karena kata pertama kalinya, tetapi enam tahun terakhir ini. Ada apa dalam kurun waktu tersebut, sehingga Nevan belum pernah mengajak wanita makan malam lagi? pikir Sonya. *** Terima kasih yang telah membacanya. Semoga terhibur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN