Karena ledekan anak-anak panti membuat Ayesha dan Attar mendadak canggung, walau bagaimanapun mereka masing-masing memiliki pasangan, sebagai seorang sahabat Ayesha merasa apa yang dilakukan Attar ke dia hal yang wajar, kedatangan Ricko membuat suasana canggung antara mereka cair.
"Sory ya Tar, nunggu lama, ada Ayesha juga, hai Sha" Ricko menjabat tangan Ayesha.
"Iya Rick, kan udah ga ada kelas juga, jadi bisa main ke panti" Ayesha kembali bermain bersama Indira dan anak panti lainnya, bersama mereka membuat Ayesha semakin bersyukur karena Ayesha masih memiliki kedua orangtua yang menyayanginya, sementara anak-anak ini mereka tumbuh tanpa kasih sayang orangtua.
Untuk mengadopsi mereka rata-rata anak-anak yang masih kecil yang di inginkan orangtua asuh jadi anak-anak yang sudah cukup besar mereka akan tinggal di panti mungkin sampai mereka cukup umur untuk bisa hidup mandiri.
"Ehhh, Nak Attar sama Ricko sudah datang, maaf tadi Ibu lagi ada tamu mau adopsi salah satu anak panti, udah lama nunggu ya" Ibu Farida pemilik panti asuhan tersebut keluar dari ruangannya, beliau dan suami hanya memiliki satu anak, tapi sudah dewasa, pada dasarnya mereka tidak tega melihat anak-anak terlantar makanya mereka mendirikan panti asuhan cinta kasih ini sebelum memiliki anak. Sudah banyak lulusan panti yang berhasil karena di panti asuhan ini mereka diberikan pen .didikan yang layak juga.kekayaan mereka melimpah dan memiliki relasi yang cukup baik jadi banyak donatur di panti asuhan ini.
"Ayesh, Gue ke dalem dulu ya sama Ricko"
"..." Aku mengangguk, bu farida baru menyadari kehadiranku, Aku tersenyum dan menyapa beliau "Bu"
"Loh ada Nak Ayesha juga to, pinjam Attarnya dulu ya" duh bu farida pinjem-pinjem aja udah kaya barang, lagian bawa aja bu udah kaya Attar Aku yang punya aja, itu hanya suara hatiku ga mungkin kan Aku bilang kaya gitu juga ke Bu Farida. "Iya Bu, silakan!"
"Bentar ya Sha" ucap Attar sambil mengacak rambutku manis.
"Ka Ayesh, kemarin Bang Attar ngajak Kaka Anna ke sini, tapi Indira ga suka, Ka Anna jutek" tau darimana pula anak ini bahasa jutek, pasti dari Kakak-kakaknya yang di panti.
"Masa sih, mungkin Kak Anna lagi cape kemarin, makanya keliatan jutek, emang Indira tau kata-kata jutek darimana?"
"Iya Kak Ayesha, Kak Anna jutek, dia ga mau main sama kita-kita" Novi anak panti yang sudah kelas dua SMP ikut menimpali omongan Indira. Aku tersenyum mendengar ucapan mereka, Aku juga belum pernah mengenal Anna secara langsung, Attar hanya menceritakan tentang Anna dan tahu wajahnya saja dari foto yang Ia buat gantungan tas nya, so sweet kan Attar. jadi Aku tidak bisa berkomentar banyak tentang Anna.
Aku dan Indira berkeliling panti,senang sekali mendengar celoteh riangnya seakan tanpa beban, membuatku semakin malu saja tidak ada satu keluhan pun yang Aku dengar dari mulutnya, kata dia "Indira ga sedih tinggal di panti ini, ada Ibu Farida yang baik banget, ada Mama Diska dan Papa Dandy yang sering dateng ke sini, walaupun mereka bukan orangtua kandung Indira, mereka sayang banget sama kita di sini" Mama Papa yang ia maksud anak dan menantu dari ibu Farida.
Kami menghampiri anak panti lain yang sedang bermain gitar dan bernyanyi. "Namanya siapa? Boleh pinjam gitarnya?"
"Arif Kak, boleh" Ia menyerahkan gitarnya kepadaku.
"kita nyanyi sama-sama yuk"
"Ayo kak, Indira pengen nyanyi lagu Bunda"
"Indira bisa nyanyi?"
"Bisaaa" Ku petik senar gitar menghasilkan dentingan lagu Bunda
ku buka album biru
penuh debu dan usang
ku pandangi semua gambar diri
kecil bersih belum ternoda
pikirku pun melayang
dahulu penuh kasih
teringat semua cerita orang
tentang riwayatku
kata mereka diriku selalu di manja
kata mereka diriku selalu ditimang
tangan halus dan suci
tlah mengangkat tubuh ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela dia berikan
Alunan suara renyah Indira sangat menyentuh kalbu, tak terasa Aku ikut meneteskan air mata. Indira memelukku melihatku menangis. Aku menengadahkan mataku melihat langit supaya tidak keluar air mata, selalu saja bercerita tentang ibu membuat haru.
"Ayesha kenapa nangis?" Attar panik melihatku menangis dan memegang bahuku. Aku tertawa dan menghapus air mata.
"Suara Indira bagus nyanyiin lagu Bunda, bikin aku nangis"
Attar langsung merangkulku dari samping kanan karena sebelah kiri sudah ada Indira, Ia mengusap-usap bahuku. "Duh, kirain kenapa nangis, bikin panik aja" Aku semakin menundukkan kepalaku tak mau dilihat pipiku yang berubah menjadi merah karena malu.
Lantas mengapa ku masih menaruh hati, Padahal ku tau kau tlah terikat janji,
keliru ataukah bukan tak tahu,
lupakanmu tapi Aku tak mau
Aku menoleh ke arahnya mendengar nada dering handphone dia, Attar mengangkat telepon dan sedikit menjauh.
"Lagi di panti sama Ricko"
"......"
"Kan Aku udah ajak kamu dari semalem, Kamu bilang gak bisa"
"......"
"Ya gak bisa, Aku sama Ayesha juga"
"....."
"Ko jadi Aku yang salah, Kamu sendiri loh yang ga pernah ada waktu, bahkan untuk beberapa jam aja"
"....."
"Ngapain ke sini? nanti aja Aku yang ke sana"
"....."
"Oke, kita ketemuan di kampus Aku, Aku jalan ke sana sekarang" sambungan terputus, nampaknya Anna yang telepon.
"Ayo kita ke kampus sekarang!" Aku mengikuti dia dari belakang setelah berpamitan dengan ibu dan anak-anak panti. karena kesulitan mengaitkan helm Attar membantuku mengaitkannya, netra Kami tak sengaja kulihat Attar, Ia langsung membuang pandangannya. Dasar Attar kenapa juga harus gugup gitu, diam-diam Aku tersenyum melihat tingkahnya.
"Nanti Aku turun di jurusan aja ya sebelum Kamu ke parkiran, mau ketemu Anna kan?"
"Sotoy, nguping ya tadi?"
"Gimana ga nguping, orang kamu aja ngomongnya keras gitu"
"Anna mau ketemu sama Kamu"
"Hmmm, okelah gapapa, nanti ajak aja ke jurusanku"
"Males, Kamu aja yang ikut ke kantin nanti" ucapnya tanpa rasa berdosa.
"Ckkk, terus Aku jadi obat nyamuk gitu"
"Ya gapapa lah, sekali-kali" Aku mencubit pinggang Attar, ia meringis kesakitan "Auwww, sakit bapau nanti kita jatuh nih"
"Bodo amat" jawabku cuek, Ia menarik tanganku untuk lebih sedikit memeluknya, sedikit loh ya, ngga peluk penuh.
"Pegangan, nanti jatuh Aku di marahin Mama Putri" Aku diam saja menurut perintahnya. Selanjutnya Kami sama-sama terdiam hingga sampai di kampus.
Sebenernya Adrian kurang terlalu suka Aku dekat dengan Attar, padahal sudah Aku jelaskan bahwa Kami hanya sahabatan, ga lebih karena Attar juga punya pacar jadi ga mungkin kan Kita pacaran, Aku juga nyaman berkawan dengan dia, jadi Adrian masih tetap mengizinkanku jalan bareng Attar.
Seperti perkataan Attar tadi, Dia tidak mau menurunkanku di jurusan malah langsung mengajakku ke kantin bertemu dengan Anna.
Aku melihat seorang wanita cantik berambut panjang menggunakan dress sabrina berwarna coklat muda dan memperlihatkan sedikit punggungnya yang putih mulus mendekat ke arah Kami, Anna menatapku dari atas sampai bawah seperti ingin mengulitiku, Ia berdiri di antara Aku dan Attar.
"Lama banget sih Beib, udah jamuran nih Aku nunggu Kamu"
"Kamu mau ke kampus pake baju kaya gini, ga lihat tuh mata laki-laki jelalatan liatin Kamu" Attar membuka jaketnya dan menyampirkan di bahu Anna menutupi kulitnya yang terekspos.
"Gerah beib" Anna menggerutu hendak melepaskan jaketnya.
"Jangan di lepas!" Anna mengerucutkan bibirnya tak suka di larang Attar, Aku duduk d seberang mereka.
"Ini yang namanya Ayesha"
"Hai, Gue Anna pacar Attar" sebuah penegasan keluar dari bibir yang dilapisi lipstik berwarna nude.
"Ayesha"
"Bentar Gue pesen makan dulu ya" Attar meninggalkan Kami berdua.
"Sering jalan bareng Attar?" tanya Anna menginterogasi.
"Gak juga sih, kadang-kadang aja Kita kan beda kampus"
"Oo.. " Ia hanya bergumam selanjutnya tidak ada obrolan lagi antara Kami hingga Attar datang dan pesanan Kami sudah datang juga. Merasa seperti obat nyamuk Aku berinisiatif meninggalkan mereka berdua, mereka pasti butuh waktu untuk bicara.
"Gue ke jurusan dulu ya"
"Nanti aja sih Sha, ngga ada kelas juga kan" ku lihat Anna cemberut Attar melarangku pergi.
"Ada janji sama Dinda, kasian dia udah nunggu, Gue tinggal ya, bye" Aku tinggalkan mereka berdua tanpa menunggu persetujuan Attar.
###
Aku berjalan menuju jurusanku tidak sengaja berpapasan dengan Gladysse, Ia tampak acuh melihatku tidak seperti saat Aku jalan dengan Adrian, bodo amatlah ga ada urusan juga Gue sama dia.
"Dinda!"
"Udah makan?"
"Udah tadi sama Attar, abis dikenalin sama Anna"
"Anna pacarnya Attar"
"..." Aku mengangguk "ngeliat gue berasa saingan dia, hihi"
"Ish, kayanya Lo ketularan PD akutnya Attar nih"
"Yeee, emang dia jutek sama gue tadi"
"Cemburu kali"
"Maybe, bodo ah, Gue juga gada hubungan macem-macem sama Attar"
"Iya tapi Lo berdua di ramal the next couple"
"Aneh-aneh aja netizen, haha"
"Eh btw tadi Gue liat Adrian loh"
"Oh ya, katanya dia nganter mamanya, Omaigat Gue lupa dari tadi ga liat hp" segera ku keluarkan Hp, tidak ada pesan masuk dari Adrian terakhir tadi pagi. Aneh, kalo dia ke kampus kenapa ga ngabarin.
Oke, lupakan sejenak ngambekku ke Adrian, Aku akan meneleponnya sekarang.
"Dimana Yank?"
'Baru aja mau ngabarin Kamu, Aku baru sampe kampus nih, Kamu udah di kampus?'
"Udah nih lagi sama Dinda di jurusan"
'Nanti Aku ke sana ya, ada urusan sebentar nih'
"Oke, kabarin aja kalo udah selesai"
'Iya sayang' tut, ku tekan tombol merah menutup panggilan, tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor asing yang tidak ada foto profilnya, kubuka pesan tersebut sebuah foto punggung milik Adrian sedang di kantin bersama seorang wanita menggunakan baju berwarna maroon tapi tertutup sebagian badan Adrian. Siapa? Ah mungkin saja temannya kan, tapi kenapa harus candid? mungkin saja Ia iseng. Abaikan saja, pesan tak jelas.
"Kenapa Sha? baca pesan sampe segitunya" Aku menyodorkan pesan tersebut ke Dinda.
"Adrian?"
"Ho oh"
"Sama siapa?" Aku mengedikkan bahu tanda tak tahu, karena fotonya juga tidak jelas.
"Iseng banget sih foto candid gitu" lanjut Dinda.
"Fans Adrian mungkin, tapi dapet nomer wasap Gue dari siapa?" Ah sudahlah abaikan saja, Aku tak ingin mengambil pusing.
Tringgg, ponselku berbunyi lagi, kali ini sebuah video aku mengunduhnya Aku lihat cewek itu pindah ke sebelah Adrian dan berusaha untuk senderan di bahu Adrian tapi Adrian berusaha mengelak. Wah gak bener nih cewek, lagian kenapa Adrian ga bilang ya ketemuan sama cewek. Nanti akan ku tanya kalau dia sudah ke sini