Harapan Terakhir

1206 Kata
IREN terus menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong, pikirannya melayang entah kemana. Layar ponsel yang masih menampilkan nomor telpon Millo, membuat Iren tidak dapat mendengar suara di sekitar. Otaknya terus memikirkan apakah akan menghubungi nomor itu atau tidak. 'Aku hubungi nggak ya, kalau aku hubungi yang ngangkat Millo apa bukan ya? kalau bukan aku harus bicara apa? tapi kalau iya, aku juga nggak tahu harus bicara apa?' pikir Iren yang hanyut dalam pikirannya, tanpa dia sadari, sedari tadi namanya terus dipanggil. Beberapa kali barista yang ada di hadapan Iren memanggilnya, tapi tidak digubris oleh Iren. “Mbak?” seseorang menepuk belakang Iren sampai membuatnya tersadar. "Iya." "Saya sudah mau pesan, jangan kelamaan berdiri di sini," ujar orang yang menepuk pundaknya dengan nada ketus. “Oh iya, maaf maaf.” Iren beberapa kali menundukkan kepalanya sambil mengambil minuman yang sudah dia pesan. "Dari tadi saya panggil, akhirnya di ambil juga." Wajah barista itu sudah terlihat tidak ramah. "Maaf Mas, makasih," ucap Iren yang langsung menjauh dari sana dengan ditatap tajam orang-orang yang berbaris di belakangnya. "Untung cantik, kalau nggak sudah diseduh wajahnya pake kopi," gumam barista tersebut sambil melakukan pekerjaannya. Dia menundukkan kepalanya sepanjang jalan mencari tempat duduk. Wajahnya merah seperti tomat, tangan kecil Iren berusaha menutupi wajahnya agar mengurangi rasa malu dan menuju tempat duduk di dekat jendela andalannya apabila ke tempat makan atau kafe. Karena baginya tempat dekat jendela itu punya suasana tersendiri, apalagi untuknya yang sendiri. “Huft ... dasar jomblo, bilang aja mau menghindari pemandangan keuwuan orang berpacaran. Meskipun nyatanya nggak juga hehehe,” ujarnya sambil terkekeh sendiri menatap keluar jendela. Dia melihat ke sekitarnya, termasuk orang-orang yang mengantri sebelumnya sedang menatapnya dengan aneh. “Apa apaan sih Ren, bikin malu aja,” gumamnya sambil menundukkan kepalanya dan mencoba duduk dengan tenang dan menelisik ke sekitarnya agar terlihat normal dan tidak dikira gila seperti tadi. “Tempatnya lumayan juga buat santai,” menatap keluar jendela. “Ting …” suara pesan masuk yang membuat Iren seketika membeku, mencoba untuk tidak berpikir aneh lagi. Iren berusaha menengok ponselnya yang ada di atas meja, terlihat dari kursi tempat Iren duduk nama Millo tertera di sana. Iren mendekatkan tubuhnya dan melihat akun Millo terus menerus mengirimkan pesan. “Wah spam banget ya, ini orang maksa banget sih.” gerutu Iren tidak suka. Iren merasa bimbang untuk menghubungi nomor telpon itu, hanya bisa diam menatap pesan yang masuk untuk beberapa saat. “Sumpah males banget kalo aku harus duluan. Kenapa nggak dia aja sih yang telpon duluan,” gumamnya kesal. “Tapi tidak mungkin juga, soalnya kan dia tidak punya nomorku. Dasar menyebalkan! Andai saja ini Luca sudah pasti ku telpon saat itu juga,” sambungnya. Iren menarik nafas dan dihembuskannya dengan kasar, dia memutar matanya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi nomor telpon itu. “Baik, Iren kamu tinggal telpon nomor ini dan pasti yang mengangkat bukan Millo, daripada kamu diteror mulu kaya gini, ayo Ren kamu bisa!” menyemangati dirinya sendiri. Iren menekan tanda panggil pada nomor itu, jantungnya berdegup kencang bersamaan dengan nada sambung pada telpon itu ada suara telpon berdering dari arah belakang yang membuat Iren tambah gugup. Dia tidak ingin menengok kebelakang, karena baginya itu hanya kebetulan saja sama. “Aduh kenapa di belakang aku juga ikut berdering sih, tambah gugup tau nggak,” keluh Iren dengan orang yang ada di belakangnya sambil berdoa semoga yang dihubungi ini bukanlah Millo. 'Halo ...' Panggil orang itu. “Deg!” detak jantung Iren langsung berdetak dengan kencang. Dia memegang dadanya yang terasa aneh. Perasaan ini? perasaan yang sudah lama diasingkan. 'Halo … apakah ini Iren?' tanyanya lagi. Mata Iren membola dengan sempurna saat mendengar lagi suara orang yang terdengar akrab di telinganya. Dia langsung duduk dengan tegak mencoba untuk menelan keadaan sekarang apakah nyata atau hanya halusinasinya saja. Iren menyipitkan matanya, dia melirik ke samping, kemudian menyandarkan badannya ke kursi untuk memastikan sesuatu yang terasa aneh sekarang. 'Halo …' wajah Iren seperti menyadari sesuatu, jantungnya seperti dihantam benda yang berat. 'Suara di belakangku sama dengan suara dari orang yang aku telpon,' pikir Iren. 'Halo …' panggil orang itu sekali lagi, 'Apaan sih, jangan-jangan ini nomor penguntit' sambungnya, membuat Iren tanpa pikir panjang mematikan panggilan itu. 'Ternyata benar itu nomor Millo', batin Iren. Iren memutar badannya dan mencari suara Millo yang terdengar dari arah belakang, matanya menangkap seseorang dengan topi hitam yang terhalang dua meja dari Iren dan membelakanginya. Ada dua orang yang duduk di sana seperti membicarakan sesuatu. Iren mendorong kursinya sedikit ke belakang sambil berusaha mendekatkan telinganya untuk mendengar orang itu berbicara. “Rud, kenapa panggilannya dimatiin, ini Iren apa bukan sih?” gerutunya sambil menatap ponsel. “Emang kamu nggak kenal suara teman kamu sendiri?” “Dia aja nggak bicara! Ini bener nggak sih nomornya?” “Coba aja kamu panggil lagi," perintahnya sambil menyeruput minumannya. "Kalo bukan gimana? Kamu mau tanggung jawab!" bentaknya membuat Miko hampir mengeluarkan minumannya. "Ck. Untung saja keluarnya sedikit," sambil membersihkan tumpahan minum di bajunya. "Menjijikkan. Nurud!" "Kalo bukan ya matiin aja lagi, jangan dibikin repot," ketusnya tanpa memikirkan tatapan tajam menusuk di hadapannya. "Aku minta saran, NURUD! kenapa malah sewot!" "Gimana nggak sewot, orang dari pagi udah disuruh kesana kemari, dan hampir satu hari kamu terus bicara tentang orang yang nggak balas pesan itu." “Oh ... jadi ngeluh ceritanya?” sambil menyilangkan tangan di atas perutnya. “Hehehe nggak ngeluh sih, cuma tidak terima saja.” “Sama aja Nurud ... Cuma dia harapan terakhirku," ujarnya dengan nada rendah di akhir. "Iyaa, coba aja dulu hubungi orang itu." “Iya deh, coba aja kali ya.” Mendengar percakapan mereka Iren segera berdiri dengan cepat, dia mengambil ponsel dan tasnya yang ada di atas meja. “Dia bilang aku harapan terakhirnya, apa maksudnya itu? aku harus cepat-cepat pergi, agar Millo nggak tahu aku ada di sini,” ujarnya dengan nada pelan sambil mencoba pergi dari tempatnya sekarang. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan melihat ponselnya ditelpon balik sama Millo. "Aduh gimana nih? dia udah nelpon aku. Untung ponsel aku nggak berdering," guman Iren yang mempercepat langkahnya sambil terus melihat ke belakang memastikan Millo tidak menyadari keberadaanya. “Aduh!” jerit Iren yang membuat seisi kafe memandang ke arahnya. Dia tidak sengaja menabrak orang yang berjalan dari arah berlawanan. Millo yang ada di sana juga memalingkan badannya saat mendengar teriakan itu. “Maaf ka, maaf … aku nggak sengaja,” ujar Iren yang terdengar dari ponsel Millo. “Kalau jalan itu lihat-lihat dong,” ujar orang yang tidak sengaja ditabrak itu. “Untung saja minuman yang saya bawa sempat diamankan, kalau tidak habis baju kerja saya,” sambungnya sambil meninggalkan Iren. Iren tidak menyadari panggilan Millo terhubung karena tidak sengaja ditekannya saat berjalan. Dia terus meminta maaf kepada orang yang dia tabrak. “Iren!” panggil Millo dengan nada tinggi agar Iren mendengarnya, hingga membuat Iren tanpa sadar memalingkan wajahnya ke arah sumber suara selain dari ponselnya. “Itu kamu kan?” sambungnya dengan nada lembut. Tubuh Iren membeku menatap Millo yang memanggilnya, senyuman yang selalu dia lihat diam-diam tanpa ada yang tahu, kembali Iren lihat. Orang yang ingin dia lupakan dari kehidupannya, kembali muncul di hadapannya. Iren menelan ludahnya, dia hanya bisa terdiam mendengar panggilan orang itu. "Ren, sini!" melambaikan tangannya ke arah Iren. "Ren kendalikan dirimu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN