Bab 50

1507 Kata

Tangisan Syafa pecah seketika. “Paman Abdullah… jangan pergi…” Tubuhnya limbung, air matanya tak terbendung lagi. Ia bersimpuh di sisi tempat tidur, memeluk tubuh dingin sang paman yang selama ini menjadi sosok ayah baginya. Yusuf segera menghampiri dan memeluk erat Syafa, mencoba meredam guncangan di d**a istrinya. Tak lama, dokter jaga datang dengan wajah duka. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… maaf, beliau sudah tiada.” Syafa menggigit bibirnya menahan isak, sementara Yusuf mengecup kening jenazah Pak Abdullah dengan penuh hormat. “Terima kasih, Paman… saya akan menjaga Syafa seperti janji saya.” Beberapa jam kemudian… Prosesi pemakaman berlangsung khidmat. Warga kampung ikut mengantar almarhum Pak Abdullah ke peristirahatan terakhirnya. Syafa menggenggam tangan Yusuf erat,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN