Bab 20

1987 Kata

Di balik dinginnya dinding ruang ICU, waktu terasa berhenti. Jarum jam berdetak pelan, mengiringi setiap hembusan napas yang terputus-putus. Kenanga terbaring lemah, pucat pasi, perjuangan hidupnya belum usai. Di samping ranjang, Revan setia menggenggam tangan istrinya, berharap keajaiban datang memupus ketakutannya. Di luar, Pak Hendra dan istrinya tak hehenti melafalkan doa, memohon belas kasih Sang Pencipta. "Sayang, bangun..." Suara Revan bergetar, tercekat di tenggorokannya. Ia menatap wajah Kenanga yang damai dalam tidurnya, namun damai yang penuh dengan kecemasan baginya. Jemarinya mengusap lembut punggung tangan Kenanga yang dingin. "Ini aku, Mas Revan. Kamu sudah melahirkan jagoan kita. Dia tampan sekali, Kenanga. Mirip kamu." Hatinya hancur. Mengapa takdir begitu kejam? Setelah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN