Keesokan harinya, Vicha sudah pergi dari apartemen pukul sembilan pagi untuk menghadiri interview dari salah satu perusahaan tempatnya menaruh lamaran.
Dia baru keluar dari ruangan interview di jam makan siang, bertepatan dengan para karyawan yang meninggalkan pekerjaan mereka untuk sementara. Sesaat, matanya melihat pada para pekerja yang saling bercanda di langkah mereka saat keluar, mengingatkan Vicha bahwa dia juga pernah menjadi seperti mereka, sebelum kemudian harus keluar setelah difitnah oleh teman dekatnya sendiri.
Anvicha menghela napas berat. "Semoga orang itu keselek pas makan siang," gumamnya karena merasa kesal setiap kali ingat apa yang terjadi padanya di perusahaan sebelumnya.
Langkahnya keluar dari gedung kantor dan saat itu juga Vicha mengeluarkan ponsel yang sejak tadi dirinya biarkan dalam keadaan hening. Matanya langsung membulat, melihat banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Sadam.
Jantungnya mendadak berdebar kencang, membayangkan akan semarah apa lelaki itu karena dirinya tidak mengangkat panggilan ataupun membalas pesan.
Segera dia menghubungi balik lelaki itu. Baru saja mengatakan "Ha-", suara Sadam di seberang sana sudah terdengar mengerikan.
"Kamu jadiin HP kamu jadi hiasan dinding?!"
Vicha yang semula takut, jadi kesal setelah mendengar nada menyebalkan lelaki itu. "Saya habis ikut interview, jadi HP nya, saya pakai getar doang."
Sadam berdecak. "Kenapa juga kamu harus kerja, padahal nanti kamu akan dapat satu miliar?"
"Ya memangnya saya bakalan langsung dapat? Saya kan harus ha-hamil anak kamu dulu dan melahirkannya baru bisa dapat uang itu!" Walaupun dia sangat ingin berteriak, tapi dia tidak bisa. Vicha tidak ingin dianggap sebagai pela*ur yang menjajakan tubuhnya untuk mendapatkan uang.
"Memangnya kamu lupa? Kalau kamu sudah tandatangan kontrak, kamu akan tetap dapat uang bulanan supaya kamu makan dengan baik dan bisa memeriksakan kandungan secara rutin."
Vicha yang kali ini berdecak, "Tetap aja! Saya masih punya banyak keinginan, jadi saya harus beli pakai uang saya sendiri."
Sadam malah balas berdecak lebih keras daripada dirinya. "Ya udahlah! Sekarang kamu dimana? Kamu bisa ke Zentech, kan? Hasil tesnya sudah keluar, jadi kita sudah bisa tandatangan kontraknya."
Mata Vich membulat, "Jadi, saya ini subur ya?"
Sadam hanya berdeham dengan tidak niat, sebelum kemudian lelaki itu kembali berkata ketus untuk meminta Vicha segera datang ke kantornya.
Vicha memejamkan matanya saat sambungan diputus secara sepihak. Sejak pertama bertemu dengan Sadam, keinginan terbesarnya adalah menendang b****g pria angkuh itu sebanyak tiga kali. Sayang sekali, karena dirinya tidak bisa melakukan itu. Jangankan b****g, bahkan ujung jari lelaki itu saja perawatannya pasti lebih mahal daripada pemeriksaan rutin yang Vicha lakukan dengan menyisihkan uang bulanannya. Dia yang miskin ini, tidak punya pilihan lain selain menjadi sabar.
Menggunakan jasa ojek online yang dia pesan sesaat menelepon Sadam, Vicha akhirnya sampai di depan gedung dengan dua puluh lantai yang seluruhnya adalah milik Zentech. Dia berjalan ke arah resepsionis, berniat untuk bertanya dimana ruangan Sadam berada. Tapi lelaki yang kemarin menjadi supirnya saat ke rumah sakit, datang dan menghampiri Vicha.
"Bu Vicha, sudah ditunggu Bapak di atas," katanya kemudian.
Vicha mengangguk. Langkahnya mengikuti lelaki itu yang masuk ke dalam lift yang kemudian hanya diisi mereka berdua. Tanpa ada yang bicara, tanpa ada yang berniat bicara. Vicha sibuk dengan pikirannya sendiri sedangkan lelaki itu sepertinya sedang memberi batasan karena tahu Vicha adalah kenalan bosnya.
"Bu, Ruangan Pak Sadam ada di ruangan kedua dari ujung. Ibu bisa langsung masuk ke sana," katanya kemudian.
Kepala Vicha mengangguk, dia berjalan ke arah yang diberitahukan padanya, setelah mengucapkan terimakasih pada lelaki itu.
Anvicha tahu, bahwa kedudukan Sadam memang sangat tinggi. Tapi dirinya tidak pernah menyangka jika dari koridor saja, interiornya sudah terlihat sangat mewah dan elegan. Belum lagi ada beberapa wanita dengan penampilan cantik dan menarik yang duduk di depan ruangan. Vicha tahu mereka adalah Sekretaris pada Direktur yang ada disini. Jadi, inikah bukti dari persyaratan yang ada di lowongan kerja tentang Berpenampilan menarik? Dan mungkin ini juga sebab dari banyaknya orang-orang kalangan atas yang memiliki hubungan gelap dengan Sekretarisnya?
Tapi kenapa Sadam tidak? Daripada Vicha yang lebih mirip pasar konvensional, bukankah Mbak-Mbak yang duduk cantik di depan ruangan Direktur ini lebih mirip supermarket yang besar dan nyaman?
"Cari siapa ya, Bu?"
Langkah Vicha terhenti saat seorang wanita berambut sebahu yang ada di depan ruangan Sadam, bertanya padanya. Ia tersenyum, "Saya mau ketemu Pak Sadam," balasnya.
Tapi wajah wanita itu tampak sangsi saat menatapnya, "Apa Ibu sudah membuat janji?"
Anvicha mengerti mengapa wanita itu berusaha memastikan identitasnya, karena bagaimanapun juga, posisi Sadam bukan posisi yang mudah ditemui sembarangan orang.
"Saya--"
"Kenapa enggak langsung masuk? Aku nungguin kamu dari tadi loh, Sayang!"
Mata Vicha melotot kaget ketika dengan cepat menoleh ke sebuah suara yang belakangan dia kenal. Dia memicing menatap Sadam yang santai berdiri bersandar pada pintu, dengan pose yang menyebalkan.
"Tunggu apa lagi? Ayo, Masuk!"
Mengabaikan tatapan terkejut dari Sekretaris Sadam, Vicha akhirnya membelokkan arah masuk ke dalam ruangan lelaki itu.
"Waw!" adalah kalimat yang pertama kali keluar dari mulutnya saat melihat pemandangan di kaca raksasa yang ada di ruangan Sadam.
"Jangan norak! Duduk deh!"
Anvicha berdecih mendengar nada ketus dari lelaki itu. Dia lekas mengambil duduk di sofa panjang berwarna biru dongker dengan kesan suede yang menarik. Empul sekali.
"Tadi hasil tesnya sudah dikirim ke sini dan saya sendiri yang menerima dan membukanya."
Cara bicara lelaki itu kembali formal, berbeda saat dengan seenaknya memanggil Vicha 'Sayang' di depan orang lain. Tapi dari sana juga Vicha memahami, bahwa kesepakatan antara dirinya dan Sadam akan benar-benar terlaksana, karena Sadam dengan sengaja membuat orang lain beranggapan bahwa mereka memiliki hubungan yang sangat dekat.
"Hasilnya bagus. Kemungkinan, saya dan kamu bisa langsung membuahkan hasil setelah kita melakukannya."
Bulu kuduk Vicha merinding, berbanding terbalik dengan Sadam yang begitu tenangnya.
"Karena itu, sekarang juga, saya mau dengar tentang latarbelakang kamu. Kamu harus ceritakan semuanya, termasuk hal-hal yang mungkin akan mengganggu hubungan kita ke depannya. Karena saya perlu menyiapkan tindakan pencegahan agar rencana saya enggak berantakan hanya karena kamu."
Vicha terdiam. Apa yang dikatakan oleh Sadam adalah sesuatu yang wajar, hanya saja hatinya terasa tidak nyaman karena Sadam memperlakukan dirinya benar-benar hanya sebagai alat melahirkan keturunan.
Ia menarik napas, lebih dulu menyamankan duduknya. Kemudian, ceritanya dimulai.
"Saya sudah enggak punya Ibu. Ibu saya meninggal waktu saya kelas satu SMA dan belum genap setahun setelah Ibu saya meninggal, Papa saya menikah lagi dengan janda satu anak. Ini tipikal cerita tentang Ibu dan anak Tiri, dimana Ibu tiri saya berlaku baik dan manis kalau di depan Papa saya, tapi sebaliknya kalau Papa enggak ada. Adik tiri saya terbiasa mengambil apapun yang saya punya tanpa rasa bersalah dan saya yang malas bertengkar, membiarkannya begitu saja."
Rasanya Vicha merasa malu, karena keluarganya memang sekacau itu. "Ada momen dimana Papa saya akhirnya jadi pengangguran setelah ketahuan menggelapkan dana perusahaan. Papa diminta untuk ganti rugi atau dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dari sana lah, Papa mulai berutang memakai nama saya. Walaupun awalnya saya bisa mengambil peran sebagai pembayar utang-utang itu, tapi saya juga kemudian harus keluar dari perusahaan tempat kerja saya karena saya ada masalah internal sama teman saya. Masalahnya mungkin mulai dari situ. Saya yang putus asa karena enggak bisa bayar utang, harus berhadapan sama tingkah menyebalkan adik tiri saya. Malam itu, Papa saya membela adik tiri saya seperti biasa karena saya memarahi adik saya yang seenaknya mengotak-atik laptop saya. Sampai sekarang, saya juga kurang paham, apa yang bikin Papa saya sampai semarah itu dan mengusir saya. Tapi jujur saja, di satu sisi, saya malah merasa lega karena enggak harus berhadapan sama mereka lagi. Walaupun pada akhirnya, seperti yang Mas Sadam tahu, kalau saya mendadak jadi gelandangan yang enggak punya pekerjaan dan punya banyak utang."
Vicha mengambil air minum kemasan yang ada di atas meja, membuka dan meneguk isinya. Berbicara banyak membuat tenggorokannya terasa kering.
Sedangkan Sadam mengerutkan keningnya, "Apa saya boleh memastikan kalau bukan kamu yang salah dalam masalah internal yang kamu bilang itu? Sama teman kamu."
Kepala Vicha mendongak ke arah Sadam, kemudian mengangguk. "Saya ini orang baik-baik. Saya enggak akan ngusik orang lain, kalau bukan mereka yang ngusik saya duluan."
Akhirnya, lelaki itu mengangguk paham. Dia bangun dari duduknya, berjalan ke arah meja kerja dan kembali sambil membawa amplop coklat.
"Baca dulu surat kontraknya!"
Vicha menurut. Dia mengambil amplop itu dan membacanya perlahan. Di luar dugaan, walaupun Sadam sangat menyebalkan, tapi semua isi surat kontrak itu tidak ada satupun yang memberatkan Vicha.
"Keluarga saya bukan keluarga yang kolot, mereka enggak mementingkan status atau latarbelakang dan semacamnya. Kamu cukup bersikap baik di depan mereka dan berperan seolah kamu adalah wanita yang paling mencintai saya."
Tanpa sadar, wajah Vicha bergidik saat mendengar itu hingga membuat Sadam berdecak. "Kamu harus seperti itu supaya mereka percaya kita ini pasangan! Jangan sampai ada yang tahu, kalau kita menikah cuma karena masalah anak."
Menghela napas, Vicha kemudian mengangguk. "Tapi kalau boleh saya tanya, alasan Mas Sadam malah cari perempuan buat nikah kontrak dan bukan nikah sebenarnya, bukan karena Mas enggak doyan perempuan, kan?"
**