Rena bergegas meninggalkan kampus, ia benar-benar kecewa dan sakit hati. Jadi, pendekatannya selama ini sia-sia. “Jadi dia sudah punya pacar.” Ia menghela napasnya kasar. “Seharusnya aku tahu diri sejak awal, aku masih anak ingusan begini ngga akan mungkin bisa mendapatkan dia. Bodoh! Bodoh!” Rena memukul-mukul setir mobilnya beberapa kali sampai tangannya terasa nyeri. Sementara itu Nana sedang menyiapkan makan malam di ruang makan, ia menata nasi dan lauk pauk ke atas meja. Setelah semuanya siap, ia pun hendak pergi ke kamar, memanggil suaminya untuk makan malam bersama. Ting! Ting! Nana sontak mengalihkan pandangannya ke arah pintu depan. 'Siapa ya? Apa peneror itu datang lagi?’ Nana memutuskan untuk ke depan, memeriksa siapa yang tengah berada di luar, namun sebelum membukakan pin

