Tiga hari setelah pembicaraan itu, aku dan mas Al cukup menjaga jarak. Baik di dalam maupun di luar rumah sakit. Aku juga bingung harus memulai seperti apa untuk mengajaknya berbicara. "Sya, boleh minta tolong nitip print laporan gak?" Aku mendongak, dan tersenyum pada Jihan. "Boleh, kirim aja file nya. Jangan pakai flashdisk ya." "Oke Sya. Eh iya, itu kok--aku perhatiin kalian kayak lagi jauh-jauhan sih?" Hah? Begitu kentara sekali ya? Ini nih hal yang paling tidak disukai, yaitu menjalin hubungan dalam lingkungan pekerjaan. Yang ada, semuanya bakal tahu ada tidaknya masalah diantara pasangan tersebut. Mau sembunyi-sembunyi pun enggak akan bisa. Terlalu terlihat jelas di mata. Ya jelas lah, apalagi mas Al itu tipe orang yang--ya cukup perhatian lah. Yang sering kali perhatiannya pad

