Alfred membawa Syarin memasuki kamar dengan nomor yang sempat wanita itu sebutkan. Dengan susah payah dia membukakan tas istrinya dan mengambil kartu kunci akses untuk masuk. "Sebentar ya." Setelah menemukannya, Alfred yang tak sabaran langsung membopong tubuh wanita itu. Dan hanya teriakan kecil dari Syarin untuk merespons ulah Alfred yang tiba-tiba menggendongnya. Pria itu membaringkan Syarin di ranjang, membantu membuka sepatu, jas yang sempat Alfred berikan, dan terakhir jilbab Syarin. Seperti baru pertama kali membuka, Alfred ragu untuk melakukannya. Tapi, segera ditepisnya perasaan itu. Syarin istrinya, miliknya. Hak nya! "Tunggu disini ya, saya beli obat di apotek dulu. Jangan ke mana-mana dan tunggu sampai saya kembali. Bisa?" Syarin mengangguk lemah. Dia berusaha mati-matian

