Bandung. 19:41 WIB.
Setelah turun dari bianglala, susah sekali bagiku mencari kesempatan berbicara lagi dengan Fatma karena secara terang-terangan ia menjaga jarak dariku. Kapan pun dia melihat jarak di antara kami berdua terlalu dekat, ia bergerak menjauh.
Bahkan saat Ares menggiring kami menuju satu tenda besar penjual mie bakso, mantan pacar Fred itu memilih bangku yang cukup jauh dari bangku yang kutempati. Ares yang duduk di sampingku setelah memesan empat porsi mie bakso ternyata menyadari keanehan ini.
“Apa ada yang sudah kulewatkan?” tanyanya padaku, sementara matanya menatapku dan Fatma secara bergantian. “Kalian berdua sepertinya tidak akrab. Aku bisa maklum kalau Fatma menghindari Fred. Tapi kau, apa yang terjadi dengan kalian berdua?”
Aku meraih sekaleng kerupuk terdekat, membuka tutupnya dan mengambil satu. “Bukan masalah apa-apa. Barangkali dia memang menghindari semua orang yang punya hubungan darah dengan Fred.” Bahuku mengedik tak acuh, aku masih berpendapat bahwa semua yang kukatakan pada Fatma saat menaiki bianglala tadi tiada yang salah.
Namun Ares terlihat tak percaya. “Serius? Kok bisa begitu? Kau tahu, jika kau memang punya masalah, ceritakan saja. Aku pasti akan berusaha membantu.”
Kugigit kerupuk yang telah kuambil, lalu menelannya. “Benar-benar tak ada masalah, Res. Lagi pula, sepertinya fokus utamamu malam ini adalah Darla.” tanyaku, sambil menunjuk pacarnya yang tengah menelepon seseorang di luar tenda dengan daguku.
Cengiran lebar merekah di mulut Ares. “Iya juga sih. Tapi tetap saja, kau ini temanku, Dennis. Jika kau memang ada masalah---”
“Akan segera kuceritakan masalahku kalau aku memang punya nanti,” ucapku cepat memotong ucapannya, karena mulai merasa jengah dengan perhatian ini. Juga, ada sedikit perasaan bersalah yang timbul karena bersikap tak jujur.
Kulihat Ares hendak menanggapi kata-kataku, tapi segera diinterupsi dengan kedatangan seorang pria yang membawa pesanan kami.
Ketika semua mangkuk sudah habis tak bersisa, kami meninggalkan warung itu untuk kembali bermain-main. Ares tentu saja menempati janjinya. Empat porsi bakso itu ia bayar dengan uangnya sendiri.
Fatma memilih untuk berjalan seorang diri, terpisah dengan kami bertiga. Namun aku segera mengikutinya, meninggalkan Ares dan Darla berduaan yang sepertinya mereka tak masalah dengan itu. Meski sikap Fatma masih dingin, aku tetap saja berusaha lari menyusulnya sehingga posisi kami bersisian.
Sebelum Fatma kembali menjauhiku, aku segera berkata, “Jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini, Fat. Sifat itu benar-benar tidak pantas untukmu.” Fatma masih saja berdiam diri sehingga aku harus menambahkan, “Reaksimu ini benar-benar keterlaluan. Masalahmu itu dengan Fred, jangan seret aku ke dalam permusuhan kalian.”
Akhirnya, Fatma menoleh mataku. Sesaat ia hanya menatapku, kemudian ia mengembuskan napas berat. “Oke, baiklah. Aku tahu sikapku berlebihan. Maafkan aku, sepertinya ini karena efek pra menstruasi.”
Mulutku membentuk O setelah sadar dibalik sensitifnya sikap Fatma. Terpikir olehku beberapa kata sindiran, tapi kuurungkan karena itu akan membuatnya bersikap masam kembali.
Selama sesaat kami hanya berjalan-jalan dalam diam. Mengamati suasana ramai di sekitar kami. Gerobak dan roda para penjual berbagai jenis jajanan yang dikerumuni orang-orang, kios penjual pakaian, pernak-pernih aneh dan beragam wahana permainan dengan tempat pembelian karcis yang penuh.
“Aku masih berpikir apa yang kau lakukan itu salah,” ucap Fatma tiba-tiba beberapa menit kemudian.
Perhatianku yang tertuju pada salah satu wahana kini teralihkan. “Kelakuanku yang mana maksudmu?”
“Ya yang itu, memutuskan hubungan dengan Kania hanya gara-gara kau baru mengetahui status aslinya.”
Ingin sekali aku mendebat hal itu dengan mengungkit-ungkit nama Fred lagi, tapi hal semacam itu hanya akan membuat Fatma kembali marah. Kupikirkan kata-kata lain untuk menanggapinya. “Oke, jika menurutmu apa yang kulakukan itu salah. Lalu aku harus melakukan apa yang menurutmu benar?”
“Perjuangkan dia,” sambar Fatma cepat, seolah-olah dia telah mempersiapkan jawaban dari pertanyaan ini cukup lama. “Jika kau benar-benar menyukai wanita itu, dan aku yakin kau memang begitu, jangan sampai status jandanya membuatmu gentar.”
“Tapi … Fatma, dia sudah punya anak!”
“Apa salahnya dari seorang wanita yang memiliki anak, Dennis? Jika yang kau takutkan adalah reaksi orangtuamu, aku cukup yakin mereka tak akan mempermasalahkan hal itu. Malah, dugaanku mereka akan sangat senang.”
“Kenapa kau bisa seyakin itu?” tanyaku, heran dengan nada optimis yang terdengar dari suaranya.
“Karena,” jawab Fatma dengan perlahan, memastikan bahwa aku akan mendengar setiap kata dengan jelas, “diam-diam, ayah dan ibumu sudah sangat berharap memiliki cucu.”
Semakin terheran-heranlah aku. “Kau membual,” kataku tak percaya. Namun, tak urung juga satu imajinasi liar terbentuk dalam otakku, di mana dalam imajinasi itu, aku memperkenalkan Kania dan anaknya pada keluargaku, ayah dan ibu tersenyum bahagia menyambut calon cucunya. Imajinasi itu sangat indah hingga tanpa sadar aku tersenyum.
Fatma rupanya memperhatikan perubahan ekspresiku, nadanya sangat lembut saat ia kembali berkata. “Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku sering sekali berbincang dengan ibumu sehingga aku tahu hal itu. Mereka semata-mata tak berterus terang pada kalian karena merasa tidak enak telah memberi tanggung jawab yang kelewat besar.”
Aku cukup yakin bahwa kata “kalian” yang Fatma ucapkan itu termasuk Fred, tapi aku tak mengatakannya.
“Aku benar-benar bosan hanya berjalan-jalan seperti ini,” kata Fatma setelah dilihatnya aku tak menanggapi kata-katanya. “Bagaimana kalau kita naik sebuah wahana lagi?”
Bertepatan dengan itu, kami berhenti di depan sebuah wahana yang paling menyeramkan di pasar malam ini. Sebuah bangunan bertingkat dua dengan dinding kayu berdiri di hadapan kami, dinding luarnya dicat hitam dengan gambar berbagai jenis mahluk mengerikan: tuyul kerdil yang menggondol sekantung uang, pocong dengan lumuran darah di kain kafan putihnya, kuntilanak dengan kedua mata melotot dan mulut mengaga, serta mahluk besar berkulit hitam dengan taring besar yang mencuat dari mulut serta mata berwarna merah.
Sebuah suara rekaman terdengar membahana dari wahana itu: suara pria yang menggelegar tertawa serta kikikan nyaring seorang wanita. Dari dalam bangunan kecil itu, aku juga bisa mendengar teriakan ketakutan para pengunjung.
Aku menatap Fatma, mengangkat kedua alis dengan ekspresi menantang. “Bagaimana menurutmu?”
Fatma balas menatapku dengan sorot yakin di matanya. Mulutnya membentuk seringai. “Rumah hantu? Siapa takut?”
Kami membeli dua karcis dengan mudahnya karena tak ada antrian panjang di loket pembelian tiket. Sepertinya orang-orang yang berani mencoba memasuki Rumah Hantu ini hanya sedikit. Bahkan kami tak perlu menunggu lama untuk memasuki rumah hantu tersebut.
Sebuah lorong sempit dan panjang terhampar di hadapan ketika aku dan Fatma masuk bersamaaan. Satu hantu dengan cepat muncul menakuti kami hanya berselang sepuluh detik setelah kami masuk, itu adalah sosok yang terbungkus kain putih kusam dan noda merah. Wajahnya sehitam jelaga dengan mata melotot.
Aku melompat mundur dan Fatma menjerit, yang menurutku lebih menyerupai pekikan kaget daripada jerit ketakutan. Wajar sebenarnya karena pocong itu muncul dari balik kain hitam yang Fatma pegang sebelumnya. Setelah kekagetan Fatma mereda, kami hanya tertawa bersamaan menyadari betapa konyolnya reaksi kami.
Lebih jauh kami berjalan, hantu-hantu bermunculan lebih banyak. Sebutkan jenis hantu apa saja, dan semuanya ada. Dari sosok kerdil tak berambut yang menakut-nakuti dengan cara berlari cepat melewatiku dan Fatma, sampai sosok kepala gepeng wanita yang melayang tanpa tubuh dengan organ dalam yang menjuntai meneteskan cairan merah---kuyang. Harus kuakui, yang terakhir itu cukup menakutkan karena muncul melayang-layang di atas kepala dengan meyakinkan, dan setelah diteliti lebih cermat, itu hanya properti (bukan manusia berkostum) yang diikatkan dengan sebuah tali sehingga bisa melayang. Cairan merah yang menetes-netes pun ternyata hanya saus tomat encer.
Efek baik dari memasuki wahana ini adalah, Fatma benar-benar telah menjadi dirinya sendiri. Tak ada sedikit pun sikap dingin yang ia tunjukkan kepadaku. Kami berdua tertawa ketika hal yang memalukan terjadi, atau pura-pura menjerit ketakutan untuk menghargai kehadiran para hantu.
Sampai akhirnya kami melewati belokan terakhir untuk menelusuri lorong sempit menuju pintu keluar, satu hantu terakhir menampakkan diri. Itu adalah sosok anak kecil gemuk berlumuran darah yang berdiri di tengah lorong, hantu itu menunduk sangat dalam sampai aku tak melihat wajahnya, pakaiannya sangat kotor sampai sulit menebak warna atau motif apa yang ada pada pakaian itu.
Aku menatap sosok itu dengan tenang, penampilannya bukan yang paling menakutkan dari semua deretan hantu yang ada. Dengan enteng, aku dan Fatma berjalan melewatinya, tapi tak disangka, salah satu tangan hantu itu menggapai tangan kiriku dan mencengkeramnya dan sebuah suara yang sangat tidak asing terdengar dari sosok kerdil itu.
Christian Dennis, ini aku.
Seluruh tubuhku spontan membeku. Cengkaram itu semakin kuat. Aku menoleh pada sosok anak kecil itu, dan kudapati wajahnya yang pucat itu menengadah, kedua matanya yang sangat familier menatapku datar.
Christian Dimas? Batinku, seketika kegelapan mendominasi pengelihatan dan aku pun ambruk.
***