Jakarta. 06:24 WIB.
Setelah selesai memasak. Aku dan Fred menikmati sarapan pagi itu di meja dapur. Hanya telur mata sapi dan sosis. Tak ada nasi. Fred berdalih karena toh aku dan ia akan berangkat ke Bandung, jadi tak perlu membuat nasi karena proses pembuatannya terlalu lama. Aku tak mengerti apa hubungannya antara pulang ke Bandung dan lamanya waktu menanak nasi. Aku curiga alasan Fred yang sebenarnya hanya karena ia malas.
Sebelum berangkat, aku sedikit bercerita mengenai apa yang kudengar semalam saat menelfon Kak Irma. Ledakan emosi Ayah. Aku meminta pendapat Fred mengenai hal itu, tapi Fred berkata bahwa jangan membuat asumsi yang tidak-tidak sebelum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Aku menyetujui perkataannya itu.
“Kita akan mengetahui alasannya nanti, Dennis,” ucapnya, membereskan piring kotor dan menyuruhku untuk segera bersiap-siap pergi.
Yah, dalam beberapa hal, Fred terkadang bersikap seperti ibu.
Hanya berjarak beberapa menit dari komplek perumahan tempat kami tinggal, sebuah shuttle travel yang beroperasi setiap hari selalu siap mengantar para penumpangnya yang ingin berpergian antar kota. Sebagian besar jurusan Jakarta--Bandung. Shuttle Travel itulah yang sering digunakan aku dan Fred---dan juga Ayahku dulu---untuk berpergian. Kami biasanya memilih jurusan pemberhentian di daerah Cihampelas untuk sampai ke Bandung. Dari sana nantinya direncanakan salah satu temanku akan menjemput aku dan Fred mengantar sampai rumah.
Para calon penumpang sudah memadati area pembelian tiket saat aku sampai ke sana. Tidak mengejutkan memang, walaupun keberangkatan terpagi pukul tujuh belum berangkat. Bagi beberapa pekerja ibu kota yang memiliki kampung halaman dengan jarak tempuh dalam beberapa jam saja, tradisi pulang kampung bukanlah kegiatan yang terjadi setahun sekali, tetapi setiap minggu. Tentu saja itu pun jika kau memang punya uang lebih untuk melakukannya.
Beruntunglah untuk aku dan Fred karena telah memesan tiket dari jauh-jauh hari. Dengan mudahnya dua tiket kudapat saat kuberitahu nama Christian Dennis dan Fredian Rico akan mengambil tiket yang telah dipesan. Plus dua buah botol air mineral berukuran kecil sebagai tambahan. Pemberian standar yang akan didapat setiap penumpang yang telah mendapat tiket.
Dua tiket yang kudapat itu tertera nomor yang menunjukan nomor kursi di dalam mobil. Aku dapat kursi nomor 11, dan Fred nomor 12 yang membuat kami duduk berdampingan.
Karena jarakku dan Fred yang cukup dekat, dan karena berada didalam mobil sehingga sirkulasi udara kurang, hidungku mengernyit saat menyadari adanya aroma tak sedap yang berasal dari Fred.
Alkohol.
"Fred, sebelum berangkat, apa kau sudah memakai parfum?" tanyaku.
Fred yang tengah memainkan handphone-nya mendongak. "Aku sudah memakai parfum tadi sebelum berangkat. Kenapa?"
"Masih tercium bau alkohol darimu."
"Sungguh?" tanyanya terdengar panik, lalu ia mengendus tubuhnya sendiri. "Tidak bau." Fred kemudian menghembuskan napasnya lewat mulut ke telapak tangan kanannya, dan mengendusnya. "Oh, sialan. Aku lupa memakai pewangi mulut," umpatnya.
Aku memperhatikan tingkah konyolnya itu dengan tatapan heran. "Memang biasanya kau harus bagaimana? Menenggak sebotol penuh parfum agar baunya hilang?" Jelas, aku tak pernah tahu bagaimana biasanya cara Fred menghilangkan bau alkohol setiap kali ia habis minum.
Fred menatapku sebal. "Tidaklah. Aku bisa mati keracunan jika melakukannya. Biasanya aku pakai permen mint untuk mengurangi baunya. Dan aku lupa membawanya. Kau punya?"
Aku merogoh saku celanaku, seingatku masih ada beberapa biji permen mint yang memang biasanya kusimpan di sana sebagai bahan kunyahan mulutku dalam waktu senggang. Aku memberi beberapa permen itu kepada Fred.
Ia pun berdecak setelah melihat jumlah permen yang kuberi. "Hanya empat? Kau serius? Segini tidak akan cukup! Biasanya aku mengunyah belasan permen sekaligus agar bau alkoholnya tak tercium."
Kedua bola mataku berputar, habis sudah cadangan permenku. Aku beri seluruh sisa permen di saku celana itu padanya. "Ini yang terakhir. Jika masih kurang nanti bisa kita beli di Bandung sebelum pulang ke rumah."
Fred menerima sisa permen itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia buka bungkus permen itu satu per satu lalu melahap semuanya sekaligus. Benar-benar tak ada ucapan terima kasih.
Seharusnya Fred jangan minum terlalu banyak jika tahu besoknya akan pulang menemui keluarga kami. Menurutku suatu keajaiban Ayah dan Ibu masih belum tahu menahu tentang kelakuan Fred selama di Jakarta. Dan percayalah, sulit sekali membuat keadaan untuk tetap seperti itu.
Dua pekan yang lalu aku sampai memohon kepada Fatma agar ia tak mengadukan kelakuan Fred yang mabuk itu kepada orang tuaku. Fatma sempat menolak permohonanku dan malah menuduh bahwa aku sebagai sepupunya tak berusaha mencegah hobi buruk Fred itu. Perdebatannya cukup alot hingga akhirnya aku harus melontarkan alasan bahwa kesehatan kedua orang tuaku akan terganggu jika sampai mereka tahu, Fatma setuju untuk menutupi insiden itu dari Ayah dan Ibuku.
Sampai saat ini aku masih merasa bersalah karena sampai harus membawa masalah kesehatan orang tuaku sebagai dalih agar Fatma setuju.
Namun, alasanku itu tak sepenuhnya salah, bukan bermaksud membela diri sendiri, tapi kondisi kesehatan ayah dan ibuku memang tak terlalu bagus akhir-akhir ini, mereka pasti akan sangat khawatir jika tahu hobi Fred yang suka mabuk-mabukan itu, dan turut mengkhawatirkan diriku pasti. Cemas bahwa aku dan Fred terjerumus pergaulan bebas selama kami di Jakarta.
Untuk ukuran seseorang yang pernah tinggal di ibu kota dan menjalani gaya hidup konsumtif, pemikiran kedua orangtuaku masih bisa dibilang ‘kuno’.
Mobil Travel yang kutumpangi segera melaju pelan ketika semua penumpang memenuhi mobil ini. Deruman rendah mesin mobil terdengar seiring ban yang berputar, meninggalkan shuttle travel beserta penumpang-penumpang lain yang kebagian tiket untuk keberangkatan berikutnya.
Pada hari kerja, jarak tempuh dari Jakarta ke Bandung bisa memakan waktu dua setengah jam penuh, itu sudah termasuk dua kali berhenti untuk mengisi bensin mobil dan beristirahat. Namun, hari ini adalah akhir pekan. Mobil-mobil pribadi memenuhi jalan sehingga mobil travel terjebak macet beberapa kali. Mobil baru dapat melaju lancar di jalan tol saat matahari sudah berada cukup tinggi di langit sana.
Selama perjalanan, tak ada obrolan menarik yang terjadi antara aku dan Fred. Sepupuku itu sudah tenggelam dalam lamunannya sendiri. Earphone terpasang di telinganya, mendengarkan musik. Sementara aku hanya menatap ke arah luar, jalanan dan pesawahan tampak berkelebat, bergerak mundur dengan cepat. Seolah mereka yang bergerak, bukannya mobil travel.
Tak dapat dipungkiri, aku kembali teringat pada Kania. Persis seperti inilah kondisi ketika aku dan Kania bertemu pertama kali. Duduk bersebelahan di dalam travel. Bedanya, perjalanan saat itu dari Bandung ke Jakarta, dan posisi duduk Fred ada di kursi di belakangku.
Mulanya, Kania yang mengajak beinteraksi denganku, ia menyapaku terlebih dulu lalu bertanya apa sekiranya aku punya permen. Kulit wajahnya tampak pucat waktu itu. Aku lalu mengiyakannya, mengambil satu permen yang kupunya dan memberikannya pada Kania, saat itu tak sengaja aku melihat cover depan sebuah buku yang memang sedari tadi dibacanya. Buku itu kini tertutup di pangkuannya.
“Wow, Fifty Shades Of Grey?” seruku, yang seraya menyerahkan sebungkus permen itu ke tangannya.
Kania awalnya tampak tak acuh pada seruanku, hanya fokus dalam usahanya membuka bungkusan permen dengan jarinya, hingga akhirnya ia melihat arah pandanganku dan tatapanya melebar. “Eh, kau tahu buku ini?” tanyanya, nampak keheranan alih-alih malu.
Aku mengangguk. “Tentu saja, anak muda yang punya jiwa pemberontak pasti tahu buku semacam itu.”
Kania tertawa pelan, sepertinya ia tengah berusaha mengontrol ekspresinya sendiri. “Aku tak menyangka buku ini dapat dikenali orang lain. Kau sudah membacanya? Bagaimana menurutmu ceritanya?”
Telapak tangan kiriku mengusap-usap tengkukku. “Aku tak sampai selesai membacanya. Hanya mendapat pinjaman dari seorang teman penggila buku, lalu mengembalikannya segera setelah aku membaca bab lima.”
Gadis itu menyerungai. “Ya, aku paham alasannya kenapa. Tak semua orang punya selera bacaan yang unik,” ucap Kania sepakat. Ia lalu memasukkan permen itu ke dalam mulutnya.
“Aku salah satunya. Dan kau tau? Menurutku bukan tindakkan yang bijaksana membaca buku semacam itu di tempat umum.”
Tak ada jawaban atau bantahan yang keluar dari mulutnya, tapi dilihat dari pipinya yang merona, kutebak ia tengah menahan rasa malu.
“Kulihat tadi kulit wajahmu pucat,” kataku perlahan, berusaha menggodanya lebih jauh lagi. “Jangan-jangan alasannya karena kau tengah membaca bagian puncaknya?”
Kania kini tak segan untuk memalingkan wajahnya, berusaha menahan emosi apa pun yang kini tengah membanjirinya. Beberapa menit kemudian, ia menolehkan wajahnya kembali. Kulit mukanya merah padam, tapi ia masih bisa mengendalikannya. “Aku tak bisa berbohong soal itu. Pria seperti Christian memang punya pesonanya sendiri.”
Kemudian Kania melakukan sesuatu yang tak pernah kuduga akan ia lakukan, setidaknya aku menduga begitu karena kami baru saja berkenalan: ia menyipitkan kedua matanya dan menjulurkan lidahnya ke arahku.
Ekspresi yang memiliki arti bahwa ia mengejek dan tak peduli dengan ucapanku.
Seharusnya aku merekam ekspresi wajahnya saat aku memberitahu namaku. Christian … tanpa Grey di belakangnya.
Seingatku, butuh setengah jam bagi Kania mengontrol dirinya sendiri.
Namun, sejak itulah aku mulai tertarik pada dirinya. Hal-hal yang kami obrolkan selanjutnya membuatku semakin yakin untuk meminta kontak pribadinya setelah kami sampai di tempat tujuan.
Sekarang, semua itu tak ada artinya lagi. Hubunganku dengannya sudah berakhir tadi malam. Di kaca jendala mobil travel yang kini aku tatap, aku bisa membayangkan mimik muka konyolnya itu. Menjulurkan lidah padaku, mengejekku karena aku tak segera menyadari status Kania yang sebenarnya.
Bahwa ia seorang janda.
***