Kejutan ulang tahun Rey mulanya akan diadakan di rumahnya. Namun, Ado berinisitif memindahkannya ke salah satu restorannya. Ia akan mengosongkan lantai atas khusus di hari ulang tahun putranya.
Sempat terjadi perdebatan di antara kedua orang dewasa itu. Menurut Klari, tidak perlu sampai merayakan di restoran. Di rumah saja sudah cukup, asal mereka bisa merayakannya bersama-sama, Rey pasti akan sangat senang. Sedangkan Ado, bersikeras ingin merayakan ulang tahun Rey di tempat yang lebih bagus.
Terlalu lama berdebat sampai ada panggilan masuk dari Divia, keduanya pun menyudahinya dan berakhir Klari yang mengalah kali ini. Ado pun menang. Kejutan ulang tahun Rey akan diadakan di restorannya.
Setibanya di malam kejutan, Ado dan Klari menggandeng Rey menuju ke lantai atas restoran yang telah dihias. Dibantu para pekerja Ado, lantai atas pun disulap sedemikian rupa.
Kriwil beserta teman-temannya dibuat heran dengan kedatangan Klari dan anaknya. Mereka masih ingat jika Klari sempat datang kemari untuk menjadi pengganti Cindy, salah satu pekerja yang sekarang telah resign. Namun di hari pertama akan bekerja, perempuan itu tahu-tahu lari menuruni anak tangga sembari memasang wajah ketakutan. Dan semenjak itu, mereka tidak mendapat jawaban pasti kenapa Klari malah pergi di hari pertamanya bekerja. Termasuk Kriwil, tetangga Klari pun tidak tahu menahu.
Mereka kembali dikejutkan kala Ado mengenalkan Rey kepada semua pekerjanya sebagai anaknya. Kriwil membeliakkan matanya tidak percaya. Ia mencoba melirik temannya yang terlihat sama bingungnya. Rey, anak bos mereka? Sebentar. Bukannya anak bos mereka telah dibawa pergi oleh mantan istri laki-laki itu? Apa... jangan-jangan Klari adalah mantan istri Ado yang dibicarakan orang-orang selama ini? Jadi, Klari dulunya pernah berselingkuh dengan laki-laki lain? Woah! Ini seperti plot twist dalam film!
Berbeda di lantai bawah para pekerja sedang menggosipkan keluarga bosnya, sementara di lantai atas tampak meriah walaupun kejutan hanya dihadiri Ado, Klari, Lakka dan Divia, serta Rey, yang berulang tahun hari ini. Ado membuka penutup mata Rey.
Seketika suara terompet sampai balon yang meletus memenuhi lantai atas. Rey mengerjapkan matanya. Memandangi orang-orang dewasa di sana lalu tersenyum girang. Apa lagi saat kedua orang tuanya menyerukan ucapan selamat ulang tahun dan mencium pipinya di kanan kiri.
"Selamat ulang tahun, Rey!" Divia meniup terompetnya penuh semangat. "Udah tujuh tahun sekarang. Bentar lagi jadi anak SD! Cepet gede ya, Rey. Tante penasaran kamu gedenya seganteng apa nanti."
Klari mencubit lengan Divia lalu mendelik sebal. Divia mengerucutkan bibirnya, namun masih saja semangat mengikuti pesta ulang tahun Rey.
Lakka maju mendekat kemudian memberikan Rey sebuah kado. "Selamat ulang tahun ya, Rey. Sehat terus, jadi anak pinter, sayang sama orang tua dan selalu jadi anak baik."
Rey menerima kadonya. "Makasih Om Lakka." Lantas, pandangannya beralih kepada Divia. "Tante Vi, kado buat aku mana?"
Divia cengar-cengir sendiri. "Kado ya?" Perempuan itu cengengesan. "Kadonya, doa aja, deh. Karena kata orang, ucapan doa di hari ulang tahun lebih berarti."
Klari menghidupkan lilin di atas kue ulang tahun buatannya bersama Ado. Ya, Ado membantunya membuat kuenya. Ini bukan hasil buatan pertama mereka. Melainkan percobaan kelima, karena kue-kue sebelumnya gagal. Terlalu banyak air yang dituangkan, kue yang gosong, sampai hasil yang dijadikan malah keras mirip batu. Dan di percobaan kelima, maka jadi lah kue ulang tahun untuk Rey.
Ado tertawa geli mengingatnya. Hanya membuat kue saja, ia harus berjuang sebegininya.
"Tiup lilinnya, Rey!" teriak Divia heboh.
Rey meniup lilinnya hingga satu per satu mati. Semua bertepuk tangan termasuk Rey sendiri. Bocah itu terlihat senang. Belum pernah Klari melihat anaknya tertawa sesenang itu.
"Potongan pertama buat siapa?" tanya Divia, maju mendekati Rey.
"Buat Mama sama Ayah," katanya. "Mama sama Ayah makannya harus barengan."
Maksud Rey ialah menggigit potongan kue yang disodorkannya dengan dibantu Lakka. Ado dan Klari kompak menengok, menatap satu sama lain yang kemudian mengangguk, mengiakan keinginan Rey.
Ado dan Klari menggigit potongan kue dari Rey bersamaan. Pipi keduanya saling bersentuhan. Saat mereka mundur menjauhi kuenya, mereka lagi-lagi saling menatap dan tersenyum canggung.
"Ayo main games!" Lagi, Divia tidak hentinya mengoceh.
"Ayo, ayo!" seru Rey sama semangatnya.
Sementara Ado, Klari dan Lakka cuma bisa menghela napas sekaligus heran. Divia, perempuan itu seperti memiliki baterai di belakang punggungnya. Benar-benar cerewet dan berisik.
"Coba cabut baterainya, Mbak," celetuk Lakka, Ado malah tertawa mendengarnya.
***
"Jalan terus, Kla!" sorak Divia memberi arahan pada Klari.
Mereka mengikuti permainan yang dibuat oleh Divia. Jadi permainannya harus ada satu orang yang ditutup matanya dan harus menangkap siapa pun orang di sekitarnya. Sedangkan ada satu orang lagi yang akan menjadi pengarah yang matanya ditutup.
Divia berperan menjadi pengarahnya. Sementara Klari berperan sebagai orang yang ditutup matanya. Divia meminta Klari ke kanan ke kiri lalu maju sambil mengamati letak berdiri Ado.
Rey menggandeng Lakka, mengajak cowok itu lari ke sana kemari demi menghindari mamanya. Bocah itu menutup bibirnya agar tidak mengeluarkan suara.
Klari meluruskan kedua tangannya, berlari ke kanan lalu ke kiri mengikuti sesuai arahan yang dibuat Divia. Perempuan berambut pendek itu sengaja membuat temannya lari ke arah yang tidak ada satu pun orang di sana. Divia menarik kursi lantas duduk manis. Namun walaupun begitu ia masih saja berteriak seolah memberi arahan yang benar. Padahal nyatanya Divia sedang mengerjai Klari.
"Ya, di situ. Cepet tangkap, Kla," seru Divia, meneguk minumannya santai.
Terdengar suara tawa Klari karena telah berhasil menangkap satu orang. Kedua tangannya melingkari pinggang orang itu.
"Coba tebak yang lo tangkep siapa," celetuk Divia menahan tawa. Ia menghampiri Rey lalu mengajak bocah itu berhigh five. "Sttt..." bisik Divia di telinga Rey.
"Lakka?" tebak Klari ragu.
"Hei!" umpat Divia. "Itu namanya penghinaan! Sejak kapan badannya Lakka jadi sebesar itu," ejek Divia.
Lakka cuma melirik perempuan di sampingnya sesekali menggeleng. Ia meringis melihat perbedaan badannya dan Ado, laki-laki yang sedang dipeluk Klari. Dari ukuran tinggi badan saja sangat jauh. Untuk ukuran laki-laki, Lakka tidak terlalu tinggi, tapi tidak pendek juga. Sedangkan Ado memiliki badan tinggi tegap.
"Nggak sekalian aja lo bilang itu Rey," cerocos Divia. "Yang dipeluk bapaknya Rey, ding!"
Divia dan Rey tertawa cekikikan. Mereka berdua terlihat puas mengerjai Klari. Sampai sekarang perempuan itu tidak menyadari jika orang yang dipeluknya adalah Ado. Memangnya siapa lagi yang punya badan tinggi tegap selain Ado di sini?
Klari menarik penutup matanya hingga turun. Ketika sepasang matanya terbuka, benar saja, wajah tampan Ado yang dilihatnya pertama kali. Divia menjerit, melompat bersama Rey. Lalu, suara siulan menggoda yang dibuat Divia.
Ado menahan tangan Klari di pinggangnya. Berulangkali perempuan itu ingin menarik tangannya, namun ditahan oleh Ado sampai Klari bingung sendiri.
"Nggak enak dilihat mereka, Do," bisik Klari, masih berusaha melepaskan pelukannya.
Setelah sekian lama, Klari merasakan dadanya berdebaran hebat. Bahkan ini bukan pertama kalinya. Semenjak mereka dekat, menghabiskan waktu lebih banyak, serta perhatian Ado kepadanya dan Rey, Klari merasakan menemukan sesuatu yang baru. Setiap kali melihat Ado, Klari sering gugup tanpa sebab, terkadang salah tingkah walaupun ia bisa mengatasinya tanpa kentara.
"Kita dulunya sering begini?"
"Begini?" gumam Ado bingung.
"Pelukan," jawab Klari.
"Kenapa? Kamu deg-degan sekarang?" ejek Ado sambil tertawa pelan.
"Lepasin, Do. Aku... mau ke toilet."
"Jawab dulu pertanyaan aku," godanya, malah balas memeluk pinggang Klari.
"Nanti." Klari menatap Ado. "Tapi aku harus ke toilet dulu."
Ado melepaskan tangannya. Pelukannya terurai, dan segera pergi lah Klari ke toilet di lantai bawah. Ia memegangi dadanya yang belum mau berdetak dengan normal. Dari luar saja ia bisa mendengar suara jantungnya seperti sedang dipukul-pukul layaknya sebuah drum.
Klari menggelengkan kepalanya, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Ia harus tenang. Anggap saja ia terlalu terbawa suasana karena beberapa hari terakhir Ado sering bersamanya. Ini tidak akan lama. Saat mereka jarang bertemu nanti, perasaan berdebaran hebat ini akan hilang dengan sendirinya.
"Jadi, itu anaknya Mas Ado? Anak kandungnya?"
"Kayaknya sih gitu. Kita semua di sini tahu kalau Mas Ado emang punya anak cowok, tapi dibawa pergi sama mantan istrinya!"
"Terus, perempuan yang ikut ke sini siapa? Bukannya itu ibunya si anak ya?"
"Jelas ibunya lah! Lo nggak denger anaknya Mas Ado manggil perempuan tadi apa? Mama, kan?"
"Sekarang gue bisa tidur nyenyak. Pantes aja istrinya selingkuh dulu ya. Orang cantik begitu. Jelas saingannya Mas Ado banyak."
"Percuma cantik kalau tukang selingkuh! Hih!"
Klari diam melamun di atas anak tangga. Di bawah anak tangga, sekumpulan pekerja sedang menggosipkan Ado, atasan mereka sendiri.
Siapa yang mereka maksud sebagai mantan istri Ado? Apa itu dirinya? Jadi, di masa lalu ia pernah berselingkuh dan berakhir bercerai dengan Ado lalu pergi membawa Rey?
To be continue---