Beri Dia Kesempatan

1271 Kata
"Rey ngapain berdiri di depan pintu? Ayo masuk," ajak Divia akan menggandeng Rey berniat membawanya masuk dan menutup pintu. "Aku lagi nunggu Om Ado," jawab Rey polos. "Om Ado udah janji setiap kali hujan, mau ke sini buat lindungin aku sama Mama." Divia terbengong. Ado siapa yang dimaksud Rey? Apa itu teman laki-laki Klari diperkenalkannya kepada anaknya? Tapi... rasanya tidak mungkin. Klari tidak akan semudah itu diluluhkan laki-laki. Temannya satu itu sangat tertutup pada orang asing. "Om Ado siapa?" tanya Divia setengah berbisik. Rey mengangkat kedua bahunya. Mungkin saja bocah itu bingung harus menyebut Ado sebagai apa. Tanpa diketahuinya, Ado adalah Ayah kandung yang selama ini ia idamkan dan ingin ia pamerkan kepada teman-teman di sekolah. Divia mengerucutkan bibirnya sembari menyilangkan kedua tangan di depan d**a. Kedua kaki kecil Rey melangkah menuju kursi di ruang tamu lalu duduk dengan mengarahkan pandangan lurus ke layar TV yang tengah menayangkan acara kartun. Perempuan berambut pendek tersebut melangkah ke dapur menyusul Klari. Divia memerhatikan temannya, ia merasakan kalau Klari sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Entah apa itu, tetapi Divia yakin ini bukan permasalahan biasa. Klari seringkali ketahuan melamun, lalu menggeleng saat ditanya sedang memikirkan apa. Klari belum menyadari keberadaan Divia di ambang pintu. Sambil memotongi bawang beserta bumbu-bumbu yang lainnya, ia melamun lagi. Kedatangan Ado dua hari lalu di rumahnya membuat Klari memikirkannya berkali-kali. Perasaan tidak percayanya kepada laki-laki itu seakan berubah dalam sekejap hanya karena melihat interaksi Ado dan Rey malam itu. Klari berhenti memotong bawangnya, kemudian menarik napas dan membalikkan badan. Saat itu juga ia dikejutkan kemunculan Divia di samping meja dapur. "Jujur deh, lo kenapa?" tegur Divia, tanpa basa-basi. Klari diam sejenak, perempuan itu sedang berpikir apakah ia harus menceritakannya kepada Divia atau tidak. Tapi, sepertinya ia butuh saran dari seseorang. Memgingat hanyalah perempuan itu teman dekatnya, Klari memutuskan untuk bercerita kepada Divia. "Ada laki-laki yang ngaku sebagai ayahnya Rey," gumamnya. Sepasang mata Divia mengerjap-ngerjap. Akhirnya setelah sekian lama ia penasaran siapa Ayah kandung bocah itu, kini muncul juga ya. Divia mendekati Klari, berdiri di samping perempuan itu memasang eskpresi penasaran luar biasa. "Gimana? Orangnya cakep, nggak?" tanya Divia heboh. "Vi," tegur Klari. Divia cengengesan lalu meminta maaf. Klari melanjutkan ceritanya tanpa ia sela. Divia menarik kursi di dapur lantas duduk sambil mendongakkan wajahnya mengamati cara Klari bercerita. "Dua hari lalu dia datang ke rumah," kata Klari. "Tadinya mau aku usir aja. Tapi, karena dia kehujanan, aku ajak masuk." Pada pertemuan terakhir mereka, Ado tidak pernah mengganggunya lagi. Ia pikir laki-laki itu sudah menyerah. Namun ternyata tidak. Ado tiba-tiba datang ke rumah dalam keadaan tubuhnya yang basah karena kehujanan. Klari merasa tidak tega mengusir Ado begitu saja. Maka ia pun mengajak Ado masuk ke dalam rumah. Paling tidak sampai hujan berhenti. Saat Ado sudah berada di dalam rumahnya, Klari pergi ke dapur membuatkan secangkir teh setelah memberinya handuk bersih. Di ruang tamu hanya ada Ado dan Rey. Walaupun sempat ragu meninggalkan mereka hanya berdua, namun Klari membiarkannya dan bersikap setenang mungkin. "Terus, Kla?" tanya Divia tidak sabaran. "Aku lihat Ado dipeluk sama Rey." Klari mengatakannya dengan suara pelan. "Nggak tahu ini cuma perasaanku aja, tapi aku ngerasain Ado sama Rey kayak punya ikatan erat." Tanpa sadar ia tersenyum. Setiap kali mengingat kejadian dua hari lalu kala Rey memeluk Ado, entah bagaimana awalnya mereka bisa berpelukan, hati Klari rasanya sangat hangat. Interaksi yang ditunjukkan tidak banyak, tidak juga lama, tapi sangat melekat di hati kepala Klari. "Kla," Divia menatap temannya sebentar. "Mungkin nggak, sih, kalau Ado beneran ayahnya Rey? Karena kata orang, ikatan batin antara anak sama ayahnya itu kuat." Klari diam sejenak, gantian Divia yang berbicara sekarang. "Lo baru lihat Rey sama Ado pelukan aja udah tersentuh hatinya. Gimana kalau dia makin yakinin lo pake hal lain?" "Maksudnya?" Divia bergumam, "Misalnya, dengan biarin Ado deket sama lo berdua. Kalau emang dia orang di masa lalu lo sekaligus ayahnya Rey, hati lo bakal bergerak dengan sendirinya. Kenapa nggak lo kasih kesempatan Ado buat buktiin?" Klari menggigit bibir bawahnya. Jujur saja ia takut. Bagaimana kalau Ado hanya orang jahat yang berusaha merebut Rey darinya? Divia membawa tangan Klari, lalu menepuknya beberapa kali. "Nggak semua orang asing itu jahat, Kla. Ada saatnya lo menaruh kepercayaan sama seseorang." "Kalau seseorang itu bikin kecewa, gimana?" tanya Klari. "Ya lo tinggalin." Divia menyahut. "Ada kalanya kita harus melawan rasa takut. Kalau lo di situ-situ aja, lo nggak akan tahu seberapa banyak macam-macam manusia di dunia." Klari menatap Divia tanpa bersuara. Ia berusaha menelaah kata-kata temannya itu. Sampai ia akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tiba-tiba Rey berteriak dari ruang tamu. "Om Ado!" Divia menyikut Klari. Kedua perempuan itu keluar dapur untuk melihat Rey. Saat itu juga, untuk yang kedua kalinya Klari melihat keduanya berpelukan. Bahkan Rey tertawa seolah senang melihat laki-laki itu datang. "Sialan, cakep banget anjir," umpat Divia. *** "Gue balik dulu. Dah." Divia melambai-lambaikan tangannya sembari mengulum senyum menggoda Klari. Padahal ia baru berada di rumah Klari sekitar satu jam yang lalu. Hari ini jadwal libur bekerjanya, ia berniat menghabiskan waktu bersamanya di rumah Klari karena Divia tinggal sendiri di sebuah tempat kos yang tidak jauh dari salon, tempatnya bekerja. Divia memasang sepatunya sesekali menengok ke dalam. Perempuan itu tidak hentinya tersenyum senang melihat seorang laki-laki yang agaknya mulai menyentuh hati Klari. Di samping itu, Ado dan Klari sama-sama kompak memandangi Rey yang duduk di lantai. Bocah berusia enam tahun tersebut sedang sibuk membuka hadiah yang diberikan Ado. Ada sepatu, tas sekolah, sampai berbagai macam mainan yang membuatnya sangat girang. Klari tersenyum tipis, jari-jarinya menyisiri rambut hitam Rey dengan sayang. "Makasih ya, Kla." Mendengar Ado yang berterima kasih kepadanya, Klari pun menengok. "Untuk apa?" tanyanya bingung. "Karena kamu nggak minta Rey buat nolak pemberian aku," kata Ado, tidak berhenti tersenyum senang. Hadiah itu ia berikan khusus untuk Rey. Sebelum datang kemari, Ado menyempatkan dirinya pergi membelikan mainan hingga sepatu untuk anaknya. Mulanya Ado kebingungan saat ditanya ukuran berapa yang ia cari. Berbekal feeling, sampai mengira-ngira seberapa besar ukuran kaki anaknya, Ado pun mengatakannya kepada si SPG. Dan bersyukur, ukurannya pas di kaki Rey. Klari hanya bergumam sebagai balasan. Perempuan itu beranjak dari tempat duduknya berniat menyelesaikan pekerjaan dapurnya yang belum selesai. Ia menengok ke belakang sesaat, Ado bahkan berpindah duduk di lantai agar bisa menemani Rey bermain mobil-mobilan. "Aku titip Rey sebentar," ujar Klari, dan mendapat anggukkan kepala dari Ado. Di dapur, Klari melanjutkan kegiatan memasaknya. Jam makan siang hampir tiba, tetapi masakannya belum selesai akibat diajak mengobrol oleh Divia. Bumbu yang ia siapkan sudah dihaluskannya. Sebagian dipotongnya tipis-tipis untuk menumis. Ikan yang digorengnya telah dipindah ke piring lalu meletakkannya di atas meja dapur. Saat akan menuangkan minyak ke dalam penggorengan, tiba-tiba Klari teringat sesuatu. "Aduh." "Kenapa?" tanya seseorang di belakangnya. Kepalanya yang sempat tertunduk sekarang terangkat. Ia pun menoleh ke arah suara dan mendapati Ado yang tahu-tahu ada di dapur. Klari menggeleng pelan, lalu meringis kecil. "Bukan masalah besar. Aku cuma lupa masak nasi," ringisnya lagi. Tadinya masih ada sisa nasi hasil masakan pagi. Tapi Divia datang, kemudian mengeluh belum makan. Klari pun mengatakan Divia bisa memakan makanan yang ada di dapur. Ia mengatakan bisa memasak lagi untuk makan siang. Namun dengan bodohnya Klari malah lupa. Sementara lauk-pauknya hampir selesai dimasaknya. Ado tertawa mendengarnya. Klari menatap Ado, tanpa ekspresi mau pun melayangkan sebuah protes kenapa Ado malah menertawainya. Ado segera menelan kembali suarnya ditatap seperti itu. "Boleh aku bantu?" tawarnya. "Asal nggak merepotkan kamu," sahut Klari. Ado menggeleng kecil. "Sama sekali nggak." Klari menyebutkan di mana ia menyimpan berasnya. Ado pergi ke mana ujung jari perempuan itu menunjuk. Sebelum mengambil beberapa gelas beras untuk ia cuci, Ado menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Klari mengamatinya tanpa berkedip. Benar kata Divia. Ado... tampan. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN