Semua Demi Rey

1686 Kata
Ado dan sepupunya memilih bertemu di kantin rumah sakit, berjaga-jaga jika Gino mendapat teleponan darurat dari rumah sakit. Ado benar-benar berada di sana, melambaikan tangan ke arahnya sembari menyunggingkan senyum. Gino, dokter bedah sekaligus sepupu Ado tersebut mengambil tempat duduk di seberang. Kakak sepupunya itu bahkan sudah memesan dua cangkir kopi. Gino tidak perlu khawatir. Ado sangat mengenalinya. Bahkan, selera lidahnya terhadap makanan dan minuman pun Ado sangat paham. "Tumben sih, Mas," ujar Gino, begitu ia menemukan Kakak sepupunya. "Tahu-tahu dateng tanpa telepon dulu." Ado mendorong satu cangkir kopi ke depan Gino. "Kebetulan lagi nganter mamanya Rey," katanya. Tangan Gino yang hendak menyentuh cangkirnya jadi diam di tempat duduknya. Ia menengok ke samping, kemudian bertanya heran, "Deya udah ngasih izin Mas buat ketemu Rey?" Laki-laki itu jadi salah tingkah. Ia lupa bercerita ke Gino perihal Rey yang diasuh oleh perempuan lain. Alih-alih itu Deya, Ibu kandung Rey, anaknya malah diasuh perempuan asing, yang bahkan tidak Ado kenali sebelumnya. "Bukan Deya, Gi." Ado menatap Gino sendu. "Rey diasuh sama perempuan lain." Secangkir kopi di depan matanya sudah penting lagi. Maka didorongnya cangkir tersebut lantas balas menatap Ado dengan raut bingung. "Kamu pasti bingung." Ado menimpali setengah tertawa hambar. "Sama, Gi. Aku juga bingung." Laki-laki berusia tiga puluh tujuh tahun tersebut terlihat sedih. "Aku orang tua kandungnya, tapi malah nggak bisa tinggal sama anak aku sendiri. Aku harus pura-pura jadi bagian masa lalu seseorang, dan pura-pura juga menyukai orang itu." Kata-kata Ado terlalu rumit bagi Gino. Kenapa harus menjadi bagian masa lalu seseorang, apa lagi sampai pura-pura menyukainya? Memangnya ada apa dengan kehidupan Kakak sepupunya? Dan lagi, kenapa bisa Rey diasuh perempuan lain, bukannya Deya, Ibu kandung bocah itu? *** "Kenapa, Kla? Kok, ngelamun?" tegur Ado. Klari memasang sabuk pengamannya dan bergumam, "Tadi aku nggak sengaja nyenggol figura di apartemen." "Terus?" "Ya, pecah." Klari menggigit bibir bawahnya. "Karena aku nggak punya nomor yang punya apartemen, aku tinggalin sticky note di bawah figuranya yang pecah. Selain minta maaf, aku ngasih nomor telepon aku." "Buat apa?" tanya Ado. "Kamu bisa hubungin lewat asistennya aja, Klarissa." "Aku nggak enak kalau lewat asistennya. Apa lagi, itu kayak foto berharga. Karena selain foto yang di figura itu, semua foto pemiliknya cuma sendirian." Hampir dua minggu ia bekerja membersihkan apartemen, belum sekali pun Klari bertemu dengan pemiliknya secara langsung. Ia hanya akan berkomunikasi dengan asisten atau sesekali manajer laki-laki itu. Mengenai figura yang tidak sengaja ia senggol sampai pecah, Klari merasa foto itu adalah foto paling hangat yang ia lihat di apartemen. Karena semua foto yang ditempel ke dinding mau pun kamar si pemilik selalu sendirian. Hanya foto di figura itu si pemilik foto bersama dua orang. Satu perempuan dan satu laki-laki. "Oh." Bibir Klari membulat bersamaan dengan kedua matanya. Ado melambankan laju mobilnya, lantas menengok ke samping. "Kenapa? Ada yang ketinggalan?" "Bukan," gumamnya. "Kayaknya aku tahu salah satu laki-laki di foto itu." Ado mendengar cerita Klari. Perempuan itu mengatakan baru tadi pagi ia bertemu dengan salah satu laki-laki yang ada di foto itu. Klari bergumam, "Apa jangan-jangan pemilik apartemennya dokter tadi, ya?" Kemudian ia menggeleng tidak yakin. "Tapi kata Divia, yang punya apartemen itu artis," gumamnya sendiri. "Bisa jadi temennya yang punya apartemen, Kla," sahut Ado, menghentikan laju mobilnya saat lampu mulai berubah merah. "Iya, sih." Klari mengiakan tebakan Ado. "Atau aku perlu ketemu dokter tadi buat nanyain temennya? Ya... gimana pun aku perlu minta maaf." "Nggak usah, Klarissa." Ado menggelengkan kepalanya, tidak menyetujui perempuan itu. "Tunggu sampai pemiliknya telepon kamu sendiri. Atau lebih baik kamu bisa telepon asisten atau manajernya aja." Klari memilih diam setelahnya. Jelas ia dan Ado tidak memiliki pendapat yang sama. Klari tidak bisa menunggu sampai si pemilik menghubunginya. Ia akan merasa bersalah jika dirinya tidak meminta maaf secara langsung dan bertanya bagaimana ia akan mengganti figura yang telah ia pecahkan. Dilihat dari profesinya sebagai artis, pasti figura yang dipecahkannya berharga mahal. Bagaimana kalau harganya ratusan ribu, atau bisa jadi harganya jutaan rupiah? Aish. Bahkan ia baru dua minggu bekerja, tapi sudah harus menggantikan figura harga jutaan. Ya, Tuhan. Klari menyandarkan kepalanya ke pintu mobil dan menghela napas panjang. Ado melirik Klari diam-diam. Cuma karena menyenggol figura saja sudah kepikiran sebegitunya. Ya ampun. *** Ado mau pun Klari berbaring di tempatnya dengan perasaan canggung. Terlebih Klari, ia baru pertama kalinya berada di ranjang yang sama bersama seorang laki-laki. Ini semua karena kemauan Rey. Bocah itu merengek sepanjang hari, mengatakan bahwa ia ingin pergi menemui ayahnya. Klari mulanya memberi pengertian kalau ayahnya sedang sibuk bekerja. Dalam hati, Klari merasa tidak enak jika terlalu sering menghubungi atau menemui Ado di apartemen laki-laki itu. Ya walaupun semua karena keinginan Rey, tapi rasanya riskan saja. Tanpa sepengetahuan Klari, Rey diam-diam menelpon Ado menggunakan ponsel mamanya yang tergeletak di atas meja di samping ranjang. Bocah itu bersembunyi, berbicara kepada Ado di telepon kalau ia sangat merindukan ayahnya, tetapi sang Mama malah beralasan kalau ayahnya sibuk. Ado menarik napas. Ada perasaan kesal di dadanya. Kenapa Klari harus mengatakan kalau ia sedang sibuk? Biarpun sibuk sungguhan, Ado bersedia meluangkan waktunya untuk anak semata wayangnya. Sebelum sambungan telepon berakhir, Ado mengatakan agar Rey bersiap-siap karena ia akan menjemput Rey. Bocah itu pun sangat senang, namun tetap menjaga suaranya agar tidak didengar oleh mamanya. Dan, kedatangan Ado membuat Klari heran. Sementara Ado menatap Klari sedikit lebih dingin dari biasanya karena aduan Rey di telepon. Tidak ada yang lebih membuat Rey senang selain melihat kedua orang tuanya bersama. Seolah telah merencanakan agar Ayah dan mamanya selalu bersama, Rey pura-pura ngambek saat Klari tidak ingin ikut bersama Ado dan Rey. Perempuan itu hanya mengatakan bahwa ia mengizinkan Rey pergi bersama sang Ayah. Tentu saja jawaban Klari membuat bocah itu uring-uringan. Karena Ado tidak ingin melihat anaknya menangis, ia pun membujuk Klari agar mau ikut pergi bersama mereka. Jujur saja, Klari masih kesal karena kejadian kemarin. Ado tidak setuju jika ia pergi menemui dokter yang diperkirakan sebagai teman dari pemilik apartemen tempatnya bekerja. Sedangkan Klari, ia merasa tidak enak karena telah merusakan barang seseorang tanpa meminta maaf secara langsung. Malamnya, ketika Ado, Klari dan Rey pulang dari jalan-jalan, laki-laki itu membawa pasangan Ibu dan anak tersebut pulang ke apartemennya Rey. Rey mengatakan ingin tidur bersama ayahnya malam ini. Klari mulai pusing dengan permintaan Rey akhir-akhir ini. Ia merasa perasaan Rey mulai terbagi. Klari bukan satu-satunya orang yang dibutuhkan sang anak lagi. "Turutin aja, Kla," bisik Ado, sebelum ketiganya pergi tidur. Rey mengoceh perihal temannya yang tidur ditemani kedua orang tuanya di kamar. Tidak seperti Rey, ia selalu tidur hanya berdua bersama mamanya. Tidak ada Ayah, apa lagi ucapan selamat tidur seperti yang diceritakan temannya itu. "Nggak usah khawatir, aku bisa pindah setelah Rey tidur." Ado kembali berbisik sebelum Klari pergi menemani Rey mencuci tangan dan kakinya ke kamar mandi. Mau tidak mau Klari pun mengiakan. Dalam hati ia merasa malu setengah mati karena harus tidur seranjang bersama Ado. Walaupun di tengah-tengah mereka nanti ada Rey, tetap saja rasanya akan sangat aneh. Dan benar saja, keduanya berbaring canggung, terlebih Klari yang sangat tidak nyaman. Klari berusaha tenang, mengingatkan kepada dirinya sendiri bahwa ini demi Rey. Rey meraih tangan Ado dan Klari lalu memeluknya erat. Melihat yang dilakukan sang anak, Ado mau pun Klari hanya saling menatap canggung. Laki-laki itu berdeham, mencium pipi sang anak, kemudian mengucapka selamat malam kepada Rey. Saat Ado akan menghidupkan lampu tidur, Rey menegur sang Ayah, "Mama nggak dicium juga, Yah?" Dalam keadaan gelap, Klari hanya bisa memalingkan wajahnya dengan d**a berdebaran hebat. Sementara Ado, ia hanya diam mematung. *** Klari sangat terkejut mendapati ada wajah Ado saat ia membuka kedua matanya. Wajah mereka sangat dekat, bahkan tangan Ado memeluk pinggangnya. Klari memundurkan kepalanya, matanya tidak berkedip memerhatikan Ado yang masih terlelap. Ia masih ingat bahwa semalam mereka tidak tidur berduaan, melainkan ada Rey di tengah-tengah mereka. Klari sedikit mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pintu yang terbuka. Ke mana perginya Rey? Atau mungkin anaknya sudah bangun lebih dulu darinya? Seketika Klari menjadi panik. Lebih panik ketika Ado menunjukkan tanda-tanda akan bangun juga. Klari menggigit bibir bawahnya, ia hendak mendorong tangan Ado yang kini memeluk pinggangnya, lantas menariknya lebih dekat secara tiba-tiba. Kedua mata Klari refleks memejam kala wajah mereka kembali dekat. Tanpa sadar ia meremas kelima jarinya dengan gelisah. Apa yang akan Klari katakan saat Ado bertanya kenapa posisi mereka sedekat ini? Tunggu. Bukankah Ado berjanji akan pindah ke sofa setelah Rey tidur? Kenapa paginya Ado masih ada di ranjang? "Do..." Klari memberanikan diri menepuk bahu Ado. "Tangan kamu, Do. Aku mau bangun," cicitnya. Ado mengusapkan pipinya ke bantal. Ia belum sepenuhnya membuka mata. Sampai Klari memanggilnya lagi dengan suara lebih keras, Ado pun terbangun. Sama seperti Klari, ia sama terkejutnya melihat wajah mereka begitu dekat. "Tangan kamu...," gumam Klari, menunjuk tangan Ado di pinggangnya. Ado tersadar, ia segera menarik tangannya menjauhi pinggang Klari. Perempuan itu pun bisa bernapas dengan lega. Karena sejak bangun tadi, ia seperti menahan napasnya terlalu banyak. "Rey nggak ada," adu Klari, menyibak selimutnya. Keduanya turun dari ranjang dan pergi mencari Rey. Namun begitu mereka keluar kamar, mereka mendapati sang anak sedang duduk di sofa dengan TV yang menyala, menonton acara kartun. "Ya ampun, Rey," dengus Klari, menarik napas panjang. "Mama kira kamu hilang." Ia menghampiri Rey, duduk berjongkok di kaki sofa sambil menciumi wajah sang anak dengan gemas. "Kenapa malah nonton TV sendiri di sini?" Rey menatap kedua orang tuanya. "Tadi aku mau ambil minum. Aku haus. Pas masuk kamar lagi, Mama sama Ayah tidurnya pelukan. Aku jadi nggak punya tempat buat tidur lagi," celoteh Rey, benar-benar polos. Seketika wajah Klari merona. Ia melirik Ado yang kini berdeham kemudian mengarahkan pandangannya ke arah lain. Klari mengusap tengkuknya, menegakkan badan berniat pergi menuju dapur. Akan tetapi, baru dua kali ia melangkah, ia baru ingat bahwa ia sedang berada di apartemen Ado. "Aku mau buatin kalian sarapan," kata Ado, canggung. "Kamu sama Rey siap-siap aja." "Hmm." Klari mengangguk canggung. Ia akan kembali sofa untuk membawa Rey mandi, namun langkahnya terhalang badan Ado. Terjadi aksi canggung di antara keduanya. Saat Klari akan jalan ke depan, Ado malah maju. Begitu pun kala Klari akan mengambil langkah ke kanan, Ado pun melakukan hal sama. "Silakan," ujar Ado kikuk. Laki-laki itu memberi jalan kepada Klari. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN