"Jam segini kamu baru pulang? Dari mana aja kamu sampai biarin Rey sendiri di rumah!" "Do." Klari dibuat terkejut. Baru saja ia sampai rumah, ia disambut oleh kemarahan Ado. "Untung aku ke sini dan lihat dia nangis kayak ketakutan." Ado menatap Klari, dingin. "Aku titipin Rey ke Divia tadi," jawab Klari masih terdengar sabar. "Harus Divia ya? Ada aku, ayahnya. Kenapa harus titipin anak ke orang lain?" "Aku udah hubungin kamu. Tapi kamu nggak pernah respons telepon atau pesan aku, kan?" balas Klari. Sudah ia bilang kalau beberapa hari terakhir Ado kelihatan berbeda dari biasanya. Ado seringkali menatapnya dingin, tidak akan bicara kecuali ia bertanya. Okay. Baiklah. Memang kemauan Klari agar mereka tidak terlalu sering berkomunikasi kecuali tentang Rey. Klari tidak mau mereka le

