Biarkan Begini Adanya

2130 Kata
"Kalau kamu keberatan, Ibu tidak akan memaksamu, Nak Rayya," ucap Bu Laksmi.  Ketiganya kini sudah kembali ke ruang tamu kediaman keluarga Saputra. Meninggalkan Dimas yang sudah kembali tenang, dan kini sedang tertidur.  Bu Laksmi yang merasa senang karena seolah melihat sang putra telah kembali, harus menahan kekecewaan sebab semua yang ia lihat hanyalah sebuah penampakan semu.  Dimas menyangka jika gadis yang ia lihat dan peluk, adalah Ria —calon istrinya. Sedikit merasa lebih baik karena menduga sang tunangan baik-baik saja.  Kini, semua keputusan ada di tangan Rayya. Sosok yang putranya sangka adalah sang kekasih hati, yang seharusnya menikah dengannya.  Bu Laksmi menunggu jawaban apa yang akan gadis di depannya berikan. Wanita paruh baya itu berharap, setelah apa yang Rayya lihat mengenai kondisi sang putra saat ini, akan membuatnya berubah pikiran.  Suasana di dalam ruang tamu itu, jujur saja membuat Bu Laksmi tegang. Rayya tidak lekas menjawab atas pertanyaan yang calon mertua mendiang kakaknya berikan. Suara detik jam yang menempel di dinding ruang tamu luas tersebut, menambah kesan menegangkan bagi Bu Laksmi dan bundanya Rayya.  "Baiklah, aku bersedia menggantikan posisi kakakku, Ria, untuk menjadi pengantin pengganti bagi Dimas." Entah pemikiran dari mana yang akhirnya menyangkut di kepala Rayya, sehingga membuat gadis itu memberikan jawaban yang pastinya akan ia rutuki dan sesali nanti.  "Oh Tuhan, syukurlah. Terima kasih, Nak. Beribu-ribu terima kasih Ibu berikan padamu." Binar kebahagiaan begitu jelas terpancar di wajah Bu Laksmi. Bagaimana tidak, keputusasaannya dalam mencari jalan yang terbaik bagi kesembuhan sang putra, akhirnya berbuah manis. Rayya, yang jujur saja lebih Bu Laksmi sukai ketimbang Ria —calon menantu yang sebenarnya, merasa mendapatkan durian jatuh.  "Kami akan segera menyiapkan. Kamu duduk manis saja, biar Ibu dan keluarga yang siapkan semuanya, Nak." Begitu senangnya Bu Laksmi atas jawaban yang Rayya berikan, sehingga rela melakukan apapun demi kesembuhan sang putra tercinta.  Entah lega atau malah terbebani, yang pasti saat ini Rayya mendadak lemas. Tubuhnya seolah tak mampu menopang berat tubuhnya ketika ia dan sang bunda hendak pamit meninggalkan kediaman Saputra.  "Besok Ibu akan kabari bagaimana perkembangan Dimas. Semoga ada hal baik yang bisa Ibu sampaikan kepada kalian nanti." Bu Laksmi berpesan pada calon menantu dan calon besannya.  "Iya, Bu. Kalau begitu aku dan Bunda permisi dulu." "Ya. Kalian hati-hati di jalan. Ibu sudah menyuruh supir untuk mengantar pulang." "Bu, tak perlu merepot—?" Rayya hendak protes. Namun, dengan cepat Bu Laksmi memotong.  "Tak ada penolakan Rayya. Iya, atau kalian tidak perlu pulang sekalian." Wanita itu berkata serius.  Rayya dan bundanya saling berpandangan. Anggukan yang sang bunda berikan, membuat gadis itu akhirnya menyetujui.  "Baiklah. Kali ini kami ikuti kemauan Ibu, tetapi lain kali —?" "Lain kali adalah tugas Dimas mengantar ke mana pun kamu pergi, Nak!" Kembali Bu Laksmi memotong dengan senyum di wajahnya yang terlihat berbeda kali ini. Selalu terpancar aura kebahagiaan, yang jelas berbeda dengan saat pertama kali Rayya menginjakkan kakinya di rumah besar itu.  "Ya sudah, Bu Laksmi kami permisi." Bu Ani, bundanya Rayya memohon pamit pada calon besannya tersebut.  "Iya, iya. Sekali lagi, terima kasih atas kedatangan kalian kemari, juga keputusan kamu yang ... tentu saja membuat Ibu lega, Rayya." "Iya, Bu." Keduanya pun meninggalkan rumah besar tersebut. Rayya dengan sesuatu yang sepertinya terasa mengganjal di hati tatkala langkah kakinya meninggalkan rumah berpagar tinggi itu.  *** Ada kesedihan yang tercipta di wajah Fauzan saat ini. Lelaki yang sudah lama menjalin kedekatan sebagai seorang sahabat dengan Rayya, begitu syok saat mendengar jika sahabatnya itu menyetujui permintaan Bu Laksmi untuk menikah dengan putra semata wayangnya.  Saat ini ia tengah berada di dalam toko roti milik sang sahabat. Sembari menikmati cemilan kue manis dengan secangkir teh hangat tawar, kegiatan rutinnya ketika pulang bekerja.  "Kenapa kamu mengambil keputusan itu, Rayya?" tanya Fauzan pilu. Jujur saja lelaki itu merasakan sakit di dalam hatinya. Niat hati ingin melamar sang sahabat, ketika pernikahan antara Ria —saudara kembar Rayya— dengan Dimas selesai digelar.  Lelaki itu memang memiliki perasaan lain terhadap gadis dua puluh lima tahun tersebut. Perasaan cinta yang sudah beberapa waktu lalu tumbuh berkembang sejak ia putus dengan mantan kekasihnya, yang dengan tega berselingkuh di belakangnya. Sejak itulah, Fauzan menyadari rasa ketertarikan pada Rayya. Gadis yang sejatinya sudah memiliki perasaan cinta lebih dulu pada lelaki itu, tetapi tak berani mengatakannya sebab tahu jika Fauzan hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Itulah mengapa, lelaki itu bisa memiliki kekasih, di tengah suasana hati Rayya, yang diam-diam sudah jatuh hati kepadanya sejak dulu.  "Aku hanya spontan saja waktu itu. Aku merasa iba ketika melihat perjuangan seorang ibu yang begitu tabah dalam mengurus dan merawat seorang anak, yang notabene usianya sudah bukan anak-anak lagi." "Tapi, dengan mengorbankan perasaanmu sendiri yang sebetulnya tidak memiliki rasa cinta pada lelaki itu." Fauzan benar-benar bersedih.  Rayya tahu jika saat ini sang sahabat tidak menyetujui keputusannya. Namun, ia tidak tahu jika ketidak setujuan lelaki itu karena perasaan cinta kepadanya.  Ya, Rayya memang tidak tahu jika Fauzan sudah mulai menyukainya. Pikirnya selama ini, sikap perhatian yang sang sahabat berikan, semata-mata karena kebiasaan lelaki itu yang memang sering berikan kepadanya.  Itulah mengapa Rayya memutuskan untuk menerima permintaan Bu Laksmi, di luar perasaan dirinya yang seolah bertepuk sebelah tangan karena pria yang ia cintai, tidak pernah sekalipun memiliki perasaan yang sama kepadanya, juga karena keinginannya untuk membantu Bu Laksmi mengurangi beban pikirannya yang sudah semakin menua dengan harus merawat sang putra tunggal.  "Aku berpikir jika pernikahan ini tidak akan bertahan lama." "Kok gitu?" Fauzan menatap heran.  Rayya tampak menarik napas, kemudian mengembuskannya pelan.  "Fauzan, Dimas tahunya aku adalah Ria. Kebohongan ini lama-lama akan menyeruak juga ke permukaan. Saat itulah, perpisahan adalah jalan yang pasti akan kami ambil." "Kalau begitu, kenapa kamu mengambil keputusan ini kalau ujungnya akan berakhir dengan sebuah kata perpisahan?" Rayya balas menatap serius Fauzan, lalu kembali bicara.  "Pada saat itu terjadi, minimal Dimas sudah pulih dari sakitnya dan aku harap ia sudah melupakan sosok Ria yang sudah meninggal. Beban pikirannya tidak akan seberat sekarang, sehingga lebih memudahkan Bu Laksmi memberikan dukungan moril-nya sebagai seorang ibu." Fauzan mengerti kini, apa sesungguhnya alasan di balik keputusan Rayya menerima pinangan Bu Laksmi tersebut. Namun, ada satu yang mengganjal di dalam hatinya sekarang yang sejak tadi ingin ia tanyakan.  "Jika kamu akan terus berbohong hingga kesembuhan Dimas, lalu bagaimana dengan malam pertama kalian nanti?" Pertanyaan Fauzan yang tanpa filter, sebetulnya bukan hal baru bagi Rayya. Interaksi di antara keduanya sebagai sepasang sahabat, membuat mereka bebas dalam membicarakan suatu isu atau topik. Bahkan untuk urusan pribadi seperti itu terkadang mereka tidak memiliki batas.  Namun, untuk kali ini entah mengapa Rayya seolah bisu dan tuli. Bukan karena ia tak bisa mendengar atau bicara, tetapi pertanyaan itu seolah bukan pilihan yang ditujukan untuknya jawab. "Ya, aku mengerti." Fauzan berkata pada akhirnya yang melihat kebisuan di wajah Rayya. "Entahlah, Rayya. Aku harus mendukungmu atau tidak. Tapi, jujur saja aku khawatir kamu akan sakit hati nanti." Tak ada lagi obrolan di antara kedua sahabat tersebut hingga coffee break yang tengah Fauzan nikmati, habis tak bersisa.  "Aku pamit pulang dulu. Kabari aku kalau sahabatku sudah akan menikah." Tampak sekali godaan yang lelaki itu berikan pada sahabatnya itu.  "Hentikan! Kamu tahu pasti aku tidak bersungguh-sungguh." Rayya memutar bola matanya jengah.  "Siapa yang tahu nanti." Ada nada kecewa pada respon yang Fauzan berikan.  "Sudahlah pulang sana. Aku sudah mau tutup." Rayya mengusir Fauzan dengan nada becanda.  "Baiklah, baiklah! Apakah kamu tidak mau aku antar pulang?" "Tidak, terima kasih. Masih banyak tukang ojek online yang berkeliaran di jalan." "Mereka bukan berkeliaran, tetapi memang sedang mencari pelanggan," sahut Fauzan keki.  "Makanya dari itu, aku memilih untuk naik ojek saja, itung-itung menyalurkan rejeki yang Tuhan titipkan padaku." "Baiklah, kamu memang yang terbaik." Fauzan pun pergi dengan mobil minibus miliknya. Meninggalkan area toko roti dan kue milik Rayya, yang sebentar lagi akan tutup.  "Selamat malam. Apa tokonya masih buka?" Suara seorang pelanggan yang cukup mengejutkan Rayya, sebagai sang pemilik.  "Selamat malam! Ya, kami masih bu ... ka, Dimas?" Rayya begitu terkejut ketika melihat sosok lelaki yang saat ini berstatus sebagai calon suaminya itu.  "Malam, Sayang. Kamu kok enggak menemui aku lagi di rumah? Apakah toko peninggalan Rayya ini begitu menyibukkan kamu?" tanya Dimas, yang berjalan semakin mendekat ke arah gadis itu —yang ia tahu adalah Ria, kekasihnya.  "Ah, ehm, ya ... seperti yang kamu lihat. Di sini cukup membuatku sibuk. Aku selalu pulang sampai jam segini, hampir setiap hari, ah—!" Gerakan tangan Dimas yang begitu cepat menarik tubuh Rayya supaya menempel dengannya.  Suasana dalam toko yang sudah sepi sebab para karyawan yang sudah pulang lebih dulu, membuat Rayya tidak terlalu merasakan malu. Namun, jujur saja saat ini ia merasakan hatinya berdebar di dalam d*da, ketika Dimas menarik tubuhnya itu.  Jarak keduanya yang begitu dekat, membuat jantung Rayya berdetak lebih cepat dari biasanya.  "Dimas, a—apakah kamu bisa lepaskan aku? Sepertinya tidak baik jika dilihat oleh orang lain kalau kita terlalu dekat seperti ini," ucap Rayya dengan nada canggung.  "Kenapa? Kita 'kan sudah tunangan dan akan menikah. Sebagian orang juga sudah tahu." Dimas menjawab protes.  "I—iya, tapi sebagian yang lain 'kan tidak tahu." Rayya masih berusaha untuk membebaskan diri.  Sikap Dimas padanya semakin membuat hawa di sekitar Rayya terasa sesak. Entah apa yang menyebabkan hal itu terjadi, Rayya sendiri tidak mengerti.  "Kamu tidak perlu khawatir, pintu toko jiga sudah aku tutup, jadi tak akan ada lagi orang yang akan masuk kemari sebab gantungan di pintu sudah aku balik. Toko ini sudah tutup." "Kamu!" pekik Rayya yang tidak mengerti kenapa Dimas melakukan hal itu.  Sekarang Dimas semakin mengeratkan tangannya, malah ia sudah memeluk tubuh Rayya, yang seolah tak peduli akan penolakan yang sang gadis berikan.  "Aku merindukanmu, Sayang. Sungguh rindu." Dimas berbisik di dekat telinga Rayya, yang sontak langsung bergidik sebab terasa hawa napas yang menyentuh tengkuknya.  Rayya tak berkutik dengan sikap dan ucapan yang Dimas lakukan. Gadis itu bingung, sebab tidak tahu reaksi apa yang harus ia berikan. Ia tak pernah tahu gaya berpacaran seperti apa yang biasanya saudara kembarnya itu lakukan bersama sang tunangan. Alih-alih membalas, Rayya memilih diam mematung, takut jika itu bukan gaya Ria selama ini.  "Kenapa kamu diam saja? Biasanya kamu yang begitu antusias memelukku. Apakah saat ini kami tidak merindukanku?" Dimas kemudian melonggarkan sedikit pelukannya. Mencoba membaca ekspresi muka yang saat ini Rayya tampilkan.  "E—eh, tentu saja aku juga merindukanmu," jawab Rayya berbohong. Menampilkan sebuah senyuman manis, yang begitu susah payah ia coba dengan melengkungkan bibirnya.  "Lantas, kenapa kamu tidak menemuiku beberapa hari ini? Kenapa kamu seolah menghindar dariku, Ria?" "Ah, tidak mungkin aku menghindarimu. Kamu 'kan tahu aku sekarang mengurus toko roti ini. Jadi, aku harap kamu bisa mengerti." Dimas kembali memeluk tubuh Rayya. Begitu menikmati pelukannya, Dimas kembali berkata.  "Aku akan mencoba mengerti. Tapi, mengapa kamu terlihat berbeda malam ini?" Dimas enggan membicarakan hal yang mengganjal itu sebenarnya, tetapi sikap canggung yang Rayya berikan, membuat Dimas menyadari sesuatu.  "Mati saja kau, Rayya!" batin gadis itu bicara.  "Apa yang membuatmu berpikir kalau aku berbeda?" Rayya mengatur napas supaya terdengar senormal mungkin.  "Entahlah, aku hanya merasakan keengganan dari bahasa tubuhmu padaku. Apa yang membuatmu berbeda seperti ini? Apakah itu karena sosok lelaki yang tadi keluar dari dalam toko, sehingga kamu seperti menghindariku kini?" Deg! Apakah Dimas melihat Fauzan keluar dari dalam toko tadi? Apa yang harus gadis itu katakan supaya Dimas percaya.  "Oh lelaki tadi? Itu hanya salah satu pelanggan tetap di toko roti ini. Kebetulan juga, ia adalah sahabat Rayya, saudara kembarku, Dim!" Dimas kini benar-benar melepaskan pelukannya pada sang gadis. Memilih untuk menggenggam jemari Rayya dan menariknya untuk duduk di salah satu sofa yang ada di dalam toko.  Ya, selain berfungsi sebagai toko kue dan roti, bangunan itu juga sengaja Rayya fungsikan sebagai coffe shop kecil dengan beberapa pasang meja dan kursi, juga sofa.  "Sebetulnya ke mana saudara kembarmu itu sih? Kok malah merepotkan semua orang. Seharusnya 'kan kamu itu bekerja di perusahaan, bukan malah memilih untuk meneruskan usaha toko kue ini?" protes Dimas yang membuat Rayya bergumam kesal di dalam hatinya.  "Aku dan keluargaku tidak tahu. Bahkan sahabatnya juga tidak tahu ke mana Rayya pergi." Lagi-lagi gadis itu berbohong.  "Hem, ya sudahlah. Tak perlu lagi kita bahas. Sekarang bagaimana kalau kamu memberikanku sepotong kue yang berwarna merah itu," ucap Dimas sembari menunjuk kue di dalam sebuah etalase, yang membuat Rayya menengok ke arah yang ditunjuk.  "Kamu mau makan kue?" "Ya. Apakah tidak boleh?" "Tentu saja boleh. Sebentar akan aku ambilkan." Rayya beranjak dari posisinya. Berdiri mengambil piring kecil dan mengisi sepotong kue red velvet yang Dimas inginkan.  "Ini, silakan. Kamu mau minum apa?" Rayya menawari.  "Apa saja yang sekiranya cocok bersanding dengan kue ini di dalam perutku nanti," jawab Dimas tersenyum.  "Ehm, baiklah. Akan aku ambilkan teh rasa chamomile, sepertinya minuman itu cocok. Tunggu akan aku buatkan." Dimas mengangguk dan membiarkan Rayya pergi menuju pantry. Saat ini, yang ada dalam pikiran Rayya hanya ingin menjalani semuanya seperti air yang mengalir. Ke mana keputusannya akan bermuara nanti, tak ingin ia pikirkan sekarang.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN