10 IDENTITAS JACOB

993 Kata
Jika dibandingkan dengan café-café lainnya di luar, café di area militer ini lebih mirip dengan suasana kedai atau kantin biasa. Dengan warna dinding putih kusam yang sudah terlihat lusuh dengan hiasan kain loreng-loreng khas militer yang menunjukkan identitas café tersebut tidak biasa. Sangat sederhana dengan dekorasi seadanya dan lagu-lagu local yang terdengar norak bagi telinga Jacob. Rasa makanannya pun termasuk standar, tapi karena perutnya lapar, ya sudah….mereka berdua tidak punya pilihan lain. “Jadi, paman setuju pada mereka berdua?” tanya Jacob dengan nada menyelidik. Mulutnya sibuk mengunyah kentang goreng dan sosis yang dipesannya barusan. “Maksudmu? Cristan dan Arissa?” tanya Jose sambil mengkonfirmasi pertanyaan Jacob. “Yah, siapa lagi lah…” balas Jacob ketus. Jose hanya tersenyum simpul saat mendengar omelan Jacob dan membalas. “Karena hanya Cristan yang dapat melindungi ibumu, Jacob…” Jose lalu menghela nafas panjang dengan berat hati. Sebagai seorang kepala intelijen elit dari Klan Levy, ia sudah menyadari seberapa besar bahaya yang mengancam di belakang Kronos dan seberapa besar kekuatan serta pengaruh yang dimiliki oleh Klan Judas. “Kau ingat dulu ketika aku memintamu untuk mencari tahu informasi seputar Kronos?” Jacob mengangguk. Sebagai seorang hacker, Jacob sudah sangat terbiasa untuk mencari banyak informasi rahasia bahkan yang paling tersembunyi sekali pun. Dalam hal ini, Arissa adalah mentornya. Tapi, dalam beberapa tahun ke depan, kemampuan Jacob mungkin bisa melampaui Arissa. “Ya, kenapa?” “Maksudmu penjahat gila yang merupakan buronan internasional serta pelaku pembunuhan genosida di beberapa negara tersebut bukan?” tanya Jacob lagi. Ia masih ingat benar bagaimana sulitnya untuk mencari identitas dan foto wajah Kronos karena b******n tua itu dengan sangat cerdiknya selalu berpindah lokasi dan berkomunikasi dengan berbagai macam alamat IP yang susah dilacak. Tapi, setelah seminggu Jacob mengutak-ngutik data yang diberikannya, pada akhirnya, ia berhasil menemukan jejak Kronos dan memberikan semua informasi yang diperlukan kepada Jose. “Ia ayah biologismu, Jacob…” kata Jose pelan sambil melipat kedua tangannya di d**a dan mengamati ekspresi wajah Jacob setelahnya. Mulut Jacob berhenti mengunyah. Matanya terbelalak kaget. Telinganya merasa kalau ia baru saja salah dengar barusan. “Paman bilang apa tadi……..???” tanya Jacob sekali lagi. Ia berharap kalau apa yang tadi dikatakan Jose adalah sebuah kesalahan. “Kronos… adalah… ayah…. biologismu, Jacob…” Beberapa butir kentang goreng langsung jatuh ke atas piring sementara wajah Jacob memandang Jose dengan tatapan shock. Otaknya berusaha memproses kalimat terakhir yang baru saja diucapkan oleh Jose. “Paman……. yakin?” “Aku adalah kepala intelijen Klan Levy, Jacob. Semua data dan informasi yang kumiliki sudah pasti akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Aku sendiri sudah berkali-kali mengecek kabar ini dan itu memang benar….” Sekarang, piring Jacob yang jatuh ke atas lantai. Ia? Anak dari seorang buronan internasional? Anak dari seorang b******n gila? Anak dari seorang pembunuh? Ha? Apa ini? “Ada hal lain yang perlu kuberitahukan padamu seputar Arissa, Jacob….” “Dulu, sewaktu kau baru berusia seminggu, Arissalah yang berjuang mati-matian membawamu keluar dari markas besar Klan Judas yang dijaga ketat. Dengan tekadnya, ia menyelundupkan dirinya serta kamu yang masih bayi ke dalam kapal barang selama 2 minggu hingga sampai di negara ini. Kondisi Arissa sangat menyedihkan saat itu. Ia sekarat dalam keadaan dehidrasi akut dan luka-lukanya yang mulai membusuk karena infeksi. Walaupun begitu, ia tetap berusaha keras melindungimu yang berada di dalam gendongannya.” Jose mengambil nafas sebentar sebelum ia melanjutkan ceritanya. “Keadaanmu pun saat itu tidak jauh berbeda. Kau kurus sekali dan bibirmu sudah membiru. Jika malam itu ibu angkatku tidak menemukan kalian, kalian berdua pasti sudah tewas di pelabuhan…” Pandangan Jose menerawang sebentar ke masa 15 tahun yang lalu saat ia berkunjung ke panti asuhan dan bertemu dengan Arissa yang masih remaja dan bayi Jacob. Betapa kontrasnya perbedaan keadaan Arissa yang dulu dan sekarang. “Kami berdualah yang memberikan identitas baru dan mengurus semua dokumen resmi untuk kalian. Sejak saat itu, Arissa bisa mulai menata kembali hidupnya yang sebelumnya hancur berantakan dan mengasuhmu dengan lebih baik dibantu oleh ibu angkatku dan adik-adikku di panti asuhan. Aku pun merupakan salah satu orang yang mendidikmu sampai kau bisa menjadi seperti ini, Jacob…” Jose lalu menatap tajam pada pemuda remaja di hadapannya. “Jika kau merasa berhutang nyawa pada seseorang, dia adalah ibumu sendiri. Tanpanya, kau tidak mungkin bisa berada di sini…” “Dan, satu-satunya alasan kenapa aku bilang kalau hanya Cristan yang mampu melindungi Arissa adalah Cristan..." "Karena memang hanya ia yang bisa melakukannya. Dengan status dan kekuatan yang dimilikinya, hanya Cristan yang mampu bertarung seimbang dengan Kronos….” “Kau juga perlu tahu…” “Sampai sekarang, Kronos masih terus berusaha mencari Arissa dan ia sudah berada di kota ini…” Kepala Jacob seketika tertunduk ke bawah. Nafsu makannya menghilang entah ke mana. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Semua gelombang informasi yang diterimanya terlalu berat untuknya. Jacob merasakan badai emosi berkecamuk hebat di dalam dadanya. Marah, kecewa, kesal, frustasi, sedih, dan banyak lagi. Ia sendiri tak mampu mengungkapkannya. Jacob menutup wajah dengan kedua tangannya. Pikirannya sumpek dan ia merasa butuh ruang lebih untuk bisa bernafas sebentar serta meredakan dirinya. Jacob bangkit berdiri dan minta ijin keluar sebentar pada Jose. Tanpa banyak bicara, Jose pun menganggukkan kepalanya. Sekeluarnya dari pangkalan militer, Jacob langsung menelepon seseorang. Semua informasi tersebut masih berputar-putar di dalam kepalanya. Ia kalut. Ia bingung. Ia ingin berteriak marah sekencang-kencangnya. Ia ingin meledakkan semua perasaan negatif yang bertumpuk di dalam hatinya sekarang. Kenapa? Kenapa Arissa tak pernah menceritakan semua hal ini kepadanya? Kenapa? Seseorang lalu menjawab panggilan teleponnya di seberang sana. “Nat, kau di mana? “ “Ok, aku ke sana sekarang…” Jacob menutup teleponnya. Matanya basah karena air mata. ............................................................... Note : Siap2 sport jantung dan tegang terus yaa.... Mudah2an di minggu kedua atau ketiga, sinopsis diapproved yaa.... Ongoing 1000 love, gaiss... Visual tokoh2 bisa cek di IG saya ya: rockinglady69
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN