Jay terdiam dan tidak mengatakan apapun. Jack terus berusaha mendesaknya untuk mengaku. Sangat sulit bagi pria itu untuk mengakui perasaannya. Di satu sisi, dia mengagumi sosok Lily, tetapi di sisi lain, dia takut untuk menjalin suatu hubungan. Dia takut Lily terluka karenanya. “Jay, apa jawabanmu?” “Ya,” jawabnya pelan. “Apa? Aku tidak dapat mendengar perkataanmu. Bicaralah lebih keras, Jay,” pinta Jack jahil. “Ya, aku mengagumi dirinya. Apa itu cukup jelas?” tanya Jay serius. “Cukup. Ayolah jangan marah. Aku hanya ingin kita saling jujur, itu saja. Berarti sekarang aku bebas untuk mendekati Lily,” ucap Jack bahagia. “Terserah padamu.” Jay berjalan menjauh dari ruang tamu menuju ke ruang makan. Jack berjalan mengikutinya dari belakang. “Jay, kau jangan marah. Mari kita minu

