Setelah sampai di rumah, malamnya Lily duduk di teras depan rumahnya seraya melamun menatap langit malam sendirian. Entah kenapa, ia memikirkan Jay, memikirkan setiap perkataan dan wajahnya yang berada dekat dengan wajah Lily.
Apa aku mulai menyukainya?
Semua orang berkata, pria yang luar biasa akan mencari wanita yang tidak biasa-biasa saja. Aku hanya seorang wanita biasa, apakah pantas bagiku untuk menyukainya?
Aku dan dia berada di bawah langit malam yang sama, tetapi mengapa aku merasa jauh darinya? Dia bagai langit dan aku bumi. Jika aku berharap untuk mendapatkan dirinya, bukankah itu artinya aku bagai punduk merindukan bulan?
Mengapa aku memikirkannya? Mengapa aku merindukannya? Belum tentu dia akan memikirkanku dan mungkin saja dia sedang bersenang-senang dengan seorang wanita.
Angin bertiup sedikit kencang, mengenai wajah gadis itu dan menyibakkan rambut halus nan panjang miliknya. Udara memang sedikit dingin, tetapi tidak menyurutkan niat gadis itu untuk beringsut pergi meninggalkan teras dan masuk ke dalam rumah.
Ia masih setia duduk di bangku yang ukurannya tidak terlalu besar, cukup untuk dua orang. Bahannya terbuat dari rotan dan ketika kita duduk di atasnya dan bergerak-gerak, bangku akan menimbulkan bunyi yang tidak enak.
Lily mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke langit malam yang bertabur banyak bintang. Malam itu pemandangan langit malam sungguh sangat indah laksana lukisan sang maestro pada kanvas.
Jay, aku mengagumimu, katakan jika aku boleh mengagumimu? Seumur hidupku, inilah pertama kalinya aku mengagumi seorang pria dewasa. Katakan, Jay!
Mulai malam ini, aku memutuskan untuk menyukaimu dan bekerja dengan baik mulai besok, aku akan membuatmu bangga. Lihat saja Jay.
Itulah suara hati dan tekad yang diungkapkan oleh Lily saat duduk termenung sendirian di teras depan rumahnya.
Sementara itu, di belahan tempat yang lain, seorang duda tampan nan kaya sedang duduk termenung sendirian di sebuah bar di tengah hiruk pikuk ibukota. Di hadapannya tersedia satu botol minuman keras sejenis vodka dan satu gelas kecil berisi es batu yang terletak di sebelahnya.
Pria itu menuangkan vodka ke dalam gelas, lalu menenggak habis isinya dalam sekali minum. Dari kejauhan seorang wanita tengah memperhatikan pria tersebut dengan seksama mulai dari atas kepalanya hingga cara pria itu meminum minuman kerasnya.
Setelah yakin jika pria itu memang datang sendirian dan tidak sedang menunggu seseorang, maka wanita itu berjalan menuju mejanya dengan langkah yang manja dan menggoda.
Sesampainya di hadapan pria itu, wanita bergaun merah dengan potongan leher rendah sehingga memperlihatkan belahan dadanya yang cukup besar, ditambah gaun itu sedikit ketat sehingga memperlihatkan lekukan tubuhnya yang sintal dan seksi.
Wanita berkulit sawo matang dan berambut panjang bergelombang dengan riasan wajah yang sedikit tebal serta suaranya yang serak-serak basah manja itu menyapa sang pria.
“Hai, sendirian?” tanyanya manja.
Pria itu terkejut mendengar seseorang bertanya padanya. Dia menengadahkan kepalanya dan berusaha melihat yang menyapanya di keremangan lampu bar.
“Iya, sendirian,” jawabnya singkat.
“Boleh aku duduk di sini?” tanyanya lagi.
“Silahkan.” Pria itu mempersilahkan sang wanita untuk duduk di sampingnya. Ia bergeser ke sebelah kiri.
“Umm, siapa namamu? Bolehkah aku tahu?”
“Boleh, namaku Jay. Dan kamu?”
“Aku Anita.”
“Nama yang bagus.”
“Ha ha terima kasih. Namamu pun bagus.”
“Apa kau sendirian, Jay?”
“Ya, aku ingin sendirian, jadi aku memang tidak mengajak siapapun untuk datang kemari.”
“Apa tidak apa-apa jika aku di sini menemanimu?”
“Tidak apa-apa. Kau minum?” Jay menawarkan satu gelas vodka pada Anita. Memang pihak bar menyediakan dua gelas kosong pada setiap pengunjung.
“Boleh, sedikit saja.”
Malam itu, keduanya minum bersama sambil bersenda gurau dan tanpa mereka sadari, mereka mulai bercerita mengenai kehidupan pribadi masing-masing.
Menjelang tengah malam, dikarenakan banyaknya vodka yang keduanya konsumsi, akhirnya mereka menjadi mabuk. Jay mabuk parah dan penglihatannya menjadi sedikit kabur.
Anita yang masih setengah mabuk, meminta tolong pada bartender untuk membantunya membopong tubuh pria itu masuk ke dalam mobilnya kala bar sudah mulai sepi dan semua pengunjung pergi satu persatu.
Lalu, bartender tersebut membantu Jay duduk di kursi penumpang depan. Kemudian, Anita membayarkan sejumlah uang tip pada pria berperawakan gagah tersebut.
“Terima kasih, Sayang. Ini tip untukmu, terimalah,” ucap Anita seraya memberikan sejumlah uang tersebut kepadanya.
“Baik, Nona Anita. Hati-hati di jalan dan selamat malam menjelang pagi,” jawab bartender tersebut.
Anita masuk ke dalam mobil, sebelum dia memasangkan sabuk pengaman untuk Jay, wanita itu membelai wajahnya dan membuka dua kancing kemejanya. Dibelainya lembut d**a bidang milik pria itu.
“Kau sungguh tampan dan mempesona, Jay,” ucapnya seraya mendekatkan bibirnya ke wajah pria itu.
Dikecupnya pipi Jay dan wanita itu berbisik di telinganya, “Malam ini kita akan bersenang-senang, sabarlah Sayang.”
Anita melajukan perlahan mobilnya meninggalkan area parkir bar. Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul setengah dua belas. Jalan raya mulai sepi, hanya terlihat beberapa kendaraan yang melintas.
Ternyata, Anita membawa Jay menuju ke sebuah hotel mewah di tengah ibukota. Wanita itu memarkirkan mobilnya dan meminta tolong pada petugas hotel untuk membantunya membopong masuk tubuh pria itu yang sudah mabuk parah.
Satu orang petugas hotel membopong masuk tubuh Jay ke dalam lobby, sementara itu Anita melakukan proses check in. Setelah mendapatkan kunci kamar, mereka berjalan dan masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai gedung tempat kamar yang mereka sewa berada.
Setelah sampai di lantai tiga hotel, mereka berjalan menelusuri lorong hotel dan kini mereka tiba di depan pintu kamar. Anita membuka pintunya dan meminta petugas hotel tersebut untuk membaringkan tubuh Jay di tempat tidur.
Setelah tubuh Jay dibaringkan di tempat tidur, petugas hotel itupun keluar setelah Anita memberikannya sejumlah uang sebagai tip.
Lalu, Anita menutup rapat pintu kamar, dia masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dan riasan wajahnya. Setelah selesai, dia keluar dan membantu Jay melepaskan sepatu dan pakaiannya.
Anita menarik tubuh pria itu lebih ke atas dan membaringkan kepalanya pada tumpukan bantal yang telah dia susun. Kini, Jay hanya tinggal memakai celana dalam saja.
Wanita itu terpukau dengan tubuh atletis Jay. Tangan cantiknya mulai membelai wajah dan d**a bidang milik pria itu. Dia menarik wajah pria itu mendekat padanya, untuk kedua kalinya dia mengecup bibir seksi milik pria itu.
Digigitnya perlahan bibir bawahnya, lalu dikecupnya mesra sambil satu tangannya membelai d**a pria itu yang ditumbuhi sedikit bulu halus.
Jay yang dalam keadaan setengah sadar, membuka sedikit matanya dan entah mengapa yang pria itu lihat adalah wajah Lily. Satu tangannya terangkat dan membelai wajah Anita yang dia kira sebagai Lily.
“Lily, mengapa kau di sini? Apa kau tadi menciumku? Sangat manis.”
Anita terkejut mendengar pertanyaan pria itu. Wanita itu seketika merasa cemburu mendengar pria yang dikecupnya menyebut nama wanita lain.
Siapa Lily? Wanita yang dia sukaikah? batinnya.
Mau cerita yang Hot, Bucin dan Mengandung Bawang, Masih Free Koin dan segera Update Tiap Hari? Mampir aja yuk ke karya punyanya "Mey Olivia" judulnya "Terjerat Cinta Sugar Daddy". Bikin nagih pokoknya ?