'Tak sabar aku menunggu hari esok, mimpi apa aku sampai Jagat menemuiku, ini nyata atau mimpi'. Pikiran Rena melayang-layang membayang apa yang terjadi hari ini, hari esok akan lebih indah batinnya.
Siang hari, setelah adzan dhuhur. Rena berjalan didekat mushola, tiba-tiba ada yang memanggilnya dari teras mushola. Laki-laki yang sedang mengenakan kaos kaki setelah sholat dhuhur itu berseru.
"Ren, kita satu kelompok. Sintia nanti sama Jagat, biar belajarnya enggak terlalu banyak" ucap Adrian dengan santainya.
Seketika Rena tak berkutik, ingin menolak tapi bagaimana? tidak mungkin dia bilang 'enggak' lalu memilih Jagat sebagai pasangannya. Dalam hati dia kesal sekali dengan Adrian, tapi apalah daya akhirnya dia pasrah.
"iya dri" ucapnya lesu
"okey" balas Adrian
Pulang sekolah bimbingan dimulai, kini tempatnya berpindah di kelas 8A, yaitu kelas Adrian, sedangkan Jagat berasal dari kelas B.
Hari ini Sintia tidak ikut bimbingan, dia harus pulang karena suatu alasan, akhrinya Rena sendiri. Dia memilih kursi dipojok belakang dekat jendela, iyap sendirian, dia memilih sendiri. Tiba-tiba Adrian mengangkat kursinya dan menaruhnya dekat dengan Rena.
"Biar gampang belajarnya, kan kita satu kelompok" kata Adrian
dalam hati Rena masih berharap Jagat yang jadi patnernya. Sambil tersenyum kecut dia mempersilakan Adrian. Sejujurnya Rena kurang suka dengan sosok Adrian hingga membencinya, yang ia tau Adrian sosok laki-laki cuek dan sombong karena dia tampan, populer dan kaya. Tapi kenapa laki-laki ini sok baik kedia, Rena memang tipe perempuan baperan, sehingga hal ini mengusik hatinya.
'ah salah sasaran, padahal aku maunya kamu eh malah dia yang ada disini' gerutu Rena dalam hati.