Dengan kantung mata yang menghitam, Aksa menatap pantulan dirinya di depan cermin. Kemeja rapi yang ia pakai tidak membuat wajahnya terlihat segar. Hal itu karena dia kesulitan tidur semalam. Pikirannya terus tertuju pada Era yang tidak bisa dihubungi hingga saat ini. Anggap saja Aksa berlebihan, tapi dia merindukan Era. Tidak bertemu dengan gadis itu selama beberapa jam membuatnya tidak suka. Ditambah fakta dengan kedatangan Ezra semalam. Aksa penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Sambil merapikan dasinya, Aksa kembali melirik ponselnya untuk yang kesekian kali, berharap jika ada nama Era yang muncul di notifikasi ponselnya, tapi yang ada hanya email-email pekerjaan yang iadapat. Selesai dengan kegiatan paginya, Aksa bergegas untuk keluar. Dia memilih untuk berangkat pagi agar bisa mamp

