Jauh dari taman, di dalam sebuah mobil mewah gelap yang diparkir di balik pepohonan, seorang wanita memegang teropong. Wanita itu adalah Winda Wibisana, ibu Tania, dan istri Jonathan. Wajahnya cantik, namun memancarkan aura dingin dan perhitungan.
"Dasar bocah kurang ajar," desis Winda, matanya mengikuti setiap gerakan mesra antara Adhi dan putrinya. "Setelah Jonathan memperingatkannya, dia masih berani menyentuh Tania? Dia merobek cek suamiku? Dia pikir dia siapa?"
Winda jauh lebih kejam dan impulsif dari suaminya. Jonathan mungkin mencoba menyelesaikan masalah dengan uang atau ancaman hukum, tetapi Winda lebih suka menyelesaikan masalah dengan cara yang meninggalkan trauma fisik dan psikologis. Ia merasa kehormatan keluarganya telah dilecehkan oleh bocah miskin seperti Adhi.
Winda menurunkan teropong, mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi seseorang. "Lakukan sekarang. Jangan sampai Tania melihat. Bawa dia ke lokasi lama. Jangan bunuh, tapi pastikan dia tidak akan pernah berani mendekati putriku lagi. Buat dia menyesal pernah lahir miskin."
Adhi meninggalkan Tania dengan janji untuk bertemu lagi besok. Ia mengendarai motor tuanya, melaju perlahan menyusuri jalanan yang gelap dan sepi menuju rumahnya.
Di saku jaketnya, ia menyimpan sebuah foto kecil polaroid dirinya dan Tania. Ia tersenyum, mengabaikan firasat buruk yang mulai menusuk punggungnya.
Saat ia tiba di persimpangan jalan yang minim penerangan, sebuah mobil van hitam tua tiba-tiba memotong jalannya. Adhi mengerem mendadak, hampir terjatuh.
"Hei! Apa-apaan in—"
Sebelum Adhi sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu van terbuka. Dua sosok besar, jauh lebih brutal dari pengawal Jonathan, melompat keluar. Mereka tidak mengenakan jas, melainkan pakaian preman yang membuat mereka tampak mengerikan.
Adhi mencoba melawan. Ia menendang salah satu pria itu, menggunakan refleks yang ia pelajari dari Kakek Yasser. Namun, mereka terlalu banyak dan terlalu kuat. Sebuah pukulan keras mendarat di pelipis Adhi.
"Duughh .."
Dunianya langsung berputar.
Tak juga membuat Adhi diam, Dua orang preman mendekap bahu Adhi,
"Bugh .. bugh"
Dua hantaman keras diperut membuat Adhi langsung lemas.
Ia merasakan cengkeraman kasar di tubuhnya, dan dalam sekejap, ia diseret ke dalam van.
Sebelum kesadarannya hilang total, ia sempat mendengar salah satu pria itu berkata, "Ini pelajaran dari Nyonya Winda. Kau berani main api dengan orang yang salah, Anak Buangan."
Kata-kata "Nyonya Winda" adalah hal terakhir yang Adhi dengar sebelum kegelapan menelannya.
---
Saat Adhi tersadar, ia berada di ruangan gudang kotor dan kumuh yang lembap. Cahaya masuk hanya dari ventilasi kecil yang berdebu.
Tubuhnya telanjang d**a tergantung dengan kedua tangan terikat keatas diikat dengan rantai baja. Kepalanya berdenyut hebat.
Di depannya, seorang wanita berdiri, siluetnya dikenali Adhi sebagai wanita di mobil mewah dari konfrontasi Jonathan, tetapi kali ini, wajahnya tidak lagi formal. Ekspresinya penuh kebencian dan kepuasan kejam.
"Selamat datang, Adhyaksa," sapa Winda, suaranya manis namun dingin menusuk. Ia berjalan mendekat.
"Anda... Anda Ibu Tania," kata Adhi, suaranya lemah.
"Ya, aku adalah Ibu Tania. Dan aku adalah wanita yang kau tantang ketika kau berani-beraninya menyentuh putriku setelah suamiku memberimu peringatan," Winda berputar-putar di sekeliling Adhi, tangannya memegang tongkat besi yang tebal.
"Kau pikir kau bisa merobek cek Jonathan dan lolos begitu saja? Kau pikir kau pantas mendapatkan putriku?"
Adhi menggertakkan giginya. "Cinta tidak bisa dibeli dengan uang!"
Winda tertawa, tawa yang menusuk telinga. "Cinta? Oh, betapa naif-nya kau, Adhi. Di dunia kami, segalanya bisa dibeli. Termasuk kehormatan putriku. Dan kau, kau adalah noda yang harus dibersihkan."
Winda memerintahkan anak buahnya untuk pergi, meninggalkan Adhi sendirian dengannya. Ia ingin ini menjadi personal.
"Aku akan memberimu pelajaran, Adhi. Pelajaran yang akan kau ingat setiap kali kau melihat wajah Tania. Pelajaran tentang di mana tempatmu seharusnya berada,"
Winda mendekat. "Jadi ini pujaan hati Tania, lumayan bagus," Winda membelai pipi Adhi, lalu membelai Leher dan d**a Adhi.
Jadi badan ini yang disukai putriku,, badan kamu ini bagus. Usiamu masih muda. Sebenarnya sayang kalau harus dirusak dengan cara biasa,” bisik Winda nadanya mendadak berubah menjadi lebih intim dan berbahaya.
"Bagaimana rasanya hemm, kau menikmati sentuhanku" ucap Winda
"Lepaskan tangan kotor mu" hardik Adhi
Winda tidak menggubris perkataan Adhyaksa. Tangan Winda yang lembut, namun terasa dingin, menyentuh pelan kulit Adhyaksa, Ia mengusap perlahan d**a bidang dan perut sixpack Adhi.
“Aku bisa memberikanmu kenikmatan yang tidak akan pernah kamu lupakan, sebelum aku menyingkirkan mu,” bisik Winda, mencondongkan tubuhnya, menyentuh leher dan telinga Adhi.
Jari lentik Winda memainkan n****e Adhiyaksa, Sentuhan yang lembut, kontras dengan kengerian ruangan, menciptakan sensasi yang tak terduga.
Adhi yang terombang-ambing antara rasa sesak dan ketidakberdayaan, tanpa sadar mengeluarkan desahan samar—sebuah campuran dari rasa sakit, ketegangan, dan respons tubuh yang dimanipulasi oleh sentuhan.
Winda tertawa kecil, menikmati kontrol penuhnya. “Ah, jadi kamu suka main begini ya, Bocah?” Ia melanjutkan sentuhannya yang licik, memainkan psikologis Adhyaksa, membiarkan Adhi merasakan sensasi kenikmatan yang terlarang dan membingungkan di tengah penyiksaan.
Setelah beberapa saat, ketika wajah Adhyaksa mulai memerah karena sensasi itu, Winda memainkan jarinya lagi di dua n****e di d**a Adhi, dia mendesah
“Ahh .. ”
Winda tiba-tiba menarik diri. Senyumnya menghilang. Dia mengambil tongkat besi.
Sensasi yang baru saja ia rasakan Adhi, seketika dihantam realita.
JDUAAGHH!
Pukulan tongkat besi yang kuat dan mendadak menghantam d**a Adhyaksa. Siksaan fisik yang brutal kembali menyerang, menghapus jejak kenikmatan palsu itu dalam sekejap.
Adhi itu mengerang, rasa sakit itu menusuk sampai ke tulang.
“Kamu pikir baik baik, b*****t?!” teriak Winda, seakan menyalurkan seluruh amarah karena merasa dipermainkan.
BUGH! BUGH! BUGH!
Winda menghantam perut sixpack Adhiyaksa itu berkali-kali tanpa ampun. Hantaman di otot perut itu terasa seperti ledakan. Adhi memuntahkan darah segar dan cairan lambung.
Tubuhnya berayun liar karena kekuatan pukulan tongkat besi. Akhirnya, ia pingsan, tak bergerak.
Winda mengambil ember berisi air dingin yang sengaja disediakan, dan mengguyurkannya ke kepala dan tubuh Adhi.
Adhyaksa terlonjak, kembali tersadar, menggigil kedinginan dan kesakitan.
Winda yang geram mengayunkan tongkat besi ke sisi kiri dan kanan perut Adhi menghantam dengan keras
DUGH, DUGH DUGH DUGH
Penyiksaan itu dimulai lagi. Winda menggunakan tongkat itu, memukul Adhi secara brutal, tidak hanya pada tubuh, tetapi juga pada bagian-bagian vital.
Setiap pukulan disertai kata-kata penghinaan tentang kemiskinan Adhi, tentang ibunya yang seorang TKW, dan tentang betapa menjijikkannya ia bagi keluarga Wibisana.
"Kau hanyalah sampah yang harus dibuang!" teriak Winda, wajahnya diwarnai kegilaan.
Rasa sakit fisik itu hebat, tetapi rasa sakit mental dari penghinaan itu jauh lebih parah. Adhi, yang selalu menjaga harga dirinya, merasa dihancurkan hingga ke inti jiwanya. Ia tidak menangis, tetapi matanya memancarkan api kemarahan dan kebencian yang akan membara selama bertahun-tahun.
Adhi tergantung lemah, tubuhnya berayun dengan darah menetes dari hidung dan mulutnya membasahi d**a dan.perutnya. Dia tak sadarkan diri antara masih hidup atau sudah mati.
Setelah entah berapa lama, Winda berhenti. Ia tampak puas. "Lepaskan dia di tempat sampah. Biarkan anjing-anjing yang memungutnya," perintah Winda kepada anak buahnya yang baru masuk. "Pastikan dia tidak mati. Aku ingin dia hidup untuk menceritakan rasa sakit ini pada putriku, dan memastikan dia tidak akan pernah berani kembali."
Adhi, dengan tubuh yang remuk redam dan kesadarannya di ambang batas, diseret dan dilempar ke pinggir jalan yang gelap, jauh dari kampus atau rumahnya. Penuh luka, berlumuran darah, dan hampir tidak bernapas.
Ia tergeletak, ditinggalkan seperti sepotong sampah, kenangan akan wajah Winda dan janji balas dendam membekas kuat di benaknya.
Cinta monyetnya telah berubah menjadi teror dan trauma. Babak hidupnya sebagai remaja telah berakhir. Adhi kini adalah Anak Buangan yang dipenuhi dendam.