BAB 3 DILEMA PERASAAN

1012 Kata
Apakah aku boleh menikmati kebahagiaan ini, meskipun sebentar? Pertanyaan itu berputar di benaknya saat ia berjalan pulang. Ketulusan Tania seolah menawarkan jeda, sebuah pelarian kecil dari tekanan finansial dan pengorbanan Ibunya. Adhyaksa tahu, jika ia melanjutkan interaksi ini, ia melanggar semua janji dan nasihat kakeknya. Namun, ia juga merasakan kebutuhan yang kuat, dorongan yang belum pernah ada sebelumnya, untuk kembali melihat senyum itu. Adhyaksa, sang putra yang bertekad kuat untuk sukses, kini dihadapkan pada godaan pertama dan terindah dalam hidupnya: cinta yang tidak memandang status sosial. Ia mengeluarkan ponsel, dan entah mengapa, ia mencari akun media sosial Tania. Ia hanya ingin melihatnya sekali lagi. Saat ia menemukan foto Tania, ia tersentak. Di salah satu foto keluarga, Tania berpose dengan orang tuanya di depan rumah mewah. Ayah Tania, pria berwajah keras dan berwibawa, terlihat sangat familier. Sebuah keluarga yang terlihat harmonis penuh kemewahan, Empat orang berpose dalam gambar foto itu. Tapi Adhyaksa buru-buru menepis pikiran itu. Dia terlalu jauh. Aku harus mundur. Tetapi perasaannya sudah terlanjur maju. Adhyaksa tidak bisa lagi mengabaikan getaran aneh yang menjalarinya setiap kali nama ‘Tania’ muncul di kepalanya. Adhyaksa pulang dengan motor tuanya, menyusuri gang sempit dan setelah sampai dia langsung menuju kamarnya. Dia merebahkan diri merenung semua yang telah dia lakukan dan pengingkaran janjinya pada keluarga. Dilema Perasaan Adhyaksa terus berdebat dalam pikirannya. --- Babak baru telah dimulai, dan bukan hanya tentang buku kuliah dan kode program, melainkan tentang hati yang mulai mencari jalan keluar dari kesepian yang bertahun-tahun ia rasakan. Udara pagi di rumah kayu Kakek Yaseer terasa dingin, namun dapur sudah ramai. Nenek Helena sibuk menyiapkan sarapan, sementara Kakek Yaseer sedang mengasah parangnya di teras, bunyi gesekan logam yang tajam mengisi keheningan. Adhi, yang biasanya sudah sibuk membaca buku, tampak gelisah sambil memainkan kunci motor tuanya. Kakek Yaseer menghentikan pekerjaannya. Matanya yang tajam menatap Adhi. “Ada yang berbeda darimu, Adhi,” Kakek Yaseer memulai tanpa basa-basi. “Kau sering terlambat pulang. Tadi malam, kau bahkan baru makan malam setelah Nenek mu memaksa. Apa kau sudah lupa janji pada Ibumu?” Adhi menghela napas, ia tahu ia tidak bisa berbohong pada kakeknya. “Tidak, Kek. Aku tidak lupa. Aku hanya—“ “Hanya apa? Sibuk dengan urusan kampus yang bukan kuliah? Wajahmu berseri-seri, tapi matamu gelisah. Itu ciri-ciri orang sedang jatuh cinta, atau sedang membuat masalah,” potong Kakek Yaseer, meletakkan parangnya. Ia berjalan mendekat. “Aku... aku sedang dekat dengan seseorang, Kek. Namanya Tania. Dia baik, dia dari Fakultas Hukum,” Adhi mengakui, memilih kata-kata dengan hati-hati. “Mahasiswi?” Kakek Yaseer mengangkat alis. “Sejak kapan aku bilang kau boleh melupakan fokusmu karena wanita? Ingat, Adhi, cinta itu beban, bukan hadiah.” “Aku tahu, Kek. Tapi dia berbeda. Dia tidak menuntut apa-apa. Kami hanya belajar bersama, sesekali minum kopi di kafe. Dia justru memberiku semangat,” bela Adhi. Nenek Helena keluar dari dapur, memegang piring berisi tempe orek. “Sudah, Yaseer. Biarkan Adhi menikmati masa mudanya. Lagipula, kan bagus kalau ada yang menyemangati dia belajar. Dia harus punya teman, bukan robot.” “Teman boleh, Helena. Tapi kalau sudah menyentuh wilayah yang berbeda, itu bahaya,” Kakek Yaseer bersikeras. Ia menatap Adhi dengan pandangan yang meminta kejujuran. “Anak siapa dia? Siapa orang tuanya?” Adhi teringat foto di media sosial yang ia lihat sekilas. Mobil mewah dan rumah besar. Ia memilih untuk berbohong sebagian. “Dia... dia hanya anak orang berada di kota ini, Kek. Tapi dia tidak sombong. Dia sangat sederhana dan ramah. Percayalah padaku,” Adhi memohon. “Aku tidak akan biarkan ini mengganggu kuliahku.” Kakek Yaseer mendesah. “Baiklah. Kakek akan percaya padamu. Tapi kalau sampai ada kabar buruk, atau kau teralihkan dari tujuanmu, kau harus berhenti. Ini janji. Kau tahu betapa pentingnya Ibumu pulang. Jangan buat pengorbanan itu sia-sia.” “Aku janji, Kek,” tegas Adhi, merasa lega namun juga tertekan. Setelah sarapan selesai, Adhi pamit pada Kakek dan nenek nya untuk berangkat ke kampus. --- Siang itu, Adhi menunggu Tania di kafe dekat perpustakaan kota—tempat yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kampus . Tak lama, Tania datang. Ia mengenakan blus putih sederhana dan celana panjang, tampak menawan meskipun tanpa riasan berlebihan. “Maaf telat, Adhi,” sapa Tania, matanya bersinar. “Tadi ada urusan keluarga mendadak sedikit.” “Tidak masalah. Aku baru saja memesan kopi hitammu yang biasa,” jawab Adhi, merasa hangat. Mereka mulai membahas tugas dan mata kuliah. Percakapan mereka selalu mengalir. Tania mengagumi kecerdasan Adhi di bidang logika dan program, sementara Adhi terpesona oleh cara pandang Tania yang idealis terhadap hukum dan keadilan. “Aku bingung, Adhi. Kau pintar sekali, tapi kau terlihat lelah akhir-akhir ini,” kata Tania, menatapnya penuh perhatian. Adhi tersenyum kecut. “Aku hanya lelah mengejar waktu, Tania. Aku harus cepat lulus. Aku punya utang janji pada ibuku. Dia TKW di luar negeri. Aku harus segera menjemputnya pulang.” Tania meraih tangan Adhi di atas meja, gerakan spontan yang penuh empati. “Aku mengerti. Itu janji yang sangat mulia. Kau adalah pria yang sangat berbakti, Adhi.” “Kau tahu, kadang aku merasa bersalah menghabiskan waktu bersamamu. Seharusnya aku kerja sambilan atau belajar di perpustakaan,” aku Adhi, jujur. “Jangan bicara begitu. Waktu bersamaku tidak pernah sia-sia,” Tania membantah, suaranya sedikit emosional. “Kau memberiku perspektif. Aku punya segalanya, tapi kadang aku merasa seperti di dalam sangkar. Keluargaku... mereka sangat protektif. Bersamamu, aku merasa bebas, Adhi.” Meskipun Tania tidak pernah menyebut ayahnya, Adhi tahu dia datang dari keluarga yang sangat ketat. Di saat itulah, Adhi merasa bahwa, meskipun status sosial mereka terpisah jauh, jiwa mereka berada pada frekuensi yang sama. Perasaan itu mengalahkan logikanya. Saat itu, Adhi benar-benar jatuh cinta pada Tania. Sebuah perasaan yang membawa Adhi terhanyut dalam lamunan, "Apakah aku mengkhianati kepercayaan ibu, aku sudah melanggar nasihat nasihat Kakek dan nenek, tapi aku juga butuh perasaan ini" ""Dhi, .. Adhi!!" Tegur Tania dengan menepuk pelan tangan Adhyaksa yang sedang melamun. "Oh, iya Tania, maaf, aku terbawa suasana" jawab Adhyaksa sedikit mencari alasan. "Apakah ada masalah Dhi? tanya Tania dengan penasaran melihat kecemasan dan keraguan diwajah Adhyaksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN