Empat Puluh Empat

1325 Kata

Hari sudah senja dan langit sudah berwarna jingga. Teratai, Galuh, dan Lidya masih berjalan beriringan dengan seorang pria yang menawarkan rumahnya untuk menjadi tempat tinggal sementara. Lokasi rumah pria itu tak begitu jauh dari tempat di mana ia bertemu dengan Teratai beserta kedua dayangnya. Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Rumah pria itu berdindingkan papan kayu dan beratapkan potongan bambu. “Ini adalah tempat tinggalku,” ucap pria itu sambil menurunkan cangkul dan keranjang. “Kalian bisa menginap di rumah itu nanti.” Pria itu menunjuk sebuah rumah yang terlihat sangat mirip dengan rumah tinggal pria itu. “Terima kasih banyak, Tuan,” ujar Teratai. Galuh dan Lidya pun ikut mengucapkan terima kasih. “Kalian boleh masuk. Tunggu sebentar, aku mau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN