Tiga Puluh Delapan

1361 Kata

Teratai, Galuh, dan Lidya duduk di ranjang yang sama. Galuh dan Lidya diam menunggu Teratai berbicara. Mereka memandang gadis tangguh yang tampak cantik dengan jubah putih khas pengantin baru. “Aku rasa semua ini harus berakhir,” ucap Teratai memulai perkataannya. Galuh dan Lidya saling bertatapan dengan mimik heran. “Non, apanya yang harus berakhir?” tanya Galuh penasaran. Ia memandang Teratai dengan penuh tanda tanya. “Hidupku di istana ini harus berakhir,” sahut Teratai pelan. “Kali ini aku menyerah. Aku menemui kalian karena ingin berpamitan.” Teratai melanjutkan perkataannya. Galuh dan Lidya kembali saling bertatapan mendengar apa yang dikatakan nona mereka. “Non, Nona pasti kuat menghadapi ini semua. Tolonglah, Nona jangan sampai mengakhiri hidup Nona,” mohon Galuh. Wajahnya sek

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN