Empat Puluh Dua

1975 Kata

Teratai, Galuh, dan Lidya kembali melanjutkan perjalanan. Tengah hari sudah berlalu. Matahari sudah tak bersinar tepat di atas kepala. Pohon-pohon tinggi yang tumbuh di sisi kiri dan kanan jalan membuat cuaca menjadi lebih teduh. “Apakah kalian sudah lelah?” tanya Teratai kepada Galuh dan Lidya. “Ya, cukup melelahkan perjalanan hari ini, Non,” jawab Galuh sambil menyeka keringat di dahinya. “Kita sudah berjalan cukup jauh. Semoga saja setelah ini kita bisa bertemu perkampungan. Di sana, kita bisa mencari tempat untuk menumpang,” ucap Teratai. “Sepertinya ini adalah jalanan menuju ke pasar.” Lidya bergumam pelan sambil melihat beberapa orang yang lewat. Orang-orang itu membawa keranjang bambu berisi buah, sayur, dan umbi-umbian. “Bukankah pasar ada di sebelah utara?” tanya Galuh sambi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN