Kemarahan Dion

1078 Kata
Tak ingin berlama-lama bersama El, Shafa pun langsung beringsut dari tidurnya. Ya, ia harus membersihkan diri secepatnya setelah itu Shafa juga harus pergi dari sini dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa dengan mereka semalam. "Shafa, mau kemana kamu?" Tanya El dengan suara khas bangun tidurnya. Shafa tampak mencengkeram erat tali tas yang tengah ia gunakan. Melihat El terbangun perasaan nya pun kembali takut. Kini wanita berusia dua puluh lima tahun itu pun memilih menundukan kepalanya, enggan menoleh ke hadapan pria yang telah memberikan kenikmatan pada dirinya semalam. Melihat tak ada reaksi dari Shafa membuat El pun penasaran, sesaat pria itu tampak memperhatikan penampilan Shafa yang sudah rapi dengan tas yang sudah melingkar indah di pundak wanita itu. Oh my god apa Shafa akan meninggalkan nya? Ini tidak bisa dibiarkan, dengan cepat El pun langsung menyibakkan selimut berwarna putih itu, membuang nya secara asal hingga teronggok begitu saja di atas lantai. "Shafa, jawab saya," titah El yang kini sudah berada di depan Shafa, pria itu refleks ingin memegang kedua pundak wanita itu. "Lepas Pak." Shafa menepis kasar tangan El yang sudah bertengger sempurna di pundaknya. Perlahan wanita itu mulai memundurkan langkah nya. "Saya mau pulang," ucap Shafa lirih. Lalu secepat kilat membalikkan badan nya ingin segera pergi dari tempat ini. El yang mengetahui gelagat Shafa hendak pergi pun langsung menangkap pergelangan tangan wanita itu dan kembali menariknya untuk mendekat. "Kita akan pulang sama-sama," ucap El dengan lembut, ia lalu menarik dagu Shafa agar menatap ke arah nya. "Ini salah Pak, kita nggak boleh begini," sentak Shafa kesal lalu memalingkan wajahnya. "Salah?" El pun mengangkat sebelah alis matanya. "Semalam kita lakukan atas dasar suka sama suka Fa, bahkan semalam kamu." Ucapan El pun terputus saat mendengar teriakan Shafa secara tiba-tiba. "STOP!" Teriak shafa cukup kencang. "Kita lupakan kejadian semalam." Shafa lalu menarik nafasnya dalam. "Anggap saja semalam saya dan Bapak tidak pernah melakukan hal itu." Setelah mengucapkan hal itu Shafa langsung berlari cepat meninggalkan kamar hotel yang telah menjadi saksi bisu kemesraan mereka semalam. "SHAFA," bentak El tak kalah kencang, berharap wanita itu mengurungkan niatnya dan kembali ke dalam kamar. Tapi sial rupanya Shafa sudah benar-benar pergi, sebenarnya El ingin menyusul tapi ia pun segera tersadar bawah kondisi nya saat ini masih betelanjang d**a. Tak mungkin ia menyusul Shafa dalam keadaan seperti ini. "Sial, b******k emang!" Umpat El kesal lalu menguyar kasar rambutnya ke belakang. Ia tidak marah pada Shafa, justru El marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya semalam. Andai ia tidak lepas kendali semalam mungkin Shafa tidak akan marah padanya sampai seperti ini. Ya, sepertinya El harus cepat membersihkan diri dan menyusul Shafa sekarang juga. Tak menutup kemungkinan kan Shafa masih berada di sekitar hotel ini. *** Sementara itu Shafa ini tengah berada di stasiun kereta api. Ya, Shafa berencana pulang ke Jakarta dengan menggunakan transportasi ini. Selain dinilai cepat juga biaya yang dikeluarkan relatif murah, mengingat Shafa sudah tak punya uang lebih saat ini. Sejak pertengkaran nya dengan Dion tiga hari yang lalu bahkan Shafa pun pergi tanpa membawa barang-barang berharga dari kediaman pria itu. Saat ini yang Shafa bawa hanyalah sebuah ponsel dan uang tunai sejumlah seratus ribu rupiah. Sejenak Shafa pun tampak memejamkan matanya, tak bisa di pungkiri bayang-bayang malam panas yang ia lalui bersama El semalam nyatanya masih terus melintas di pikiran nya. Shafa merasa bersalah dan berdosa telah mengkhianati suaminya, menghancurkan kepercayaan dalam rumah tangga mereka. Tanpa terasa sudut matanya pun mulai basah mengeluarkan butiran air mata yang mengalir begitu deras, sudut hati Shafa pun kembali berdenyut nyeri. Sepertinya ia harus pulang kerumah sekarang dan bertemu dengan Dion. Ya, sepertinya Shafa hendak mempertimbangan permintaaan maaf Dion tempo hari dan mungkin Shafa juga berniat memperbaiki hubungan rumah tangga mereka. Shafa percaya kesalahan yang Dion perbuat pasti hanya kekhilafan semata, bahkan semalam pun Shafa melakukan hal yang sama b******u mesra dengan pria lain. Setelah melakukan perjalanan selama satu jam tiga puluh menit, kini Shafa pun sudah tiba di depan pintu rumah nya. Ia menghela nafasnya berat. Sejujurnya ia masih ragu melangkahkan kaki di rumah ini apalagi saat mengingat terbongkarnya perselingkuhan Dion tempo hari. Shafa mulai memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam, ia harus membuang rasa sakit hatinya itu anggap saja impas. Ya, dengan begitu Shafa bisa melupakan pengkhianatan suaminya dan mulai menyusun kembali pondasi rumah tangganya yang hampir hancur. "Shafa," panggil seseorang yang kini tengah berada tepat di depan teras rumah Shafa. Shafa pun menoleh dan membelalakan matanya saat tahu siapa yang kini tengah berada di hadapannya. "Pak El," pekik Shafa begitu terkejut. "Ngapain Bapak kesini?" Ketus Shafa kesal, ini tidak bisa dibiarkan suaminya tidak boleh tahu ada pria lain di rumah mereka. "Sebaiknya Bapak pulang, sebelum suami saya tahu," ucap Shafa kemudian hendak masuk ke dalam rumahnya, namun ia urungkan saat tangan pria itu kembali menghalangi nya. "Saya mau bicara sebentar Fa," ucap El dengan suara yang memburu, mencoba mengatur nafasnya. Tak tahukah Shafa sepanjang perjalanan tadi El terus mengebut, mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Bahkan sampai tidak memperdulikan keselamatan nya sendiri, tujuan El hanya satu menemui Shafa dan menjelaskan semuanya. "Nggak ada yang perlu di bicarakan. Saya harap Bapak segera pergi dari rumah saya," usir Shafa ketus, ia lalu menyentak kasar tangan kanan El. "Saya akan bantu kamu," ucap El to the point. Meski menolak El tetap kembali menggenggam erat kedua tangan wanita itu. "Bantu apa?" Tanya Shafa lalu melirik sinis. "Saya nggak butuh bantuan apapun dari Bapak," ujar Shafa kemudian. "Saya akan bantu mengurus perceraian kamu dengan Dion," ucap El dengan sungguh-sungguh. Ia lalu mantap dalam manik mata meneduhkan milik wanita itu. "Saya mengurungkan niat saya untuk bercerai dengan suami saya," ucap Shafa tegas, mencoba melepaskan genggaman tangan El namun tidak bisa karena telapak tangan pria itu terlalu erat menggenggamnya. El tampak menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Dia udah selingkuhin kamu Fa, kamu lupa suamimu telah menghamili wanita lain." El mencoba mengingatkan kejadian beberapa hari lalu yang membuat Shafa tampak murung, bersedih hingga menangis berhari-hari. Agar wanita itu tidak lupa pada tujuan awalnya menggugat cerai sang suami. "Apa bedanya dengan perbuatan kita semalam? Saya memutuskan untuk memaafkan suami saya karena saya pun telah melakukan hal sama seperti dirinya." "Kita beda Fa." El masih terus berusaha meyakinkan Shafa bahwa wanita itu harus tetap melanjutkan rencananya. Shafa menggelengkan kepalanya cepat. "Lepas Pak, kita nggak." Ucapan Shafa pun terputus. "SHAFA, APA YANG KALIAN LAKUKAN?" teriak Dion lalu menatap tajam kedua orang itu. Tak bisa di pungkiri darah Dion pun mendidih manakala melihat kedua tangan sang istri yang tengah digenggam erat oleh pria lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN