SHOCK

1526 Kata
“What are you guys doing there!” hardik Abinawa menatap tajam punggung sahabatnya. Akara menghentikan pagutan bibir tersebut lalu menjauh dari wanita di hadapannya. Detik berjalan, menyisakan suara deru nafas yang memburu. Perlahan tubuhnya memutar. Akara menunjukkan wajah yang datar seolah tak terjadi apapun. “Eh … man! Lo udah dateng?” Akara meninggalkan Ishya yang masih terpegun. Sementara tubuhnya menutupi pandangan Abinawa terhadap wanita disana. Ishya berbalik, kembali menghadap cermin. Kakinya gemetar dan wajahnya tertunduk. Ia begitu shock. Kedua tangannya kini bertumpu di meja menahan beban tubuhnya yang terasa tak bertulang. “Let’s go! Kita ngobrol di ruangan lo,” ujar Akara sambil merangkul pria itu. Akara membawa Abinawa menjauh dari ruangan tersebut. Langkah kaki sang produser membawa Abinawa ke ruang tunggu lainnya. Tiba disana, Akara duduk di sofa single. Sementara Abinawa masih menerka apa yang terjadi di antara Ishya dan sang sahabat. Tubuh Abinawa bersandar pada tepi meja tak jauh di hadapan Akara. Sedangkan pria itu, hanya mengulum senyum sejak mendaratkan bokoongnya. Ia tak mengklarifikasi apapun. “Lo sama perempuan itu ada hubungan?” Belum sempat Akara mengatakan apa yang ingin ia sampaikan, Abinawa langsung menembaknya dengan sebuah pertanyaan mengejutkan. “Belum, sih. Tapi kemungkinan ada,” jawab Akara dengan sedikit candaan. “Maksud lo?” “Adanya doi di proyek film ini supaya gue bisa ajak doi kencan dong! You know that since the first time, I can't stop looking at her.” “...” “As soon as possible gue bakal jadiin dia milik gue,” Deg. Abinawa tersentak. Matanya membulat. Ia tahu Akara seseorang yang memiliki ambisi. Sejak ia mengenal pria itu, Abinawa tahu bahwa apapun yang membuatnya terobsesi, maka akan ia genggam tanpa dibiarkan lepas begitu saja. Dan … membiarkan Akara mendekati Ishya, sama saja menyerahkan wanita itu pada seorang ‘pemain ulung’. Ia tahu sekali gaya hidup seorang Akara. Di balik jubahnya sebagai seorang pengusaha sukses, Akara memiliki sifat sebagai pria dominan. Tentu, tidak semestinya Akara bermain-main dengan wanita muda seperti Ishya Arunika. “Lo gila? Dia masih bocah, bro!” “Bocah mana yang bisa mengimbangi ciuman panas gue tadi?” kekeh Akara membuat gemuruh jantung Abinawa bergenderang kencang. “Gue rasa doi ga sepolos itu.” Gelak tawanya memecah keheningan. Abinawa menggelengkan kepala. Matanya menatap tajam pria yang mencoba menunjukkan keangkuhannya. “Jadi lo libatkan dia di proyek ini karena suka sama fisiknya?” “Yups! One of them.” “Sumpah gue ga ngerti jalan pikiran lo!” Abinawa mencaci. Wajahnya berubah pias entah mengapa. Tak lama, suara pintu berderit. Seseorang mengintip sebelum akhirnya lolos dari balik pintu. “Hai!” Seorang wanita dengan rambut ash brown melangkah. Suara heels-nya berderap mengisi keheningan. Matanya menyapu seluruh penjuru ruangan, hingga irisnya menyorot pada seseorang yang tengah duduk di sofa single. “Abang … lo ngapain disini?” “Lho! Gue yang harusnya nanya? Lo ngapain disini? Sejak kapan lo pulang dari NY?” Wanita itu berdecak sebal. Bola matanya memutar malas. Tak ada gunanya ia berdebat dengan sang kakak yang selalu sibuk memikirkan hal lain. Wanita itu pun berjalan menghampiri Akara yang juga ikut beranjak dari duduk. “Kebiasaan lo adalah … ga pernah liat pesan! Gue udah bilang sejak minggu lalu. Tapi tuh pesan ga pernah centang biru!” gerutu wanita itu dengan menampakkan wajah cemberut. “Serius lo?!” Akara langsung merogoh ponsel lalu mengecek apa yang dikatakan saudara perempuannya. Dan benar saja, pesan singkat dari adiknya itu menunjukkan sebuah tiket pesawat dan jam penerbangan. Namun, karena kesibukan, banyak pesan menumpuk hingga ia tak sadar wanita itu telah mengirim pesan padanya. “Jadi gue hubungi Robert buat kirim penjagaan di bandara.” “Oh! I’m so sorry, my little sist!” Akara merentangkan kedua tangannya, menyambut wanita itu hingga kini ada dalam dekapannya. “I yearn for you, Asena!” “I also, Bang.” ucap Asena dalam dekapan sang kakak. Sementara di sisi lain, Abinawa mengamati pertemuan kedua kakak beradik disana dengan pikiran yang masih mengawang. Ia masih tak percaya apapun yang keluar dari mulut sahabatnya. Bisa saja itu hanya tipu daya Akara untuk membuat Ishya semakin buruk di matanya. Tapi untuk apa sebenarnya Abinawa mengkhawatirkan wanita itu? ‘Damn! Perempuan itu buat gue ga fokus.’ *** Syuting hari ini menjadi aktifitas terberat bagi seorang Ishya. Sejak beberapa saat lalu, ketika pengambilan gambar, wanita itu sama sekali tidak bisa fokus. Ia kerap membuat kesalahan hingga menimbulkan pertanyaan besar di benak sang sutradara. Beberapa hari lalu, Jun melihat potensi yang ada di diri Ishya. Namun, melihat sikapnya hari ini, Jun terlihat sangat kecewa. Di sisi lain, Abinawa memperhatikan wanita yang terlihat linglung sejak bergabung di lokasi utama. Matanya sembab meski tertutup oleh make up. ‘Something’s wrong.’ Tak banyak kata, Abinawa meninggalkan lokasi tersebut ketika Jun memutuskan untuk break selama lima belas menit. Langkah kakinya tertuju pada ruang tunggu di lantai dua. Sementara Ishya keluar menuju pelataran rumah tersebut. Kakinya tergesa, sedikit berlari hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang. “Sorry …” Tanpa mendongak dan memastikan siapa yang ia tabrak, Ishya berlalu begitu saja dan menyisakan kebingungan di wajah pria tersebut. Kakinya kembali membawa Ishya menjauh dari para kru. Tidak sampai beberapa menit, Ishya masuk ke dalam kursi penumpang SUV miliknya. ‘Aaarrghhhh!’ “Shya, kamu kenapa?” tanya seseorang setelah berhasil menyusul wanita itu. “Kak … apa tawaran film ini ada sebuah kesepakatan yang ga aku ketahui?” “...” Dahi Neha mengernyit. Matanya menyipit. “Apa maksud kamu?” tanya balik Neha. Mendengar nada bicara sang kakak, Ishya menebak bahwa Neha tak tahu apapun. “Tidak, Kak.” Ishya terdiam. Ia tak ingin sang kakak mengkhawatirkannya. Apa yang terjadi padanya, Ishya berharap hanya sebuah kesalahan. Akara pasti sudah salah bertindak padanya. Tidak mungkin pengusaha sekelas Akara mengagumi seorang model dengan latar belakang sederhana sepertinya. “Wajah kamu pucat … kamu beneran ga apa-apa?” Ishya mengangguk. “Kak, bisa tinggalin aku sendiri?” “...” Tak ada pertanyaan yang pantas keluar saat mood adiknya seperti itu. Neha keluar dari SUV dan membiarkan Ishya menyendiri. Di tempat lain… “Kamu kenapa, Mas?” Asena menghampiri pria yang kini menyandarkan punggungnya ke sofa ruang tunggu talent. Mata yang terpejam serta tiga lipatan dahi disana, membuat wanita itu menebak ada yang tengah Abinawa pikirkan. “Ada masalah?” tanya wanita itu setelah tak mendapat jawaban. “Ga ada,” jawabnya pelan. Asena yang merasa penasaran, duduk di sisi pria itu lalu menyiku lengan kanannya pada sandaran sofa. Dengan tubuh menyerong, ia memandangi wajah tegas sang kekasih. “Kamu ga mau cerita?” Masih dengan rasa penasaran yang sama, Asena menuntut jawaban kekasihnya. “Belum.” Sejenak hening. “Aku baru tahu kalau lawan main kamu Ishya Arunika, lho.” Abinawa membuka mata, lalu memiringkan kepalanya, memandang Asena dengan lekat. “Kamu tau dia?” Wanita itu mengangguk. “Pernah sekali satu proyek sama dia. Brand make up.” Abinawa justru lebih terkejut bahwa Asena dan Ishya pernah terlibat satu proyek. Dan hal itu tak pernah terdengar ke telinga Abinawa, meski mereka telah sekian lama bersama. “Kok bisa sih dia main film? Ga ada basic loh dia.” ‘Justru itu anehnya. Abang lo pasti punya rencana.’ “Hmmm.” Malas menanggapi, Abinawa menuntaskan percakapan mereka dengan bergumam pelan. Pria itu kembali melihat smartwatch-nya dan sudah waktunya untuk kembali ke lokasi. Ia gegas meninggalkan Asena tanpa sepatah kata. ‘Kenapa tiba-tiba aneh gitu, sih, Mas?’ Eksternal. Kolam renang. Pagi hari. Pasangan pengantin berdiri di tengah kerumunan para tamu untuk menyapa hangat. Pesta di tepi kolam itu memperlihatkan betapa manisnya konsep pernikahan dua sejoli muda disana. Dengan berbalut gaun off-the-shoulder putih. Wedding dress yang dikenakan Yuna memadukan atasan korset satin dengan rok tebal berlayer tulle sutra dua warna serta dikombinasikan dengan puff sleeves. Rambut terurai bergelombang yang dihiasi headband gold leaf membuat Yuna nampak seperti seorang permaisuri. Sementara pasangannya mengenakan suit berwarna senada. Mereka sungguh pasangan yang serasi. Kamera menangkap ekspresi yang tidak wajar. Hingga lagi-lagi suara pekikan menggema. Sutradara menghentikan mereka. Ishya cukup terkejut dan tubuhnya terasa goyah. Mata memerah dan bibir berkedut. Tentu, semua terjadi akibat shock yang ia alami . Pemberitaan pagi tadi sudah cukup membuat hatinya hancur tak berbentuk. Ditambah lagi ia mendapat perlakuan tak baik oleh produser filmnya sendiri. Bagai terjatuh lalu tertimpa tangga pula. Rasanya Ishya ingin menyerah. “Come on, Shya! What’s going on?!” Sutradara Jun menghampiri Ishya yang tengah berdiri di sisi Abinawa dengan wajah pias. “Uncle …” lirih Ishya. Pria paruh baya itu bersitatap dengan Abinawa. Seolah tahu apa yang tengah disyaratkan, Jun meninggalkan lokasi dan diikuti oleh Abinawa. Mau tak mau, schedule diubah. Para kru pun mensiasati agar waktu mereka tak sia-sia. Dari kejauhan ada sepasang mata yang tak suka dengan sikap Ishya. Jadwal syuting jadi diubah karena wanita itu kurang profesional. Tangan bersedekap, wanita disana mencaci dalam hati. Sementara di tempat lain … Jun dan Abinawa berdiri sejajar. “Uncle … lo liat ada yang ga beres ‘kan dari perempuan itu?” “Hmmm. Dia kelihatan linglung hari ini dan kurang fokus.” “Semua penyebabnya adalah Akara.” “Akara?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN