Aldo terpana di ruang pribadi di kantornya. Kantor yang sampai saat ini kepemilikan saham terbesarnya masih atas nama Jihan selaku putri Tunggal dari sang pemilik perusahaan. Aldo sudah menyia-nyiakan kesempatan emas hanya karena tidak mampu mengendalikan birahinya sendiri. “Jadi bagaimana, Pak? Jujur saja, tadi di forum suasananya hampir saja tidak kondusif. Calon klien kita hampir saja membatalkan rencana kerja sama. Untung Bunga pintar memberikan alasan sehingga mereka mau mengulur waktu dan meminta kepastian rapat ulang dalam waktu dua kali dua puluh empat jam.” Aldo mengangguk lemah, “Bunga, saya berterima kasih kepada kamu. Maaf kalau tadi saya mendadak ada urusan keluar kota. Tiba-tiba saja ponsel saya hilang sinyal, jadi saya tidak bisa menghubungi balik. Karena ini juga sangat m

