“Terima kasih untuk hari ini.” Marwa masih menyandarkan tubuhnya di d**a Farhan. Mendekap tubuh bidang itu seraya menikmati film dari layar televisi LED yang tergantung di kamarnya. “Sama-sama, Sayang … Kamu suka dengan kejutannya?” “Suka sekali, Mas. Aku tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya aku hari ini. Tapi aku serius lo, bagaimana bisa kamu membawa mbak Rossa ke klinik kita? Aku sudah berusaha berkali-kali menemuinya, namun aku tetap tidak bisa. Bahkan aku sudah tawarkan endors untuk klinik, tapi mbak Rossanya masih saja sibuk.” “Apa sih yang enggak buat kamu, Sayang … Sudah aku katakan, jangankan Rossa, Celline Dion pun kalau kamu mau bisa aku bawa ke sini.” “Hahaha ….” Marwa terkekeh. “Lo, kenapa kamu malah ketawa?” “Yang benar saja, Mas. Kamu mau bayar berapa Celline Dio

