Farhan memerhatikan wajah Marwa ketika baru saja keluar dari rumah tahanan. Wajahnya tampak masam dan terlihat kesal. Fathan curiga terjadi sesuatu pada Marwa di dalam sana. “Ada apa?” tanya Farhan. “Ternyata laki-laki bajengan itu sangat licik,” lirih Marwa nyaris berbisik. Setelah berpamitan pada petugas rumah tahanan, Marwa pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan bangunan itu. “Maksud kamu apa, Wa.” Farhan kembali bertanya sesaat setelah mereka duduk di dalam mobil. “Ternyata ia memang sengaja menyuruhku ke sana. Ia mencoba menjebakku dan mengancamku, Mas.” “Memangnya apa yang ia katakan?” “Ia menyuruhku mencabut laporanku karena ia merasa yakin aku tidak akan bisa membuktikan apa-apa di pengadilan nanti perihal kematian ayah dan juga perihal percobaan pembunuhan terhadap dir

