Sebuah Pelukan

1706 Kata

“Mbak Camelia serius tidak mau bapak tungguin di kantor?” tanya Tejo sebelum meninggalkan Marwa di sana. “Iya, Pak. Bapak nggak usah tungguin aku.” “Tapi bagaimana kalau mas Farhan nanyain mbak Camelia? Bagaimana kalau nanti mas Farhan marah?” “Mas Farhan nggak akan marah kok. Lagi pula memang maunya aku’kan? Pak Tejo tenang saja, semuanya akan baik-baik saja kok.” “Kalau mbak Camelia mememang yakin, baiklah ….” Marwa tersenyum, “Aku turun ya, Pak.” “Hati-hati ya, Mbak.” Marwa pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung kantor Bachter Cemerlang, PT. Ia berjalan menuju ruangannya. “Selamat pagi, Mbak …,” sapa seseorang. Beliau lebih dahuli bekerja satu tahun dari Marwa. “Pagi … Kenalkan, aku Camelia. Panggil saja Lia.” Marwa mengulurkan tangan. “Aku Ayu, Mbak. Mbak bar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN