Zach menggeliat. Kembali merasakan nyeri yang menyengat pada pundak kanannya. Ruangan yang temaram menyapa penglihatannya. Tapi terlihat sinar matahari menyeruak melalui jendela yang sedikit terbuka.
Ruangan ini sangat asing. Zach berusaha bangkit, bersamaan dengan masuknya seorang gadis yang membawa sebuah baskom dan handuk berukuran kecil.
"Sudah bangun? Syukurlah. Aku akan membersihkan lukamu dan mengganti perban nya." Gadis itu berkata lembut.
Zach bersandar pada sandaran ranjang. Menatap gadis itu. Gadis yang terkesan tomboi dengan gerak-gerik cekatan.
"Namaku Katie. Maaf..." Gadis bernama Katie itu melepas perban di pundak Zach. Membersihkan pundak dan punggung Zach dengan gerakan yang gesit.
Hanya membutuhkan waktu 15 menit hingga perban baru terpasang.
"Makanlah sarapanmu. Dan minum obatnya. Kau akan segera membaik."
"Aku harus pulang, hmm...Katie." Zachary menatap Katie dan Katie menggeleng.
"Tidak sebelum kau membaik, percayalah. Kau tertembak. Lukamu masih bisa mengeluarkan darah dan itu sangat tidak baik." Katie justru menyodorkan nampan berisi sarapan.
Zach menerima nampan itu dan memakannya. Zach mempunyai left hand yang lebih cekatan dari tangan kanannya. Jadi gerakan makannya tidak terlalu menggangu luka di pundak kanannya.
"Istirahatlah. Aku harus pergi sebentar mengunjungi seseorang." Katie melangkah keluar.
Zach mendongak. Menatap pintu yang ditutup pelan oleh Katie. Pundaknya masih nyeri luar biasa. Entah siapa yang berusaha membunuhnya, tapi sungguh...rasa nyeri ini begitu menyiksa.
Zach meneruskan makannya. Berpikir bahwa dia harus cepat pulih dan secepatnya menemui Skyla. Pasti gadisnya itu sangat khawatir sekarang.
Zach meletakkan nampan bekas makannya di nakas dan meminum obat yang di berikan Katie. Rasa kantuk entah mengapa segera menyergap. Zach lelap dalam tidur setelahnya.
Sementara itu Katie mengendarai mobilnya pelan. Mulutnya menyunggingkan senyum sarat makna. Matanya bersinar layaknya singa yang menemukan buruan nya.
Mobil melaju membelah jalanan di tengah hutan Taman Nasional, menuju sebuah rumah.
Katie memarkir mobilnya di pinggir jalan. Dia keluar dari mobil dan melangkah menuju pagar rumah. Membukanya pelan dan menuju pos penjagaan yang di jaga oleh dua orang pengawal berbadan besar.
Setelah berbincang sebentar, seorang pengawal mengantar nya menuju ke pintu rumah.
Katie tersenyum lebar saat tuan rumah sendiri yang membuka pintu.
"Hi, Skyla...how are you?" Katie bertanya dengan senyum manisnya.
"Oh...Hi, Katie. I'm doing good. Come on in." Skyla balas tersenyum. Mereka saling memeluk dan Skyla membawa Katie masuk.
"Banyak sekali penjaga di rumahmu?" Katie mengungkan keheranannya sambil memandang sekelilingnya.
"Begitulah...kami sedang ada sedikit masalah. Sudahlah...apakah ada sesuatu yang penting?"
"Tidak...tidak sama sekali. Aku hanya berkunjung karena tahu kau kembali."
"Baiklah. Kita mengobrol di teras belakang."
Mereka berdua menuju teras belakang dan seorang maid bernama Bertha segera menyajikan dua orange juice dan kudapan.
Mereka berbincang layaknya dua orang teman yang lama tak bertemu. Katie terlihat beberapa kali tersenyum simpul saat Skyla tak menatapnya.
Mata Katie terus saja mengawasi keadaan sekeliling rumah Jacob Castain. Mengawasi setiap pergerakan. Setiap sudut rumah, hingga siang menjelang dan dia memutuskan untuk berpamitan.
Katie mengendarai mobilnya pelan.
"Kau selalu mendapatkan yang terbaik, Skyla. Ini saatnya kau merasakan...semua yang
aku rasakan. Merasakan betapa tidak nyamannya menjadi sebuah bayangan." Katie berbisik miris.
Katie lalu melajukan mobilnya kencang. Debu beterbangan mengiring di belakang mobil.
Laki-laki itu pasti tengah tertidur pulas. Katie tersenyum samar. Obat tidur itu akan membuat pria itu terlelap hingga seharian. Katie akan menahan pria bernama Zachary itu lebih lama. Dan melenyapkan nya kelak.
Adakah kehancuran yang lebih lagi bagi Skyla selain melihat jasad kekasihnya terbujur kaku?
Katie membelokkan mobilnya ke kedalaman hutan Banff. Menelusuri jalanan berbatu dan berhenti di tepian sebuah jurang. Katie keluar dari mobilnya dan berdiri di depan mobil.
Seorang laki-laki keluar dari balik pohon di belakang Katie, lalu berdiri sejajar dengan Katie.
"Apa kabar, Luke?" Katie berranya pada pria itu.
Luke Lukas.
"Tak ada yang bilang dalam pelarian itu menyenangkan, Katie." Luke.
"Sampai kapan? Polisi semakin gencar mencarimu. Kau tidak bisa terus-terusan bersembunyi di hutan ini."
"Bagaimana keadaan Skyla?" Luke mengabaikan kekhawatiran Katie.
Katie mendengus.
"Dia...baik. Tuan putrimu itu di kelilingi banyak pengawal sekarang."
"Aku akan menemuinya malam ini."
"Kau gila atau apa?" Katie menggeram.
Luke menghela napasnya kasar.
"Itu urusanku. Urusanmu adalah laki-laki bernama Zachary itu. Bereskan dia. Tambah dosis yang kau berikan padanya. Buat dia tergantung padamu." Luke mencibir dengan ekspresi dingin.
"Tak usah mengajariku, Luke! Aku lebih tahu hal itu." Katie berkata keras sedikit ditekan lalu mendengus sinis.
"Kita memang partner yang tangguh kau tahu?" Luke terkekeh sambil menepuk bahu Katie pelan.
"Pergilah. Kau membuatku muak." Katie mencebik keras dan menatap Luke tajam.
Luke tertawa sumbang. Namun, dilangkahkan juga kakinya. Beranjak pergi dari tempat itu dan menghilang di kedalaman hutan.
Katie masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya pelan. Melajukannya keluar dari hutan dan berjalan sepanjang jalan menuju rumahnya.
Katie memarkirkan mobilnya di depan rumah dan bergegas masuk.
Pria itu...Zachary William Leandro. Masih tertidur pulas. Katie tersenyum masam. Dia masuk dan membuka nakas dengan kunci yang dia rogoh dari kantongnya.
Sebuah jarum suntik dan sebotol bening cairan diambilnya dari nakas itu. Dengan cekatan dia memindahkan cairan itu ke dalam jarum suntik. Mendekati Zach dan menyuntikkan cairan itu tepat di lengan Zach. Zach terlihat menggeliat dan mencoba membuka mata. Tapi sia-sia. Matanya tak bisa di buka dan dia kembali terjatuh dalam kantuk. Badannya serasa melayang. Tenang dan damai. Seperti berada di hutan dengan air terjun dan pelangi di pusatnya.
Katie mendengus pelan, keluar dari kamar Zach dan menuju kamarnya. Katie merebahkan badannya.
Luke tidak akan berubah. Selalu hanya akan menganggapnya seorang adik. Hanya itu dan tidak akan lebih. Kakak tirinya itu tidak akan pernah tahu bahwa Katie menganggap Luke lebih dari seorang kakak. Kuncup yang begitu di sadarinya saat mereka dipertemukan takdir pernikahan Ayah Luke dengan ibu Katie saat usia Katie 13 tahun. Kuncup itu mekar seiring bertambahnya usia Katie. Berbunga menjadi cinta. Pada pemuda yang menyandang sebagai orang yang tabu baginya, kakak tiri nya.
Namun bunga itu gugur bahkan sebelum mencapai puncak keindahan mahkotanya. Saat Luke menjatuhkan pandangan matanya pada seorang gadis. Teman kuliah Katie.
Skyla Elizabeth Caldwell.
Masa depan dalam angannya seketika itu juga hancur, bersama gugur nya sang mahkota bunga.
Katie...
Catherine Meredith Lukas.
Hanya mampu menapaki hidupnya sebagai bayangan Skyla yang selalu menjadi pusat perhatian. Menjalani hari dengan senyum kepalsuan dan benci yang terpupuk subur. Menghabiskan hari dengan perih saat tahu Skyla akan selalu menjadi pusat dunia seorang yang begitu di pujanya.
Luke Lukas.
Karenanya...
Ketika suatu malam Luke datang dengan sebuah permintaan...hati Katie bersorak. Tak ada yang lebih indah dari kehancuran keduanya. Skyla yang hancur karena kekasihnya dan Luke yang hancur lebur karena Skyla.
Betapa dunia berpihak pada Katie. Mereka datang dengan sendirinya. Datang menghampiri kehancuran mereka sendiri.
Katie memejamkan mata. Mencoba terlelap dengan segala rencana. Beribu kemungkinan yang akan di buatnya bermuara pada kehancuran.
Tinggal menunggu waktu dan dia akan menang atau lebur bersama mereka? Tidak menjadi masalah baginya. Toh...sudah lama dia hancur lebur.
Lelap menjelang sore hari. Lelap dalam kelelahan imajinasi. Membawa Katie dalam mimpi tak bertepi.
-------------------------------
Skyla menatap keluar jendela dengan pilu. Belum ada titik temu dimana keberadaan Zach.
Sudah sepuluh hari dilaluinya dalam tanya. Di mana gerangan Zach berada. Dilaluinya dalam tangis. Hatinya hancur saat melihat Aunty Cherry yang juga selalu menitikkan airmata kekhawatiran semenjak kedatangannya kembali ke Banff sembilan hari lalu. Skyla merasa bersalah saat menatap Uncle Ethan yang begitu gusar dan diselimuti rasa khawatir dengan kondisi Zach.
"Di mana kau, sayang...aku merindukanmu." Skyla berbisik lirih. Bisikan nya membentur sunyi. Terbawa angin menjauh.
Skyla menatap keluar dan memicingkan mata. Menatap seseorang yang berdiri di samping sebuah pohon besar di seberang rumah kakeknya.
Skyla terperanjat dan memegang erat tirai jendela.
Luke!
Luke menatap Skyla dan tersenyum hangat. Senyum yang membuat Skyla menjadi lebih pilu. Rasa bersalah dan kebingungan melanda Skyla.
Luke terlihat begitu terluka. Apakah menghilang nya Zach ada hubungannya dengan Luke?
Skyla bergetar.
"Sayang...ini tehmu." Skyla menoleh dan mendapati Mommynya yang sedang meletakkan nampan berisi teh dan cemilan sore ke atas meja.
"Mommy...aku melihat Luke...di sana..." Skyla dengan suara bergetar menunjuk ke rah sebuah pohon besar di seberang rumah.
Mommynya terhenyak dan segera melangkah menuju jendela. Memeluk bahu Skyla yang bergetar. Mata Mommynya tajam menatap ke arah yang ditunjuk oleh Skyla dan tak menemukan siapapun di sana.
"Kau yakin, sayang?" Hailey bertanya sambil menarik tangan Skyla pelan. Skyla memandang Mommynya yang segera menutup semua jendela dan tirai kamarnya.
"Aku harus bicara dengan Daddymu, sayang...minumlah tehmu, okay?" Hailey mengusap bahu Skyla sambil melangkah keluar.
"Baiklah Mom..."
Skyla duduk dan tak berapa lama dia mendengar Daddy dan para pengawal nya sibuk menelusuri sekitar rumah, jalanan dan pepohonan dan semak di sepanjang jalan
Skyla bergetar. Luke membuatnya takut. Dia...bisa menjadi begitu lembut dan bisa menjadi begitu berbahaya.
Skyla menyesap tehnya. Kepalanya terasa berdenyut memikirkan keberadaan Zach. Siang dan malam. Detik, menit, jam dan hari berlalu. Tak sedetikpun Skyla tak memikirkan Zach. Doa agar Zach baik-baik saja dan segera kembali menjadi ritme hidupnya sekarang. Semangat di awal hari seringkali terpatahkan oleh belum di temukannya Zach di penghujung hari.
Lalu rasa rindu nya. Apa kabar dengan rasa rindu yang menyiksanya? Jangan tanyakan. Itu sangat menyiksa.
Skyla mendengar samar Daddynya telah kembali. Bersama dengan para pengawal yang berbicara satu sama lain.
Skyla menghela napasnya pelan. Hutan Banff adalah tempat yang begitu luas cakupan nya. Bahkan para polisi sudah menyisir area hingga pondok Luke, namun menemukan pondok itu dalam keadaan kosong.
Skyla larut dalam diam...hingga ponselnya berbunyi.
Skyla mengabaikan panggilan telpon itu. Menatap nomor tak di kenal di ID caller.
Sebuah pesan masuk setelah panggilan itu berhenti.
Temui aku di pondok besok jam 09:00. Jangan membawa siapapun. Kau tahu maksudku bukan?
Luke.
Skyla terhenyak. Luke bahkan mengetahui nomo rnya.
Bahu Skyla bergetar menahan tangis. Keselamatan keluarganya dipertaruhkan. Sekali Skyla membohongi Luke dengan membawa sepasukan pengawal atau Daddynya...apalagi kakek nya...maka Luke akan membabi buta melakukan apapun.
Luke...entah mengapa pilu menghampiri Skyla saat menatap matanya. Mata itu memandangnya dengan berjuta cinta. Cinta yang salah datangnya.
Andai Luke mengerti. Skyla bisa mencintainya layaknya saudara. Layaknya kakak laki-laki. Tapi bukan cinta seperti itu yang di minta Luke darinya.
Semua harus di akhiri. Bagaimanapun nanti jalannya. Semua harus segera di akhiri.
Skyla keluar dari kamarnya. Sepi merambat melalui dinding. Semua terlalu lelah menghadapi hari yang begitu berat.
Skyla melangkah menuju teras belakang. Pelan agar tak mencurigakan. Skyla berdiri di samping selasar yang memanjang. Bersikap seakan tengah menikmati pemandangan kebun bunga neneknya yang tengah bermekaran. Matanya menatap sayu pada tembok tinggi dengan rumput tinggi yang terpotong dan terbentuk sempurna menjadi pagar. Dua orang pengawal terlihat melintas. Menatap Skyla penuh hormat dan sejenak mata mereka terpaku mengagumi wajah Skyla.
Skyla tersenyum ramah dan segera saja dua orang pengawal itu meneruskan kegiatan berkeliling rumah kakeknya. Memantau. Mengawasi dan menjaga sesuai dengan perintah Daddynya.
Sepi...
Skyla melangkah pelan. Memastikan semua tengah berada di dalam rumah. Lalu Skyla melangkah menyusuri setapak bebatuan yang sengaja di buat oleh kakek nya di sepanjang kebun. Dengan sigap Skyla meraih handel pintu yang tersembunyi di balik pagar tanaman. Pintu agak berderak karena lama tak pernah di buka.
Skyla menahan napas, dan menyelinap cepat ke arah jalan setapak yang ada di belakang rumah. Skyla menatap sekali lagi pintu di belakangnya.
Katakan dia bodoh, tapi Skyla harus menemui Luke dan mengakhiri semuanya. Skyla merapatkan jaketnya dan memasang tudung kepalanya. Dengan cepat dia berjalan sepanjang jalan setapak dan segera saja menemukan jalan yang agak besar dan sering di lewati oleh para pekerja Taman Nasional Banff.
Tak membutuhkan waktu lama, Skyla berhasil mendapat tumpangan untuk menuju sisi barat danau Louise. Pasangan tua yang memperkenalkan diri sebagai Mr dan Mrs. Drake bermurah hati mengantarkan Skyla hingga jalan di dekat pondok Luke dengan jeep mereka.
Setelah sampai dan mengucapkan terimakasih, Skyla melangkah cepat menyusuri jalan setapak menuju pondok Luke. Pondok yang sangat diingatnya.
Sunyi.
Skyla memandang danau Louise yang terhampar di kejauhan. Pondok Luke terlihat sepi. Skyla berjalan ke belakang pondok dan melihat mobil Luke terparkir di sana dengan ditutup terpal.
Skyla menoleh saat sebuah usapan halus menyentuh pundaknya.
"Luke?"
"Ya, Skyla...ini aku. Apa kau berharapkan kehadiran seseorang selain aku di tempat ini?" Luke bertanya dengan nada sarkasme yang sangat kental. Nada sinis bercampur dengan getar sakit hati jelas terdengar dari suara Luke.
Luke meraih tangan Skyla dan menariknya ke dalam pondok.
Luke membanting pintu dan menarik Skyla hingga menabrak badannya. Skyla terlonjak kaget.
"Apa yang kau inginkan Luke?" Skyla balik bertanya dengan bergetar.
"Kau masih bertanya apa yang aku inginkan? Kau, Skyla...kau yang aku inginkan?" Luke mempererat pelukannya pada Skyla.
"Bebaskan Zachary dan kau akan mendapatkan aku. Aku akan menyerah seutuhnya padamu."
Luke menghempaskan Skyla ke arah sofa di ruang depan pondok. Menindih tubuh ringkih Skyla hingga Skyla gemetar bukan kepalang.
"Apa hebatnya Zachary hingga kau begitu membelanya? Kau bahkan mempertaruhkan hidupmu untuk pecundang seperti dia?" Luke berkata keras.
"Aku mencintainya, Luke. Sangat. Dan kau tahu itu."
Netra berbeda warna milik Skyla menatap Luke nanar.
"Persetan dengan pria bernama Zachary itu. Kau milikku, Skyla. Jiwamu, tubuhmu...", Luke menyambar jaket yang dikenakan Skyla. Mengoyaknya dengan kasar membuat Skyla menjerit.
Skyla meronta namun tangan besar Luke mengungkung Skyla hingga terhempas lagi dan lagi.
Luke menatap bening netra berbeda warna yang berlinang airmata itu. Airmata yang justru membuat Luke semakin kalap. Merenggut baju yang di pakai oleh Skyla dan menghempaskan nya ke sembarang arah.
Angin berhembus melewati celah kayu rumah pondok. Membelai kulit telanjang Skyla. Tubuh Skyla bergetar hebat...
"Lakukan apa maumu Luke..." Skyla berujar dengan bibir bergetar.
Luke menyeringai....
-------------------------------