"Aku sudah mendengar kabar mengenai kemunculan Pahlawan ketujuh. Tetapi aku tidak pernah mendengar gelar Pahlawan Tipu Muslihat sebelumnya. Selain itu level Tuan Arga juga nol. Berbeda dengan Pahlawan lain yang rata-rata memiliki level seratus. Apakah Tuan Arga bisa menjelaskannya?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Maafkan saya, tapi bahkan saya sendiri pun juga tidak mengerti."
Meski kau bertanya kepadaku aku juga tidak mengerti kenapa aku berbeda dengan para Pahlawan lainnya. Aku bisa melihat bahwa Professor itu memasang raut wajah kasihan kepadaku jadi tolong hentikanlah. Selain itu aku juga bisa membaca pikiranmu yang terus menerus mengasihaniku.
"Sungguh anak yang malang."
"Level nol? Bagaimana bisa ada Pahlawan lemah seperti itu. Selain itu, bagaimana bisa orang sepertinya terpilih menjadi seorang Pahlawan."
Begitulah setidaknya pikir beberapa Pahlawan terhadapku. Ya, mereka sudah jelas-jelas meremehkanku. Aku memiliki level nol karena jelas-jelas aku tidak bisa menggunakan teknik beladiri apapun dan sihir. Artinya aku tidak berbakat, bahkan aku tidak mengira bahwa orang sepertiku ini akan terpilih menjadi seorang Pahlawan. Jadi maaf saja karena sudah mengecewakan kalian.
Sepertinya Professor itu sudah pasrah denganku, jadi dia memutuskan untuk melanjutkan pembahasannya.
"Kalau begitu mari kita mulai sesi latihan pertama untuk kalian. Tetapi sebelum itu, tolong pakailah ini terlebih dahulu." Professor Paul menekan-nekan ponselnya.
Kemudian, disaat yang bersamaan muncul sebuah panel semi transparan tepat di hadapanku. Jujur aku sedikit terkejut karena belum terbiasa. Di dalam panel tertuliskan seperti ini [Kamu menerima pesan dari Prof. Paulus. Pesan ini sedang di unduh tolong tunggu sebentar.] Lalu setelah menunggu beberapa saat. Terdapat sebuah file yang mengharuskanku untuk mengklik tombol buka.
"Aku mengirimkan pakaian yang dibuat khusus untuk kalian. Klik tombol buka maka secara otomatis pakaian itu akan terpakai di tubuh kalian."
Tanpa menunggu lebih lama aku dan para Pahlawan lainnya langsung saja mengklik tombol buka yang tertera pada panel. Setelah itu panel di hadapanku menghilang, lalu tiba-tiba saja seragam sekolah yang aku kenakan berubah menjadi pakaian suit hitam ketat dengan garis-garis biru yang menyala.
"Sebuah suit?"
"Suit itu memiliki fungsi untuk meningkatkan stamina dan daya tahan fisik kalian. Atau bisa dibilang pengurang rasa sakit dan penambah daya tahan tubuh, semacam itulah."
"Hee, tidak buruk."
Aku bisa melihat otot-otot Alexander dan Ren Zeran yang terlihat sangat jelas melalui suit ketat ini. Bahkan Hiro yang seperti anak polos juga memiliki bentuk tubuh yang lebih baik dariku. Tubuhku sendiri, sangat terlihat berbeda jauh dari mereka semua. Karena aku jarang olahraga, bukan tubuh berotot yang kudapat melainkan tubuh biasa. Tanpa otot yang berbentuk dan tanpa lemak yang berlebihan. Sangat biasa.
Meski aku kehilangan kepercayaan diriku. Tapi aku bersyukur saat melihat lekukan tubuh Amelia dan Eliza saat memakai suit ketat tersebut. Sangat indah, kurasa suit ini tidak terlalu buruk juga.
"Jika sudah mari kita menuju ruangan pelatihan."
Kami pun dibimbing menuju ke sebuah ruangan yang berbeda. Dimana ruangan tersebut ada beberapa area untuk latihan. Seperti latihan tembak menembak, latihan tinju, latihan lari dan latihan-latihan lainnya. Kami berkumpul disana sambil menunggu penjelasan lebih lanjut dari Professor Paul.
"Baiklah mari kita mulai dari Alexander. Latihan pertama adalah tentang menggunakan revolver. Alexander bidik lah targetmu dengan tepat."
Mendapat urutan pertama, Alexander segera maju ke tempat latihan menembak. Mengambil revolver laser yang diletakkan diatas meja disampingnya, lalu memakai kacamata visual. Dia menyipitkan sedikit matanya lalu mulai menarik pelatuknya. Alhasil, dia berhasil mengenai target tetapi sedikit melenceng.
"Selanjutnya ...," Kata Professor Paul sembari mencatat.
Para Pahlawan lainnya melakukan tahap tembak menembak secara bergilir. Dan yang bisa membidik target dengan tepat adalah Pahlawan Strategi. Kalau tidak salah namanya adalah Ren Zeran, dia sepertinya adalah seorang pekerja kantoran sebelum (dipaksa) menjadi Pahlawan.
Kemudian tibalah giliranku. Aku memfokuskan revolver yang aku pegang dengan arah tujuan target yang berada beberapa meter di depanku.
"Olivia, analisis."
"Jarak target 8,5 meter. Akurasi ketepatan 0,2%. Kecepatan peluru 762 m/s. Peluang keberhasilan dibawah 10%. Oh, ya mengenai kegugupan Tuan adalah 100%."
"Aku sama sekali tidak butuh informasi yang paling akhir."
Setelah menghela nafas untuk sedikit meredakan kegugupanku. Aku kembali memfokuskan revolver pada target di depanku. Dengan keyakinan, aku pasti bisa melakukannya. Ya, tinggal menarik pelatuknya maka peluruku akan langsung mencapai target secara tepat sasaran.
Tidak ingin menunda lebih lama lagi, aku segera menarik pelatuknya. Peluru laser melesat, namun setelah itu aku langsung terpental ke belakang. Aku lupa bahwa revolver laser sekalipun terdapat recoilnya. Bodohnya aku karena ceroboh hingga melupakan informasi dasar—saat menggunakan revolver—seperti itu. Alhasil peluru yang melesat tadi meleset sepenuhnya dari target.
"Tuan Arga, Anda tidak apa-apa?" Professor Paul membantuku bangkit.
"Ya, tidak masalah. Aku hanya sedikit terkejut saja."
Aku benar-benar berterimakasih kepada Professor Paul yang benar-benar baik padaku. Sedangkan para Pahlawan lainnya, hanya ada satu orang yang benar-benar mencemaskanku yaitu Tuan Ren Zeran. Dia segera datang ke arahku sambil memberikan sapu tangannya untuk membersihkan mimisanku setelah terkena efek recoil dari revolver laser.
Bahkan meski mereka tidak mengucapkannya sekalipun aku tahu bahwa di pikiran mereka aku sedang di ejek.
"Tolong lain kali berhati-hatilah, Nak Arga."
"Terimakasih, Om Ren."
Karena aku tidak tahu harus memanggilnya seperti apa jadi aku memanggilnya sesuai dengan perbedaan umur diantara kami berdua. Kupikir dia akan marah tapi dia hanya membalasku dengan senyumnya yang ramah, sungguh sifat yang sangat dewasa.
Latihan berlanjut ke latihan lari, aku kalah telak. Lalu berlanjut lagi ke latihan senam. Hanya perlu beberapa detik untuk membuatku capek dan terkapar di lantai. Lagipula aku memang tidak pandai berolahraga jadi mau bagaimana lagi. Kemudian, sekarang aku telah memasuki latihan tinju.
Aku berdiri diatas ring bersama Alexander. Wajahnya terlihat seperti orang berandal. Tentu saja aku tidak bisa mengelak setiap pukulan yang dia lesatkan. Aku selalu terpukul dan terpukul lagi hingga terjatuh. Alexander muncul sebagai pemenangnya.
"Sialan, bahkan dia tidak mencoba menahan diri sama sekali."
"Bukankah itu karena Tuan yang terlalu lemah?"
"Berisik."
Setelah latihan berakhir pada saat hari mulai senja. Kami para Pahlawan diharuskan untuk masuk ke dalam kamar yang sudah dipersiapkan oleh PBB untuk beristirahat guna melanjutkan latihan pada keesokan harinya. Kamar yang kudapat memang tidak sebesar kamar yang ada di Istana Kerajaan Symphomia tapi kurasa mendapatkan tempat untuk tidur sudah lebih dari cukup.
Aku terbaring lemas diatas ranjang. Seharian ini aku bernasib sial dan gagal diseluruh pelatihan. Aku bertanya-tanya, apakah aku memang tidak memiliki bakat untuk melakukan apapun? Lantas, kenapa aku dipilih menjadi seorang Pahlawan?
Aku melihat ke punggung tangan kananku yang masih memiliki tanda Pahlawan. Mulai meragukannya. Maksudku, aku adalah Pahlawan yang gelarnya saja masih tidak jelas. Tidak ada sejarah yang menyatakan nama, "Pahlawan Tipu Muslihat". Oleh sebab itu, aku menjadi ragu apakah orang sepertiku ini benar-benar seorang Pahlawan?
"Hei Olivia, apa kau tahu berdasarkan apa seorang Pahlawan terpilih?"
"Hmm, menurut data dari memoriku. Pahlawan terpilih karena mereka memiliki hati yang baik dan luhur. Serta memiliki kemampuan yang hebat diatas rata-rata manusia lainnya. Memiliki tekad yang kuat dan ambisius. Seperti itulah."
"Tapi kenapa harus aku? Maksudku, aku bukanlah tipe orang yang memenuhi syarat untuk menjadi Pahlawan. Aku selalu gagal dalam segala bidang, contohnya adalah pelaksanaan latihan sebelumnya. Aku juga seorang pemalas yang selalu rebahan. Tidak ada yang terlihat pantas dariku."
"Bukan hanya Tuan, tetapi sebenarnya aku sebagai AI pembantu juga meragukannya."
"Setidaknya cobalah untuk menyangkalnya AI brengsek."
"Tapi yah, setiap manusia memiliki kelebihan masing-masing, bukan? Meski Tuan ini adalah seorang pemalas, tukang rebahan, dan tidak pandai apapun. Pasti setidaknya Tuan memiliki suatu kelebihan, mungkin. Jika masih belum menemukannya, cobalah untuk mengganti sudut pandang. Jangan hanya melihat kelemahanmu, tetapi cobalah untuk melihat hal baik yang kau miliki."
Aku terdiam sejenak ketika mendengar jawaban tidak terduga dari peri AI ini. Hal yang baik padaku? Sedari dulu aku juga sudah mencarinya tapi tetap saja tidak menemukannya. Bahkan, aku sendiri bingung sebenarnya apa itu kebaikan? Apakah harus selalu melakukan hal yang tidak melanggar norma dan aturan dan aku akan dikatakan sebagai orang yang baik?
Aku tidak terlalu tahu. Tapi jika kelebihan, aku menyadari satu kelebihanku. Hanya saja aku tidak tahu apakah kelebihanku itu bisa dikatakan sebagai hal yang baik atau tidak. Jadi aku bertanya.
"Kalau suatu kelebihan yang aku miliki itu termasuk perbuatan yang tidak baik. Apakah aku bisa menggunakannya?"
"Aku tidak tahu apa yang Tuan maksud tidak baik. Tapi jika Tuan memiliki suatu kelebihan. Alangkah baiknya jika Tuan bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, lagipula bukankah kelebihan manusia itu adalah pemberian dari Pemrogram?"
"Bukan Pemrogram, tapi Tuhan. Yah, aku sudah tahu apa yang harus aku perbuat selanjutnya." Aku menatap lekat Olivia, sambil tersenyum tipis. "Terimakasih Olivia, kau benar-benar sangat membantu."
"Berbahaya, Tuan menatapku dengan tatapan mesum."
"Bukan m***m!! Tapi tadi itu adalah tatapan elegan kau tahu?! Kembalikan rasa kagumku padamu!"
Malam itu aku menghabiskan waktuku untuk mencoba menangkap Olivia yang terbang kesana kemari menghindar. Tapi yah, berkat dia aku bisa menemukan jawaban yang selama ini kucari. Aku akan menggunakan kelebihanku dalam menjalankan tugas sebagai seorang Pahlawan.
Mungkin aku akan dianggap sebagai Pahlawan sampah. Tapi aku tidak peduli, selama aku bisa hidup dengan tenang akan kulakukan segala cara. Bahkan jika itu harus menggunakan kelebihanku yang tercela, yaitu sebuah siasat dan kelicikan.