Chapter 19

1453 Kata
Kedua mataku melebar, sepertinya Amelia juga merasakan hal yang sama denganku. Dia terkejut setengah mati. Sekarang tubuhku tidak bisa bergerak, kakiku terasa berat dan perutku bergejolak seolah-olah ingin mengeluarkan semua isinya. Tekanan yang dipancarkan oleh Keylia terasa sangat mengintimidasi sekali. Bahkan, aku merasa intimidasinya ini mencakup seluruh distrik perbelanjaan. Kak Louisa, Hiro, Tante Flora, Om Ren, Alex, Eliza yang berada di tempat yang jauh. Juga terkejut dengan perubahan energi yang tiba-tiba tersebut. Kekuatan mereka mendadak mengulang dari tubuhnya. Hanya menyisakan cangkang kosong tidak berarti. "A-apa yang sebenarnya terjadi?" dengan susah payah. Kak Louisa melihat ke arah atap supermarket yang bernama H-mart. Dimana di tempat itu adalah sumber semua tekanan ini. Itu bisa diketahui saat melihat udara yang lebih pekat berkumpul di tempat tersebut. "Arga ... berhati-hatilah." Aku melihat perubahan drastis pada Keylia. Terlebih lagi aku tidak menduga bahwa dia adalah Dewa Iblis yang baru. Musuh utama kami semua, musuh dunia, tapi kenapa harus Keylia? Aku tidak bisa menerimanya. Maksudku, dia hanya anak-anak. Tidak lama kemudian tekanan yang kami rasakan menghilang. Akhirnya aku bisa bernafas dengan normal, meski seluruh tubuhku masih bergetar dan berkeringat dingin. Disampingku, Amelia terjatuh duduk. Dia sepertinya masih merasakan efek dari tekanan intimidasi sebelumnya. "Apa maksud semua ini, Keylia?" Kali ini aku tidak melawak seperti sebelumnya. Aku benar-benar masuk ke mode seriusku. "Seperti yang aku bilang, aku adalah Dewa Iblis yang baru. Keylia Blackrose. Aku tidak menyangka jika bertemu dengan Pahlawan disini saat menyebarkan virus. Tapi, aku juga sepenuhnya tidak beruntung. Dengan begini aku sudah tahu identitas beberapa Pahlawan, terutama adalah kalian berdua." Keylia memasang wajah liciknya. Bahkan lebih licik dariku. Aku benci mengakui ini tapi aktingnya benar-benar sempurna. Sangat sempurna hingga aku beneran berpikir bahwa Keylia itu adalah gadis yang bodohnya minta ampun sampai-sampai aku ingin membuat jitak besar di kepalanya. Keylia sekali lagi mengangkat satu tangannya. Lalu dari telapak tangannya, muncul bola hitam yang diselimuti listrik yang berwarna hitam pula. Aku mempunyai firasat buruk tentang ini. BZZT! "Yang benar saja? Kau bercanda, bukan?" Aku berguling ke samping untuk menghindari sengatan listrik yang menyambar dari bola tersebut. Aku melihat tempatku berdiri sebelumnya, itu langsung berubah menjadi hitam pekat. Jika saja aku telat satu detik saja, aku merasa bahwa aku sudah gosong sekarang. Keylia terus menerus menyambarku dengan sengatan listrik itu. Tentu saja aku sudah berusaha menghindarinya. Tapi ada yang aneh, untuk sekelas Dewa Iblis, serangan seperti ini sangatlah lemah. Bahkan aku merasa bahwa aku bisa saja menyerang Keylia saat ini. Hanya dugaanku, apakah itu benar atau tidak aku tidak tahu, tapi apakah Keylia tidak serius dalam menyerangku? "Keylia!" Aku memanggilnya dengan keras. Serangan yang dilontarkan oleh Keylia berhenti sejenak. "Kau, sama sekali tidak serius, bukan?" Aku bisa melihat wajah Keylia yang tersentak. Jika saja dia sudah serius dari tadi, dia pasti sudah bisa langsung membunuhku dari tadi. Tetapi yang aku lihat dia hanya bermain-main denganku, seolah-olah dia menyatakan bahwa aku harus mundur. Tubuh Keylia bergetar, tekanan yang mengintimidasi sekali lagi muncul. Terlebih lagi, tekanan itu menjadi lebih kuat daripada yang pertama. Aku langsung merasakan bahwa aku langsung terjatuh. Mencoba untuk bangun dengan menopang menggunakan kedua tanganku, aku tetap tidak bisa bangun. "Diam!!" Keylia berteriak, kemudian bola listrik hitam yang dia ciptakan semakin membesar. Aku berkeringat dingin, awan tiba-tiba bergemuruh, berubah menjadi mendung, besi-besi yang berada di Distrik Perbelanjaan melayang. Sepertinya tertarik oleh tenaga elektromagnetik yang kuat. Aku melihat wajah Keylia, meski dia terlihat marah. Namun matanya sedikit berair. Aku yakin Keylia tidak ingin melakukan hal ini, karena aku bisa membaca pikirannya. Ya, benar. Dia sangat tidak ingin melakukannya. "Aku tidak ingin ... menjadi orang jahat!" Aku melihat Amelia yang mulai bangkit. Dia merapalkan sihirnya meski tubuhnya terkena tekanan luar biasa ini. Kakinya, ternyata Amelia melapisi kakinya dengan suatu sihir yang membuatnya bisa bangkit untuk berdiri. Seperti Keylia, Amelia juga membuat sihir berskala besar. Itu adalah bola mana yang bewarna hijau, saat menggunakan sihir itu, tubuh Amelia juga diselimuti oleh aura yang kehijauan. Luapan mana, itulah yang terjadi pada Amelia. "Tunggu! Amelia!" "Aku tahu itu!" Amelia mengeratkan giginya. "Tapi aku adalah Pahlawan! Dan dia adalah musuh utama kita. Seorang Pahlawan tidak boleh mengutamakan perasaan pribadinya! Meski menyakitkan, aku akan tetap mengalahkannya." Atmosfer semakin bergejolak. Sihir yang dipancarkan oleh Amelia semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu. Gawat, situasi ini sudah diluar kendaliku. Aku tidak memiliki sihir apapun untuk menghentikan mereka berdua. Aku tidak berguna. "Olivia!" Aku mencoba untuk memanggil Olivia tetapi tidak ada respon sama sekali. Merasakan panas pada bagian tengkuk leher belakang, aku mencoba menyentuhnya dan terkena sengatan listrik. Ternyata, mini-chip mengalami kerusakan dan sinyal error karena luapan mana dari mereka berdua. Terpaksa aku harus berpikir sendiri dalam situasi ini. Disisi lain, Amelia menerjang. Meski sedikit terlambat, Keylia juga ikut menerjang. Jika dibiarkan maka mereka berdua akan segera beradu serangan. Melihat pemandangan itu, hatiku kembali bergejolak, adrenalin dipompa dengan deras, waktu mendadak menjadi lambat sekali. Lagi-lagi sama seperti sebelumnya, tubuhku bergerak sendiri tanpa kusadari. Aku berlari, berlari, berusaha menggapai mereka berdua. Aku tahu bahwa aku juga seorang Pahlawan. Tapi aku ingat dengan apa yang Kak Louisa katakan kepada Alex sebelum kami magang. "Pahlawan harus memiliki hati yang kuat. Bukan hanya berarti melindungi dan menyelamatkan. Tapi mereka juga harus memiliki hati yang kokoh, dan bisa menilai lingkungannya dengan baik." Karena aku sangat pintar, aku bisa mencernanya dalam sekali dengar. Artinya yang ingin disampaikan oleh Kak Louisa adalah, aku harus berpegang teguh dengan suara hatiku. Pahlawan tidak boleh bimbang saat ingin mengambil keputusan, dan mereka juga harus bisa melihat hal yang baik dan benar di lingkungan mereka berada. Saat ini hatiku berkata, aku ingin menghentikan mereka berdua. Dan aku menganggap bahwa tindakanku ini benar, maka aku harus melakukannya. Dengan segenap tenaga aku berlari, semakin cepat dan, semakin cepat. Disaat itulah aku merasa bahwa terdapat perubahan yang cepat pada tubuhku. Tiba-tiba saja, otakku merasakan sengatan listrik yang sangat kuat hingga menjalar di seluruh tubuhku. Mataku bersinar biru, tubuhku diselimuti oleh percikan listrik yang aku tidak tahu apa penyebabnya. Dalam sekejap, aku menghilang. Tidak, bukan menghilang. Tapi aku bergerak sangat cepat bahkan lebih dari kecepatan cahaya Hiro. Aku menabrak Amelia, karena aku tahu jika dia beradu sihir dengan Keylia. Itu hanya akan berakhir dengan kekalahan Amelia. Keylia adalah Dewa Iblis, sihir kegelapannya pasti jauh lebih unggul daripada Amelia yang masih tergolong amatir dalam menggunakan sihirnya. "A-Arga?" Aku bisa melihat wajah Keylia yang terkejut. Kemudian aku menggunakan Iron Gauntlet untuk menahan bola listrik hitam milik Keylia. BOOM! Sekali lagi udara bergetar, sebelumnya Iron Gauntlet milikku sudah pernah rusak sekali. Dan meskipun sekarang aku sudah bisa menggunakannya, sebenarnya itu belum seratus persen diperbaiki. Dalam artian lain belum selesai. Melihatku yang menahan sihirnya dengan tangan kosong, Keylia segera menghilangkan sihirnya tersebut. Aku tersenyum penuh kemenangan meski darah mengucur keluar dari mulutku. "S-sudah kuduga, kau pasti menahan diri." "Kau ...." Padahal aku tidak menerima sihirnya secara langsung tetapi dampaknya menyalur sampai diseluruh tubuhku. Aku melihat ke arah Amelia, sepertinya aku terlalu berlebihan ketika menabraknya tadi. Kurasa dia hanya tidak sadarkan diri setelah menggunakan sihir besar seperti tadi. Keylia mengambil beberapa langkah mundur ke belakang. Sementara aku memegang tangan kiriku yang kesakitan. Aku bisa menebak, bahwa tulangku akan retak untuk kedua kalinya, atau bahkan lebih buruk lagi. "Kenapa kau berbuat sejauh itu?" "Itu pertanyaan yang sama untukku. Keylia, kenapa kau bisa menjadi Dewa Iblis?" "Itu sama sekali bukan urusanmu!" "Itu urusanku! Karena kau telah meminta tolong padaku. Dan aku sebagai seorang Pahlawan, tentu saja akan menolongmu!" Benar, suara pikiran minta tolong Keylia ketika kami pertama kali bertemu sangatlah dalam dan menyakitkan. Aku berasumsi bahwa dia telah menyembunyikan rahasia besar dalam hatinya. Ada alasan juga dibalik dia yang menyebarkan virus di Distrik Perbelanjaan, bukan karena tidak sengaja, tapi disengaja Meski begitu, aku ingin mengetahuinya. "Keylia ...!!" "Aku tidak bisa memberitahumu." Ketika menjwabnya, wajah Keylia menggelap. Tekanan yang sangat mengintimidasi terjadi lagi. Untuk kedua kalinya, aku terjatuh ke tanah seolah ditarik oleh gaya gravitasi yang sangat kuat. Di depanku, Keylia membuat bola hitam di tangannya. Berbeda dengan bola sebelumnya yang diselimuti oleh percikan listrik hitam, bola itu tidak memilikinya. Aku hanya tersenyum lesu, tidak menduga bahwa kehidupanku akan berakhir disini. Tapi, untuk terakhir kalinya. Aku ingin mengatakan ini padanya. "Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan, tapi pasti Keylia memiliki suatu alasan. " Dengan segenap kekuatanku, aku berhasil bangkit. "Tapi ... aku adalah seorang Pahlawan. Tugasku adalah menyelamatkan orang lain secara tuntas, meski dia adalah Dewa Iblis sekalipun. Oleh sebab itu ...." Aku menatap lekat-lekat pada matanya. "AKU PASTI AKAN MENYELAMATKANMU! TUNGGULAH SEBENTAR LAGI ... KEYLIA!!!" Dengan lantang aku meneriakannya. Kedua mata Keylia melebar, air mata mulai merembes di wajahnya. Tidak lama kemudian, pandanganku dipenuhi oleh kegelapan. Aku tidak tahu apakah itu pengaruh dari sihir Keylia, hanya saja pada waktu itu. Aku merasa bahwa detak jantungku berhenti dalam sekejap. Seluruh dunia terasa terdistorsi, hanya ada warna gelap tanpa secercah cahaya sedikitpun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN